Mile

Sepertinya kali ini Mile tak akan kembali.

Mile lahir Desember 1999, bersama 2 kembarannya, Leni dan Nium. Saat itu istilah Millenium was so overrated. Jadilah itu ide buat menamai kucing. Leni pergi duluan, disusul Nium beberapa tahun kemudian karena sakit-sakitan, sering berkelahi dan beberapa kali dijerat orang (biar Allah yang balas kesakitanmu, kucingku).

Untuk ukurang kucing kampung, umur Mile lumayan panjang. Salah satunya karena dia dikebiri. Bukan disengaja, tapi karena biji kemaluannya terluka hebat saat berkelahi, sekalian saja divasektomi. Karena tidak punya gairah, dia lebih banyak di rumah. Tidak seperti kucing kampung jantan lainnya yang sering berkelahi berebut wilayah atau berhari-hari tak makan di musim kawin.

Semua sayang sama Mile. Terlalu sayang mungkin. Cuma dia yang dibolehkan tidur di kasur, cuma dia yang dibolehkan ikut makan di atas meja. Saat makan siang, dia punya piring sendiri. Kucing-kucing lainnya harus berebut di satu piring besar. Bahkan ketika belakangan dia sering muntah kalau sedikit saja terlalu banyak makan dan mengotori lantai, tidak ada yang marah. Telat mengeluarkan dia di pagi hari keburu dia buang air di pojokan rumah, semua maklum.

Miss him already.

Saya biasa tidur bersama dia. Hanya sejak mulai hamil dan punya anak, itu tak bisa lagi dilakoni. Mile harus puas tidur di ruang tamu. Walaupun kadang, diam-diam dia juga ikut naik ke kasur, tidur menempeli punggung.

Sempat beberapa kali sakit berat, berhari-hari tak makan minum, tapi dia masih diijinkan tinggal bersama kami. Sampai 3 malam lalu, dia mengeong di pintu kamar. Saya biarkan. Biasanya dia memaksa minta masuk. Tapi waktu itu mengeong sebentar lalu diam. Makanya saya tinggal tidur. Ternyata itu kali terakhir saya mendengar suaranya. Siangnya saat jam makan tiba, dicari-cari keliling rumah tak ketemu. Sampai malam. Sampai malam ini. Sampai kami berusaha pasrah, mungkin memang sudah waktunya dia pergi. Memang ada kebiasaan unik kucing, enggan mati di tempat ia dibesarkan, kecuali jika memang dia terlalu sakit untuk bisa pergi.

Apa yang begitu spesial soal kucing? Apalagi Mile? Entah ya, susah menjelaskannya. Saya cuma bisa merasakannya. Segalau apapun, sekesal apapun, semarah apapun, a cat will put an instant smile on my face. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia terhadap saya. Dan dia cuma butuh diberi makan dan dibelai.

Ah, ya saya jarang melakukannya lagi. Saya pun telah berjanji berkali-kali mau memeriksakan kupingnya yang terluka karena sering ia garuk ke klinik hewan. Janji tinggal janji. Apa dia tahu? Apa dia kecewa? Yang jelas dia cemburu. Iri. Dia tak pernah lagi mengeong minta masuk lewat jendela kamar, karena jalan masuk itu sudah ditiru kucing lainnya. Kalau melihat saya membelai kucing lainnya, dia melengos pergi.

Penyesalan memang selalu terlambat. Tapi semoga dia tahu, semua sayang dan kehilangan dia. Will I ever see you again? In the next life, perhaps?

Iklan

One thought on “Mile

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s