Konsultasi mahasiswa, haruskah di kampus?

Sering saya dengar cerita derita mahasiswa yang kesulitan berjumpa dengan sang dosen. Ada tipe dosen yang jarang di kampus karena banyak kegiatan di luar. Sehingga si mahasiswa harus antri bersama-sama dengan yang lain untuk konsultasi. Kebanyakan dari dosen juga enggan ditemui di rumah. Alasannya macam-macam. Ada yang tak ingin mencampuradukkan urusan kantor dengan rumah sampai ketidaksukaan istri sang dosen jika mahasiswi terlalu rajin menyambangi rumah :D

Yang punya alasan profesional, yang tidak mau urusan rumah dan kantor ini dijadikan satu, biasanya bersedia diajak berjumpa di luar kampus, asalkan tidak di rumah. Kalau pengalaman saya dan adik saya yang pernah sekolah di Malaysia, belum pernah menjumpai dosen yang mempersilakan mahasiswa berkunjung untuk berkonsultasi. Jadi jangan harap tata usaha kampus mau memberikan alamat dosen kepada mahasiswa. Tapi para dosen ini tetap membuka jalur komunikasi, baik lewat telepon maupun e-mail.

Kadang saya jadi bertanya-tanya, apakah hanya saya, ataukah memang lazim mahasiswa diterima di rumah? Saya punya dua alasan.

Pertama, dosen pembimbing skripsi saya dulu bersedia dijumpai di rumah. Walaupun rumahnya terhitung jauh, saya tinggal di Kotagede, rumah beliau di Rejodani, Sleman, saya tetap bela-belain ke sana malam-malam. Itu adalah pilihan yang paling masuk akal menurut saya. Karena beliau tidak hanya mengajar di satu tempat, dan saya tidak tahan menunggu. Saya tidak bisa membayangkan menunggu beliau berjam-jam di kampus, apalagi di kampus orang lain. Jadi sejak dulu, sudah tertanam dalam benak saya, sikap beliau mempermudah saya, mahasiswa bimbingannya dalam menyelesaikan skripsi tepat waktu. Bangga juga, walaupun bukan tergolong mahasiswa rajin nan pintar, saya bisa lulus dalam waktu 5 tahun menyusul 2 orang teman seangkatan yang lulus lebih dulu. Lima tahun kok bangga ya :D Tergolong cepat, soalnya teman-teman saya kebanyakan para aktivis kampus di berbagai organisasi dan beberapa juga sudah berpenghasilan waktu itu. Karena sibuk, kuliah jadi nomor sekian.

Kedua, saya memang jarang di kampus. Untuk ini saya punya dua alasan lagi. Kuat lapes kate budak Pontianak :D

Alasan pertama, saya berusaha sebisa mungkin menjadi stay at home mom. Sebisa mungkin pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah, saya bawa ke rumah. Hal yang justru dihindari oleh orang lain, yang ingin beristirahat penuh di rumah. Saya tidak berani melepaskan anak-anak di bawah asuhan orang lain, kecuali ibu saya sendiri.

Kedua, saya memang kurang pandai bersosialisasi. Sering mati gaya di depan orang. Bingung mau bicara apa. Sungguh menjadi ironi ketika orang tahu saya berlatar belakang pendidikan komunikasi dan juga bersiaran. Menjadi suatu yang mustahil dan tak bisa dipercaya ketika saya bilang saya tak pintar bicara. Oh, please. Setiap orang punya banyak sisi yang berbeda, bukan? Dan bukan tak mungkin sisi-sisi itu bertentangan satu sama lain. Jadi ya begitu, saya sering kehilangan bingung jika sedang berkumpul dengan orang-orang. Saya pun tak ingin terlibat obrolan yang berujung gosip. Sehingga saya bisa ditemui di kampus apabila ada jam mengajar atau keperluan penting lainnya saja.

Makanya, saya tidak keberatan jika mahasiswa harus datang ke rumah, asalkan melalui perjanjian terlebih dahulu. Saya cuma berharap, mahasiswa datang ke rumah benar-benar berkonsultasi, benar-benar ingin diskusi, bukan sekedar minta tanda tangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s