Memamah jantungmu

 

Kali ini saya mau cerita soal Hani, penyiar Volare yang masuk paling belakangan dan sangat suka menulis. Foto di atas adalah novel karyanya. Setelah sempat beberapa hari dipromosikan lewat akun twitternya, buku itu sampai juga ke tangan saya. Bukan karena disogok buku gratisan makanya saya tulis di sini, tapi memang saya pikir memang pantas untuk didukung dan dipromosikan.

Pertama, karena temanya tak biasa. Beberapa tahun belakangan saya malas berkunjung ke rak novel di toko buku, karena terbitan sastra terhitung jarang, dan melulu isinya chick-lit bahkan teen-lit. Tentu saja temanya juga tidak jauh-jauh dari percintaan. Klise. “Memamah Jantungmu” sejak awal sudah menggiring pembacanya ke arah ketegangan ala thriller dan horor.

Kedua, novel ini menunjukkan cara baru untuk menerbitkan buku, yaitu self-publishing, yang semuanya bisa dilakukan secara online. Sebuah alternatif yang sangat menarik bagi penulis manapun yang ingin bukunya diterbitkan tanpa takut ditolak sana sini oleh penerbit. Dan tentu saja, bisa dibeli pula secara online.

Ketiga, penggunaan bahasanya yang selalu berusaha berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebanyakan novel yang beredar menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang terlalu cair, dan terlalu “Jakarta-sentris”. Walaupun terus terang saya agak terganggu dengan satu kata di halaman pertama yang lolos dari suntingan; “bertitit ria” :D Bisa menjadi bahan olokan di kalangan orang Sunda, tuh.

Terakhir, tentu saya bangga, setelah Tya dengan Bukan Akhir Cerita” yang diterbitkan tahun lalu, satu lagi penyiar kami yang berkarya di bidang tulis menulis. Berani menunjukkan minat dan bakatnya kepada dunia. Sesuatu yang juga bisa menunjukkan bahwa mereka yang berada di belakang perangkat siar Radio Volare adalah orang-orang berbakat dan punya pencapaian :)

Saya memang belum selesai membacanya. Mudah-mudahan punya akhir yang twisting. Atau shocking. Saya suka buku atau naskah film yang seperti itu. Yang happy ending tuh, gimana ya… kurang menggigit.

Anyway, congratulations! Semoga bisa terus berkarya, ya Hani!

Iklan

7 thoughts on “Memamah jantungmu

  1. Makasih banyak Mbak reviewnya saya jadi terharu…

    masih menunggu bagaimana kesannya setelah mengakhiri si “Memamah Jantungmu”

    Suka

  2. Saya cukup terkesan, walaupun sedikit kecewa dengan pilihan ending yang happy-happy saja :D
    Kalau dibikin yang mencekam dan tak tertebak pasti jadinya lebih seru. Semoga pesanannya laris ya. Ditunggu karya-karya berikutnya.

    Suka

  3. Kenapa aku membahas satu diksi yang sangat penting dan ada di halaman pertama novelku? Karena ada yang merasakan bahwa diksiku salah. Diksiku bisa saja salah kalau mereka tidak mengerti dengan kata itu. Bagaiman jika ternyata mereka mengerti? Berarti diksi yang aku gunakan sebagai sistem tanda di sini tidak ada yang salah kan? Harusnya begitu.

    Aku tergelitik dengan kalimat seseorang yang mengatakan kata ulang itu harus memiliki tanda hubung. Sejak kapan ada keharusan seperti itu? Bagaimana dengan kata ulang dwipurna? Kata ulang sebagian? Memang kata ulang tit adalah tit-tit tapi aku tidak merasa pelafalannya nyaman dan penulisannya enak diliat. Itu menurutku. Jadi aku memilih pengulangan seperti pada kata laki-laki yang dituliskan lelaki, sama-sama yang dituliskan sesama.

    Kalaupun ‘titit’ itu bermakna alat vital laki-laki, bukankah sistem tanda itu bergantung pada konteks kalimatnya lagi. Tidak ada satu siswa SMP saya pun yang tidak mengerti arti kalimat tersebut. Harusnya orang yang jauh lebih dewasa tidak akan mengatakan bahwa itu adalah kesalahan.

    Dimana-mana orang memang banyak yang suka menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Banyak sekali. Karena saya menganggap mereka tidak bisa menerima pendapat saya itu makanya saya pergi. Baru satu diksi saja mereka tidak terima. Saya memang dengan egois mengatakan ini novel saya, saya tidak akan mengubahnya. Lagi pula saya yakin dengan diksi ‘bertitit ria’ itu benar dan tidak porno seperti yang mereka gambarkan.

    Hikmah dari kejadian ini? Saya lebih mencintai blog saya sendiri. Saya sadar Tuhan ingin saya kembali ke sini dan membangun rumah saya dan menyelesaikan skripsi saya. Terima kasih Tuhan. Begitu indah cara-Mu untuk mengajariku. Mengajari anak kecil yang naif ini. Diri yang penuh dosa dan nista ini.

    Mas Joko benar. Lagi-lagi benar.
    Lagi pula tulisanku terlalu mahal untuk disumbangkan di rumah yang isinya orang sok pintar itu. Berbagi pendapat menurut mereka. Berbagi pikiran katanya. Aku merasakan isinya hanya penghinaan dan hujatan. Aku harusnya mahfum. Mereka kan sudah merasa dirinya pintar. Aku harus belajar pada orang yang tepat seperti Mas Joko, Mas Widodo, dan Mas Didik.

    Belajar pada sekelompok orang pasti akan berbeda hasilnya dengan belajar perorangan. Dalam satu kelas pun tidak akan ada sekelompok guru mengajari seorang siswa.

    Serasa dihakimi banyak orang dan tersudutkan.

    Aku pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa di dunia ini manusia lebih banyak menerima respon negatif daripada positif. Padahal telah diciptakan respon positif untuk memberikan kritik pada orang. Contohnya seseorang yang baru saja ke salon untuk meluruskan rambutnya.

    Tidak ada yang salah kan dengan pelurusan rambut itu?

    Tapi kalau memang orang tersebut lebih bagus dengan rambut ikalnya kenapa tidak mengatakan secara jelas poin yang ingin kamu kritisi.

    Contohnya: “Saya rasa kamu lebih cantik dengan rambut ikalmu, terlihat lebih lucu dan manis.”

    Daripada mengatakan: “Kamu tidak cocok rambutnya dilurusin, terlihat lebih tua.”

    Keduanya kritik yang sebenarnya tidak setuju dengan rambut lurus itu. Tapi yang pertama langsung ke solusi dan tidak mengecilkan hati yang dikritisi. Sedangkan yang kedua seakan menyalahkan pilihan rambut lurus itu.

    Wuih! Fiuh panjang juga ya tulisan saya ini? Kalau dipajang di ‘rumah’ kemaren itu pasti makin berlanjut lagi perangnya. Daripada saya tenar dengan cara tidak penting bersama orang-orang yang tidak penting lebih baik saya membangun rumah saya sendiri dan tenar sendiri di sini. Setuju? Tidak setuju, tak apa.

    Pesan buat siapa pun yang baca ini:

    Mungkin kalian akan merasa saya terlalu ingin diistimewakan, sayangnya bukan seperti itu. Melalui postingan ini saya ingin kalian bisa bersikap lebih baik lagi. Bukan pada saya. Saya tidak butuh sikap baik itu lagi. Sekali saya membenci dan pergi, itu untuk selamanya. Saya hanya ingin kalian memberikan muatan positif untuk orang-orang tercinta kalian.

    Kalian tidak tahu kan seberapa banyak kritik negatif yang ia dapatkan dari dunia luar. Sama seperti saya. Siapa bilang kita harus bisa berbesar hati menerima kritikan negatif? Siapa pun akan sakit hati mendengar kata-kata kasar seperti itu. Alangkah lebih baiknya bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untuk perubahan ke arah yang lebih baik pula.

    Bayangkan bila kamu punya anak. Suatu hari sedang hujan dengan derasnya dan anakmu ingin bermain di halaman. Ini bukan iklan berani kotor itu baik dan kamu membiarkannya bermain hujan-hujanan. Orang tua mana pun pasti akan memanggil anaknya untuk masuk.

    Saat anak itu melangkahkan kakinya keluar dan anda mengatakan: “Jangan main di luar.”

    Anak akan bingung harus bagaimana. Kenapa tidak mengatakan: “Nak, di luar sedang hujan. Bagaimana kalau kita ke dapur dan masak makanan kesukaanmu?”

    Mana yang lebih baik? Tidak perlu menjawab kalau kamu tidak terima dengan penjelasan saya. Saya hanya seorang perempuan yang sedang belajar untuk menjadi seorang ibu suatu hari nanti. Ketika saya telah bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan menjadi jodoh saya dan memiliki anak bersamanya.

    Ini yang saya tahu, ini yang saya bagi. Apa yang saya tidak tahu tidak mungkin saya bagi dengan orang. Apalagi kamu.

    Suka

  4. sepertinya ada yang copas di sini

    Romi: tidak perlu dicopas kok, yang punya blog ini sudah tahu blog saya dan pasti sudah baca…

    Saya yakin Mbak Temi tidak menyalahkan meskipun terganggu, lagi pula kembali lagi ke konteks kalimatnya…

    Saya tidak suka tulisan saya dicopas seperti itu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s