Banjarmasin, Hari #3

Well, what can I say? Third day was almost complete waste of time.

Tujuan utama hari ketiga adalah melakukan kunjungan ke salah satu radio untuk mendapatkan pemaparan seputar program edukasi yang telah radio itu buat. Sesampainya di sana, kami diberi makan nasi kotak, sembari menunggu acara yang sedang berlangsung selesai agar kunjungan kami bisa diudarakan langsung. Untuk apa on air? Saya kira tadinya akan ada suasana diskusi yang hangat karena jumlah program edukasi yang mereka miliki cukup banyak dan mengundang rasa ingin tahu. Tapi ternyata cuma jadi ajang dagelan sang kepala studio yang menerima kunjungan kami yang tak henti-hentinya bercanda. Anda pikir Anda begitu lucu menggemaskan, ya?  Bah! Tak kuasa rasanya menjelaskan polahnya di sini.

Satu hal yang muncul di kepala saat berkunjung adalah rasa ketidakadilan. Ketika radio swasta lintang pukang cari iklan untuk mendanai operasional, Radio Siaran Pemerintah Daerah enak-enakan dapat dana dari APBD, bisa cari iklan pula! Apalagi sebenarnya suara pemerintah sudah punya corong di RRI, yang bisa bersiaran secara lokal. Bahkan di Banjarmasin, RRI punya 4 channel, dari Pro 1 hingga Pro 4! Kenapa pemerintah provinsi harus jalankan radio sendiri? Bukankah seharusnya mereka menyuarakan hal yang sama. Saya tak habis pikir.

Sesi berikutnya, alih-alih membicarakan teknik pembuatan program edukasi sesuai jadwal, pemateri malah mau bercerita soal penyiaran yang harus kami terima lapang dada. Sayang sekali, waktu terbuang sia-sia hampir satu jam gara-gara proyektor tidak dapat menangkap sinyal dari laptop canggih nan mahal milik si pemateri. Kok tahu mahal? Karena dia bilang, kecil-kecil begini harganya 22 juta. Iya, dia menyebutkan angkanya! Perlu ya kami tahu? Lelah menunggu, kami mengusulkan materi dicetak saja, tapi beliau keberatan, katanya jadi tak bisa maksimal. Oh, okelah, mungkin ada video, audio, dll dalam slideshow-nya. Panitia mengusulkan materi dipindahkan ke flashdisk agar bisa dibaca di laptop lain, tapi ia menolaknya! Waktu terus berjalan, sampai akhirnya ia mengalah. Tak berhenti sampai di situ, ia sibuk mengutak atik remote presentasi bermenit-menit lamanya. Oh, come on! There were only 6 of us and he even didn’t have to move his ass!

Akhirnya ia mengalah juga, mau memencet keyboard. Leganya kami.Lalu, apa yang dia punya dalam slideshow-nya? Nothing spectacular. Ada beberapa halaman berisi foto diri plus pengalamannya, teori soal cara bersiaran dan sedikit teori komunikasi. Tentu saja, sebagai senior di dunia siaran, ia dengan bangganya bercerita pengalaman-pengalamannya. Memang benar, asam garam dunia siaran sudah dia rasakan. Sayangnya yang bisa saya simpulkan dari orang ini, adalah fakta mengenai ia yang begitu membanggakan kejayaan masa lalu, namun tak menyebut sedikitpun mengenai inovasi yang harusnya dilakukan orang radio mengikuti dinamika kemajuan zaman. Kalau cuma jayanya radio masa lalu, ngga usah jauh-jauh saya datang ke Banjarmasin, Pak. Di Pontianak juga banyak orang lama radio yang pengalamannya serupa dengan Bapak.

Satu-satunya hal yang membuat saya excited sore itu adalah ajakan untuk hangout, ladies only. Ajakan ini saya terima dari salah satu panitia yang ternyata berteman dekat dengan sepupu sahabat saya yang juga punya rencana mau mengajak saya jalan-jalan. What a coincidence, eh?

Tak ada hal spesial yang kami lakukan, hanya ngobrol, makan dan karaoke, tapi sungguh menyenangkan. Eh, ada spesialnya juga sih, sebuah sejarah baru ditorehkan dalam kehidupan saya. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, baru itu saya berkaraoke :D Sejak muncul yang namanya karaoke, tak pernah sekalipun saya berminat untuk bernyanyi, bahkan di rumah sendiri, apalagi di tempat umum. Bukan tipu bukan hoax. Ini foto buktinya:

Saat di TKP. Ini buktinya.

Terus terang saya iri dengan mereka, bertujuh kompak sejak bangku kuliah dan tak terpisahkan. Berusaha untuk menyediakan waktu bersama untuk makan siang sepekan sekali untuk menjaga keakraban. Saling berbagi, saling mengerti, saling mendukung, saling membantu walaupun sering juga hanya untuk senang-senang bersama. Ini resiko berkuliah di lain kota lalu kembali ke kota kelahiran: kehilangan teman-teman baik. Seperti mereka bilang, teman sekerja tidaklah sama dengan teman masa kuliah yang telah mengenal satu sama lain luar dalam. Dan selama hidup, dari sekian banyak orang yang kita temui, hanya sedikit yang menjadi teman, dan lebih sedikit lagi yang bisa jadi sahabat.

All I can say they’re lucky to have each other.

2 thoughts on “Banjarmasin, Hari #3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s