Banjarmasin, Hari #1

Saya belum pernah menulis catatan perjalanan. Berhubung punya blog, ngga ada salahnya mencoba, ya. Saya menulis sambil menyetel Turin Brakes, yang entah kenapa beberapa hari belakangan ini rindu untuk saya dengarkan lagi… It’s a good underrated band, you know.

So, let’s start. Ini catatan perjalanan saya ke Banjarmasin, kota yang sebenarnya satu pulau dengan Pontianak, tapi untuk mencapainya harus mutar dulu ke Jakarta. Ah, menyedihkan sekali transportasi di Indonesia ini.Saya berangkat dari rumah pukul 7.30, satu jam sebelum boarding, dan baru menyadari dompet kosong dan isi ATM pun tak sampai 40 ribu. Waduh, mana cukup buat bayar airport tax! Untunglah ada yang berbaik hati meminjamkan kartu ATM-nya (baca: bapak saya :p) dan saya bisa mengejar pesawat setengah berlari. Sempat juga memberikan kenang-kenangan ke petugas bandara, kepergok bawa gunting di tempat pensil. Hiks, lupa masukkan ke koper, padahal baru beli…

Sepertinya maskapai penerbangan Indonesia juga mengikuti tren budget flight yah. Naik Lion tadi saya bermodalkan yang dikirimkan via e-mail dan tidak mendapatkan apa-apa di kabin, kecuali kalau mau beli. Tapi saya merasa maskapai ini juga belum siap melayani penumpang sepenuhnya. Terbukti dengan pengalaman saya kali ini. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, berhubung mie instant yang dimakan tadi pagi masih terasa di perut, saya langsung masuk ke ruang tunggu di Terminal 1A. Sungguh pilihan yang saya sesali, karena ternyata penerbangan delay sampai pukul 4 sore! Dibagikan makan siang sih, sekedar ganjal perut dengan rasa tak keruan, ditambah sambal dalam sachet dengan pewarna oranye yang mencolok.

Sungguh tidak produktif, saya menghabiskan satu hari dalam hidup saya di bandara hanya dengan duduk-duduk saja. Berjam-jam di ruang tunggu jelas membosankan. Koneksi Telkomsel Flash mengecewakan, cuma untuk kirim twit saja berkali—kali gagal, apalagi mau browsing. Boro-boro mengharapkan wi-fi. Mau dengar radio, eh lupa bawa earphone yang merangkap antena hape. Sebenarnya nonton Airporteve bisa jadi pilihan, karena banyak klip musiknya. Tapi apa daya, persis di sebelahnya ada display dari AMG yang terdiri dari 2 televisi dengan suara lebih keras plus banner besar yang berisi ajakan untuk berpromosi dengan media ini. Saya ngga habis pikir dengan cara perusahaan ini berpromosi. Kenapa mesti berkompetisi langsung dengan airporteve (yang kebetulan sudah banyak iklannya) dan menjengkelkan kami yang menonton? Setahu saya di tempat umum kalau mau setel beberapa channel yang berbeda, pesawat televisinya dijauhkan satu sama lain, yang mau nonton tinggal pilih duduk sebelah mana. Hiburan bermanfaat cuma dengan membaca majalah travelounge. Bagus isinya, pantas saja karena ternyata dikelola oleh Tempo.

Suhu ruangan semakin hangat. Makin siang makin banyak orang yang datang. Saya yang berusaha untuk tidur sambil duduk masih bisa mendengar kekacauan yang terjadi. Sedikitnya ada 2 tujuan penerbangan yang membuat calon penumpang harus pindah ruangan karena akan berangkat dari gerbang yang berbeda. Belum lagi ada penumpang yang marah-marah sampai nyaris menonjok salah satu petugas. Padahal saya sempat membatin, lho, waktu baru tiba. Wah, petugas-petugas Lion Air ini masih muda-muda banget ya… Apakah lantas ini menunjukkan bahwa mereka kurang pengalaman? Kalau sudah tertunda lama begitu, kasihan rasanya sama ibu-ibu yang bawa anak kecil, dan tentu anak-anaknya itu. Saya tahu benar repotnya mengurus anak di perjalanan, apalagi yang tertunda berjam-jam. Sekitar pukul 3 sore, kami disuruh boarding melalui pintu yang berbeda. Pindahlah kami dari A7 ke A2. Langsung naik ke pesawat sih, tapi ternyata baru benar-benar terbang sekitar pukul 4. Ponsel saya sudah kehabisan batere sejak tengah hari, sudah tidak bisa lagi memberi kabar kepada keluarga, juga yang menjemput. Untunglah yang menjemput inisiatif menulis nama saya di kertas, jadi begitu keluar bandara, bisa langsung ketemu.

Suasana bandara ramai, katanya ada rombongan umrah yang baru tiba, membuat kami kesulitan untuk keluar dari tempat parkir. Eh, saya dijemput pakai mobilnya Banjar TV, lho. Ada TOA-nya gitu di atas atap hehehehe…. Kata Fifi, panitia yang menjemput, bandara belum lama ini diperluas. Makanya saya bisa lihat banyak tenant yang mengisi, mulai dari Dunkin’ Donuts sampai CFC. Beda dengan Supadio di Pontianak, yang didominasi warung kopi, yang membiarkan pengunjungnya merokok di ruangan ber-AC :( Sama seperti Pontianak, bandara dan kota dihubungkan dengan sebuah jalan panjang bernama Ahmad Yani. Sempat mampir dulu makan masakan bebek yang katanya cukup terkenal di sana. Ngga saya foto, karena secara tampilan jelek dan saya pun tak suka rasanya heheheh… Menurut Fifi, masakan Banjar memang cenderung manis, tipe masakan yang sebenarnya tidak saya sukai. Walaupun sudah ditambah sambal (yang ternyata juga tidak cocok dengan lidah saya) sepiring menu itu tak kuasa saya habiskan.

Saya menginap di Guest House Kencana, di tengah kota, sehingga sempat melewati sebagian kota Banjarmasin. Ternyata cukup banyak investor dari luar daerah yang masuk ke sini. Untuk pemukiman saja, saya melihat ada Citraland dan CitraGraha dari Grup Ciputra. Sudah ada Ace Hardware, beragam resto siap saji, Lotte Mart dan tak ketinggalan mall satu-satunya di Banjarmasin, tetapi kelihatannya dari jauh lebih besar dari A. Yani Megamal. Kesumpekan kota ini membuat pemerintah daerah berencana untuk memindahkan pusat pemerintahan Kalimantan Selatan keluar Banjarmasin, yakni ke Banjarbaru, sehingga kota ini bisa fokus sebagai pusat perdagangan. Hmmm…bagaimana dengan Pontianak? Bukankah sempat dicanangkan Pontianak sebagai kota perdagangan internasional?

Sudah pukul 10 malam, berarti 11 malam waktu Banjarmasin. Tidak ada harapan untuk bisa memperbarui isi web Volare malam ini. Mungkin juga untuk seminggu penuh? Susah juga ya kalau kerja sudah terbiasa dengan fasilitas serba online. Ada sih warnet di seberang guest house, tapi aduh, males. Masih musim ya ngenet di warnet? Heheheh…. Ya sudahlah, sampai besok lagi. Night all.


Let’s go fishing for a dream.
Let’s find some place new.
Somewhere we can be ourselves some of the time.
Lose your heart, I lose my mind.
We’ll make quite a pair dazzling all the time.
(Turin Brakes – Fishing For A Dream)

2 thoughts on “Banjarmasin, Hari #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s