Plagiarisme di kampus

Di bawah ini tulisan lama saya tahun 2009, dari blog lama yang sudah dihapus. Tapi sayang juga kalau dibuang, karena ternyata kondisinya tak berbeda jauh dengan hari ini…

 

saya dan teman-teman dosen di kampus, seringkali cuma bisa mengeluh ketika menemukan mahasiswa yang sekedar copy-paste alias menyalin tulisan orang lain ke dalam tugas mereka. padahal sudah dipesankan sejak awal, bahwa hendaknya mereka mempunyai pemikiran sendiri, dan silakan mengutip hasil karya orang lain, asalkan disebutkan referensinya. entah ya, sepertinya mereka tidak paham.

buktinya tak jarang yang saya dapatkan adalah tulisan dari skripsi orang lain, bulat-bulat. bahkan tidak diedit sama sekali. biasanya hanya kebetulan mengandung beberapa kata yang sesuai dengan perintah tugas. saya pikir, mereka terlalu percaya pada mesin pencari. begitu mendapatkan hasil berdasarkan kata kunci, itulah yang mereka salin, cetak, lalu diserahkan kepada dosen, tanpa membacanya terlebih dahulu apakah menjawab pertanyaan tugas dan mempunyai relevansi yang diperlukan.

pernah satu kali kejadian, tulisan yang disalin mahasiwa saya berbahasa Malaysia, dan ia tidak menyadari hal itu! sampai ketika saya tanya di depan kelas, ia tetap mengelak dan mengatakan itu hasil karyanya sendiri. malu mungkin. konyol sekali, semua tentu bisa membedakan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu! bahkan melayu yang ada di Indonesia pun tak serupa kosakatanya.

kalau sudah begini, saya pribadi hanya bisa meminta mereka mengulang tugas. jika tak ada perubahan, atau tak jua saya terima hingga tenggat waktu, ya sudah, nilai yang bicara. berat sebetulnya, karena saya merasa seperti sia-sia mengajar karena mereka tak paham apa yang saya maksud. pun, mereka enggan bertanya.

menarik ketika saya baca berita di bawah ini, sambil berharap kapan kiranya di Indonesia bisa tegas memberlakukan ini….

Plagiarisme dideteksi ketat di perguruan tinggi di Australia. Untuk meminimalkan tindakan plagiat dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, perguruan tinggi menyediakan perangkat lunak (software) pendeteksi dugaan plagiat.

Perangkat lunak tersebut bisa mengetahui kadar penjiplakan karya yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa. Hal itu membuktikan bahwa ketatnya aturan soal plagiarisme yang diterapkan di perguruan-perguruan tinggi di Australia merupakan salah satu poin yang ditonjolkan Australian Education International (AEI) di Indonesia saat kunjungan Kompas ke sejumlah perguruan tinggi di Melbourne dan Brisbane pada Juni lalu.

Kebijakan tidak kompromi dengan plagiarisme itu demi menjaga integritas akademik di perguruan tinggi, mulai dari staf, dosen, hingga mahasiswa. Berkembangnya teknologi internet yang kaya sumber informasi dan diakses gratis bisa semakin menyuburkan plagiarisme di dunia akademik. Dengan copy-paste, plagiat karya, baik beberapa bagian paragraf, ide, maupun keseluruhan karya, semakin mudah dilakukan.

Tanda tangani pernyataan
Kebijakan perguruan tinggi yang antiplagiarisme itu disebarluaskan secara terbuka kepada mahasiswa sejak awal. Implementasi sehari-harinya dalam kehidupan kampus dengan membuat surat pernyataan tidak melakukan tindak plagiat.

”Tiap kali pengumpulan tugas, mahasiswa mesti menandatangani formulir khusus. Isinya menyatakan, kita tidak melakukan plagiat dalam pengerjaan tugas,” tutur Andre Yohanes Rumenta, mahasiswa jurusan Pemasaran di Universitas Deakin, Melbourne, Australia.

Pemanfaatan internet dalam perkuliahan dan komunikasi dosen-mahasiswa di perguruan tinggi Australia sangat intensif. Setiap mahasiswa memiliki akun untuk bisa terkoneksi dengan berbagai fasilitas di kampus, termasuk dalam pengiriman tugas-tugas kuliah.

”Tugas kuliah seperti esai yang dikirim secara online langsung bisa terdeteksi berapa besar plagiatnya. Kadang-kadang kita tidak merasa plagiat, tanpa disadari ada kalimat yang dideteksi plagiat,” ujar Nitya Wityasmoro, mahasiswa dual degree atau gelar ganda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang kini berkuliah di Universitas Melbourne.

Kadar persentase plagiat dari karya tulis mahasiswa yang dikirim secara online itu antara lain bisa dideteksi dengan perangkat lunak TurnItIn, yang cukup populer di dunia. Pendeteksian itu, misalnya, bisa merespons jika esai mahasiswa ternyata hasil mencontek dari temannya atau sumber lain.

Andre punya kiat agar terhindar dari dugaan plagiat. Saat hendak mengirimkan tugas kuliah secara online, dia langsung bisa tahu berapa persen dari tugasnya yang diduga plagiat.

”Saya coba untuk perbaiki lagi dengan kalimat sendiri. Pokoknya, berusaha seorisinal mungkin dari buah pemikiran kita sendiri,” kata Andre.

Mahasiswa pun akhirnya terpacu untuk bisa mengolah sendiri kalimat-kalimat hasil pemikiran mereka dalam pembuatan karya tulis. Jika mengutip dari sumber lain, mahasiswa mesti secara jelas mengakuinya dengan mengikuti kaidah-kaidah pengutipan atau pemanfaatan hak atas kekayaan intelektual.

Sanksi untuk mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat bisa dikatakan tegas, mulai dari teguran hingga dinyatakan tidak lulus. Mahasiswa itu akan dimintai penjelasan terlebih dulu untuk mengetahui mengapa karyanya bisa terdeteksi plagiat.

”Biarpun aturan plagiat di kampus keras, ada saja mahasiswa yang melakukannya. Tetapi, karena sanksinya tegas dan tidak pandang bulu, lebih baik jangan main-main dengan plagiarisme. Kebijakan itu juga untuk membantu mahasiswa bisa jadi orang jujur dan bertanggung jawab,” kata Dimas Wisnu Adrianto, penerima beasiswa Pemerintah Australia di Universitas Queensland, Brisbane.

Sumber : KOMPAS

 

seperti yang saya duga, dalam artikel lain, disebutkan pula bahwa mahasiswa memang kurang pemahamannya mengenai plagiarisme…

Plagiarisme mungkin saja tak bisa dihilangkan sama sekali. Adanya software pendeteksi plagiarisme juga bukan jaminan meniadakan 100 persen peniruan atau penjiplakan karya yang dilakukan orang-orang berpendidikan tinggi di Australia.

Namun, upaya untuk meminimalkan plagiarisme di perguruan tinggi, mulai dari jenjang diploma hingga doktor, harus terus dilakukan. Informasi itu gencar dilakukan tiap kampus lewat website mereka atau pelatihan kepada staf kampus.

Seperti di website Center for the Study of Higher Education Universitas Melbourne, pedoman untuk meminimalkan plagiarisme di kalangan akademik Australia cukup lengkap. Pemahaman yang komprehensif itu utamanya harus dimulai dari staf dan dosen.

Untuk bisa membuat antiplagiarisme berjalan dengan baik, kebijakan itu harus merupakan kolaborasi di setiap level kampus dan individu di dalamnya. Pendidikan untuk mahasiswa tentang konvensi kepengarangan dan penghargaan hak atas kekayaan intelektual terus disosialisasikan.

Plagiat itu beragam bentuknya, seperti mencontek saat ujian dari mahasiswa lain, menggunakan catatan yang tidak diperbolehkan, atau pertolongan lain. Bisa juga mengunduh informasi atau material lain dari internet dan mempresentasikannya sebagai milik sendiri tanpa mengakuinya.

Dari kajian yang dilakukan, ada beragam alasan mahasiswa untuk plagiat. Bisa karena tekanan individu untuk sukses dan takut gagal, harapan untuk dihargai, atau adanya kesempatan untuk tidak jujur.

Dalam menjalankan kebijakan antiplagiarisme itu, perguruan tinggi tidak berfokus untuk menangkap dan menghukum mahasiswa. Pencegahan dinilai lebih baik.

Oleh karena itu, pada tahun pertama kuliah mahasiswa lokal dan internasional diberi pemahaman yang mendalam soal plagiarisme. Bahkan, mahasiswa yang punya kesulitan belajar diminta untuk mendapat bantuan di unit pelayanan mahasiswa yang disediakan kampus.

Sering kali mahasiswa terbatas pemahamannya soal plagiarisme. Mahasiswa perlu diberi keterampilan untuk menyimpulkan, membuat paragraf, membuat kutipan, hingga menggunakan referensi. Selain itu, mereka juga perlu diajari soal manajemen waktu, beban kerja, dan manajemen stres.

Software pendeteksi plagiarisme hanyalah alat. Yang terpenting, dosen dan staf tidak jera untuk membangun sikap antiplagiarisme di lingkungan perguruan tinggi.

Sumber : KOMPAS

 

memang, banyak kesalahan yang kita lakukan karena kita tak tahu. sulit juga menyalahkan mahasiswa ketika mereka sendiri tak paham apa yang mereka lakukan itu adalah kecurangan. repotnya lagi, mereka sering tak punya keterampilan yang memadai untuk menulis.

saya jadi berpikir, bukankah hal-hal seperti ini yang harusnya dipelajari mahasiswa baru ketika mereka menempuh orientasi kampus? saya coba mengingat-ingat kembali, rasanya tak satu pun ilmu baru yang melekat di saya ketika menjalani orientasi saat jadi mahasiswa baru dahulu. yang teringat hanya penataran P4 yang membosankan :D

ya, saya pikir memang perlu ada mata kuliah khusus, atau setidaknya kelas khusus untuk mahasiswa baru yang mempelajari soal tulis menulis. bukankah nantinya mahasiswa juga wajib menulis skripsi untuk bisa lulus? tentu sebaiknya mereka juga terbiasa menulis dengan baik dan benar dalam mengerjakan tugas, jangan hanya kebingungan ketika waktu untuk menulis skripsi tiba dan ujung-ujungnya… plagiarisme. mau dibawa kemana negara ini kalau mahasiswa yang katanya agent of change hanya bisa menjiplak tanpa kreativitas?

3 thoughts on “Plagiarisme di kampus

  1. Saya sangat setuju sekali dengan tulisan diatas, memang isu plagiarisme sudah menjadi rahasia umum dunia civitas Indonesia saat ini. Bahkan mungkin diantara kita juga termasuk dalam penganut paham plagiarisme tersebut (sambil menunjuk diri sendiri). Hehehhe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s