Identitas dan simbol

Menjelang libur akhir tahun lalu, saya memberikan tugas untuk mahasiswa membuat sebuah prototipe barang atau sekedar desainnya pun jadilah, yang bisa menunjukkan identitas tempat mereka berkuliah. Bisa berupa apa saja, entah itu kalender, jaket, apa sajalah yang mungkin terpikirkan oleh mereka. Saya ingin melihat kreativitas mereka. Syaratnya hanya satu, dengan melihat barang tersebut, orang awam bisa langsung mengenali darimana asal mereka.

Hari berlalu, dan mereka pun maju ke depan untuk presentasi. Kelompok pertama membuat gantungan kunci berbentuk seragam harian mereka (foto di bawah, kebetulan belakangan saya juga kebagian :) ). Gantungan kunci ini akan mereka produksi sebagai souvenir, semacam tanda terima kasih bagi mahasiswa yang bersedia mengisi comment card. Comment card ini sendiri adalah semacam formulir yang bisa diisi oleh mahasiswa yang ingin berikan kontribusi kepada buletin berkala intern kampus.

Ide yang menarik. Ide sederhana yang sangat mungkin direalisasikan tanpa kesulitan berarti.

Saya berharap ada kejutan ide lain yang tak kalah bagus. Salah satunya, ide agar mereka punya bis sendiri. Oh, tak ada yang salah dengan keinginan ini. Cuma, kenapa harus mempresentasikan gambar bis bertingkat? Ingin membuat saya terkesan atau hanya sekedar lelucon? Karena semua juga tahu, tak ada bis bertingkat di sini.

Ketika ditanya, jawabannya enteng, “Yang penting, kan ngajukan dulu. Masalah nanti dipenuhinya bis apa, ya itu urusan nanti.”

Oh, really?

Ada lagi yang mengusulkan supaya program studi mereka memiliki logo sendiri. Karena mereka merasa penempatan dua logo sekaligus (logo pemda dan logo universitas) di seragam, kop surat dan benda-benda lainnya terlalu ramai . Saya cuma bisa manggut-manggut berhubung tak berapa paham soal kebijakan begini. Mereka pun menunjukkan emblem logo yang sudah jadi siap dipasang.

Saya jadi curiga lalu bertanya, “Memangnya logo ini kelompok kalian yang buat sendiri?”

Dan mereka pun menjawab dengan polos, “Bukan, Bu. Yang buat kakak angkatan kami.”

Hampir pecah tawa saya. Walhasil saya cuma bisa menegur mereka. Yang diharapkan adalah kreativitas mereka sendiri, kenapa malah menunjukkan hasil karya orang lain?

Satu lagi kelompok yang membuat saya tertegun, nyaris tak bisa berkomentar. Mereka melontarkan ide untuk membuat patung. Ya, patung! Patung mereka untuk dipasang di gerbang masuk. Pria dan wanita. Di sisi kiri dan kanan.  Alternatifnya adalah membuat tugu di halaman.

“Kenapa ngga buat banner vertikal saja. Buat ukuran besar-besar begitu. Biar kelihatan. Lagipula pembuatan patung kan bukannya murah,” komentar saya.

“Kalo banner kan udah biasa, Bu. Kalau patung kan orang pasti akan merhatikan.”

Ah, sesederhana itukah alasan mereka? Saya jadi teringat kembali kebiasaan pejabat-pejabat kita yang senang membuat sesuatu yang tinggi nilai simboliknya saja, tanpa memperhatikan sisi fungsionalnya. Apakah mereka ini akan menjadi sosok-sosok yang serupa jika nantinya jadi pejabat? Kok ngenes ya rasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s