Soal Dini, perempuan dan menikah

Posting ini didedikasikan khusus buat Dini yang kemarin melepas status lajangnya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama lelaki pilihannya. Dini yang saya kenal adalah seorang perempuan yang kalau meminjam tagline iklan, kutahu yang kumau (eh, iklan apa tuh, ya?).

Saya kenal Dini sejak dia masih duduk di bangku SMP, persisnya saat dia saya pilih menjadi salah satu pemenang mingguan acara di radio. Sebagai pemenang, dia berhak ikut bersiaran selama beberapa waktu. Saya masih ingat pernah berpesan supaya kalau siaran jangan judes-judes :)) Tapi saya yakin, pasti Dini ngga berani judes sama suami. Ya, ngga, Din? :p

suvenir pernikahan dini-aci. daftar asmaul husna dan tempat tisu (dengan 3 warna pilihan :D)

Ah, ya balik lagi soal Dini yang saya sebut selalu tahu apa maunya. Itu yang paling berkesan buat saya. Kenapa? Ya, karena pada umumnya perempuan lebih banyak bingungnya atau bahasa anak sekarang, labil dan galau. Dini selalu mantap dengan apa yang sudah dia rencanakan apalagi didukung dengan derajat percaya diri yang tinggi, dan seringkali kelihatan cenderung narsis :p Mau itu urusan pekerjaan, pertemanan, juga kehidupan pribadinya.

Soal yang terakhir, saya kasih contoh, deh. Yaitu ketika memutuskan untuk menikah. Dini adalah tipe yang memilih langsung menikah tanpa melalui proses pacaran apalagi bertunangan. Pilihan yang mungkin bagi sebagian perempuan dianggap rugi, karena menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan bermacam-macam pria dan lebih mengenal sosok yang akan dijadikan suami. Tapi sekali lagi, karena sudah tahu akan langsung menikah, saya yakin, Dini sudah menyusun kriteria mengenai pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Sehingga ketika ia berkenalan atau menjumpai seseorang, penilaian bisa langsung dilakukan dengan mengamati perilaku dan cara bicara yang bersangkutan secara objektif. Bandingkan dengan orang berpacaran. Pasti ada keinginan untuk berikan yang perfect untuk sang pacar. Orang bahkan tak segan untuk mengubah dirinya demi orang yang katanya ia cintai. Tapi untuk berapa lama? Banyak cerita yang kita dengar, suami atau istri yang kecewa pada pasangannya karena mereka tak sama seperti jaman pacaran dulu.

Saya tidak bermaksud menyebutkan bahwa cara yang satu lebih baik dari cara yang lain. Masing-masing orang pasti punya cara terbaik untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Yang ingin saya garisbawahi adalah kita ini, kaum perempuan seringkali keliru dalam bersikap. Misalnya saja, ada anggapan bahwa perempuan sebaiknya menunggu. Menunggu ditembak, menunggu dilamar, menunggu dan menunggu. Menurut saya, sekedar menunggu saja kurang tepat. Ibarat rejeki, memang semua sudah diatur Allah, masing-masing dapat sekian. Jodoh pun sudah ada jatahnya. Tapi bukan berarti sekedar duduk manis bermimpi prince charming will come knocking at your door! That’s fairy tale.

Di lain pihak, ada juga yang berpikir sebaliknya, jodoh itu harus dicari. Tapi kalau lantas menjadikan itu alasan untuk gonta ganti pacar dalam hitungan bulanan, nanti dulu! Kalau saya pribadi sih, enggan kalau sampai disebut oleh orang sebagai mantannya si X atau si Y, apalagi kalau jumlahnya banyak. Kesannya kok kayak digilir. Kalau memang belum yakin benar bakalan bisa serius dan belum ketahuan kecocokannya ada dimana, mending temenan aja dulu kali, ya. Ngga masalah kok, jual mahal sedikit.

Dipikir-pikir, susah juga ya jadi perempuan. Kata orang, perempuan cenderung emosional. Seringkali sikap dan tindakannya berpijak pada emosi. Padahal kalau itu terjadi, yang rugi perempuan sendiri kalau sampai keputusan-keputusan bodoh yang dibuat hanya karena emosi, tidak sempat berpikir panjang. Ngomong-ngomong, salah satu cara meredam emosi itu adalah dengan menuliskannya, lho. Oke, biar ngga ngelantur, saya bahas di posting lainnya saja, ya.

Oke, balik lagi ke Dini. Mungkin sebagian teman sudah bosan dan bahkan mulai menjadikannya gurauan ketika Dini sejak tahun lalu melulu mengarahkan topik pembicaraannya soal menikah. Baik itu dalam siaran, ngobrol, dan tentu saja di media sosial internet. Menurut saya wajar saja, sih. Kalau orang lain, yang diumbar kan soal dia dan pacarnya. Kalau Dini, karena memang berniat mau langsung menikah, ngga perlu heran itu jadi topik utama dia, bukan sang calon. Malah bagus kan, berbagi cerita dan ilmu soal menikah?

Buat Dini, didoakan supaya bisa mengarungi mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, dan semoga membawa inspirasi bagi teman-teman dalam menentukan langkah dalam salah satu fase kehidupan ini :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s