Baliho Caleg

hari ini saya mengajak mahasiswa untuk berdiskusi mengenai topik yang sedang hangat saat ini: caleg.

pekerjaan seorang praktisi PR bermuara kepada citra dari pihak yang ia wakilkan, baik lembaga maupun perorangan. bagaimana ia mampu mendesain kampanye yang menimbulkan citra positif yang menguntungkan kliennya.

para caleg yang bertarung memperebutkan kursi di legislatif, mau tak mau harus memperkenalkan diri kepada masyarakat. bagi mereka yang baru menceburkan diri ke dunia politik, umumnya menganggap baliho adalah cara terbaik untuk dikenal oleh masyarakat.

mahasiswa yang hadir dibagi ke dalam dua kelompok besar, yang menjadi pihak pro dan kontra terhadap: “pemasangan baliho caleg: cara terbaik untuk menimbulkan citra positif”.

dari diskusi yang berjalan, walaupun tampaknya mahasiswa belum sepenuhnya paham terhadap konsep “pencitraan diri”, mahasiswa dapat memberikan argumen-argumen  yang cukup meyakinkan, di antaranya:

pro:

  • baliho merupakan bentuk sosialisasi awal untuk mempermudah orang mengenal caleg
  • baliho relatif murah karena tidak dipungut retribusi oleh pemda setempat kecuali bila dipasang pada billboard permanen
  • biaya baliho relatif murah dibanding biaya turun langsung ke masyarakat terpencil
  • dengan tampilan yang menarik bahkan foto-foto sensasional, akan mudah diingat orang

kontra:

  • baliho sudah terlalu banyak, sulit mengenalinya satu sama lain dalam waktu sekilas
  • tidak dapat menunjukkan pribadi, pengalaman, dan prestasi maupun prestasi caleg
  • sering dipasang di tempat-tempat yang menyalahi peraturan

apa pendapat anda?

lantas, mana yang paling tepat?

tidak ada.

dalam beberapa kondisi, pemasangan baliho bisa jadi pilihan terbaik, namun dalam kondisi lain, ada cara lain yang lebih tepat. yang paling penting, seorang praktisi PR – dalam hal ini mereka yang tergabung dalam tim suskes sang caleg – perlu memahami khalayak publiknya. citra seperti apa yang perlu ditunjukkan untuk mendapatkan citra positif di mata mereka. sehingga yang perlu terlebih dahulu ditentukan adalah: khalayak publik yang mana?

adalah mustahil bagi seorang caleg untuk disukai semua orang. sehingga, perlulah bagi praktisi PR dalam tim sukes itu untuk memahami:

  • karakteristik sang caleg; masyarakat biasa dengan pendidikan SMA? tokoh masyarakat yang disegani kelompok tertentu? mantan pejabat yang pernah mencicipi berbagai jabatan? seorang akademisi bergelar profesor?

sebagai contoh, seorang caleg yang selama ini dikenal sebagai petinggi organisasi politik,  muncul dengan foto berkostum spiderman di balihonya. tindakan seperti ini hanya akan menimbulkan cemoohan orang-orang, dan membuat wibawanya jatuh. akan jauh lebih berkelas apabila ia memilih, misalnya, melakukan debat publik di TV/radio lokal.

contoh lain, seorang caleg yang latar belakang pendidikannya SMA dan berpenghasilan rata-rata, tak akan mampu menggelar seminar yang dihadiri oleh para mahasiswa. akan lebih tepat jika ia memasang baliho/poster di sekitar tempat tinggalnya. sehingga paling tidak, keluarga, tetangga dan orang-orang dekat lainnya mengetahui bahwa yang bersangkutan mencalonkan diri untuk duduk di legislatif.

mereka yang berada dalam jajaran tim sukses juga perlu memahami:

  • karakteristik khalayak publik; kalangan muda yang menyukai seni hiburan? orang-orang tua yang kolot? ibu-ibu majelis ta’lim?

setiap caleg perlu memikirkan khalayak publik yang seperti apa yang kelak paling memungkinkan untuk diwakili suaranya oleh sang caleg apabila lolos untuk duduk di kursi legislatif.

lazim kita jumpai baliho yang walaupun sekilas, menampilkan visi/misi caleg. contohnya: “perjuangkan hak ibu dan anak”. pemilik baliho yang seorang perempuan muda tampaknya menyadari, akan lebih mudah baginya memperjuangkan aspirasi masyarakat yang ia ketahui betul dan alami sendiri sebagai seorang ibu yang memilliki anak, sehingga khalayak publik utamanya tentulah yang serupa: kaum ibu.

di luar kedua hal di atas, secara pribadi saya berpendapat baliho sangat bermanfaat apabila ditinjau dari segi kedekatan kita dengan sang caleg. maksudnya begini, di antara ribuan caleg yang bertarung, tak banyak di antara orang awam yang betul-betul punya pilihan mantap sejak awal. bukan mustahil kegamangan itu masih terjadi ketika mereka masuk ke bilik suara. ditambah lagi kenyataan bahwa masih banyak orang yang belum paham perbedaan-perbedaan yang muncul kelak saat memilih, dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.

nah, kedekatan yang saya maksud adalah, seberapa kita tahu dan kenal dengan wajah yang terpampang di baliho. saya sendiri beberapa kali terkaget-kaget ketika melihat baliho di jalanan.

lho, itu kan mantan guru saya waktu sd!

eh, itu kan kakak kelas saya!

ya ampun… si ABC nyaleg juga rupanya!

ketika nanti harus memilih,  saya, juga Anda, masih bingung hendak mencentang siapa, tentu yang terlintas di pikiran kita adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan kita itu tadi.

hanya saja, apabila pencitraan diri lewat baliho dapat ditampilkan dengan baik, daya ingat kita tentu akan sangat terbantu. makanya, untuk hasil terbaik, bikin baliho juga tak bisa asal jadi, asal pasang :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s