Banjarmasin, Hari #4

Things got better today. Thank God.

Pagi ini kami kedatangan trainer dari Bandung. Masih muda dan berkacamata hitam :D Luar biasa, baru saya nemu orang yang tidak membuka-buka kacamata hitamnya, dari pertama berjumpa hingga berpisah! Alasannya sih, karena mata merah tidak tidur. Saya ngga yakin. Harusnya dia paham, kontak mata itu penting apalagi dalam pelatihan kelompok kecil seperti ini. Anyway, pengalamannya cukup beraneka sehingga menarik untuk didengar. Dia termasuk orang yang tak keberatan hanya menyandang satu jabatan walaupun kerjaan sebenarnya merangkap-rangkap, termasuk jualan iklan. Maklum, jaman sekarang orang jarang ada yang mau mengerjakan hal-hal yang menurut dia tidak termasuk dalam job description-nya.Padahal ngga ada salahnya, selama itu bisa memberikan pengalaman dan pengetahuan baru? Pria yang seusia adik saya ini adalah Program Director Radio Bandung (Bandung itu nama radionya, ya) yang mencetak sukses masuk 10 besar radio top kota Bandung versi AC Nielsen hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak diluncurkan. Saya sudah sempat mengetahui cerita ini karena tahun lalu Radio Volare sempat mengundang konsultannya ke Pontianak untuk berbagi pengalaman.

Singkat cerita, kami lebih banyak sharing pengalaman. Sang trainer mencoba memberikan solusi-solusi yang mungkin sesuai untuk permasalahan masing-masing radio, walaupun kondisi tiap daerah tidak sama. Ia terkaget-kaget ketika tahu di Banjarmasin tipikal anak mudanya banyak yang lebih dulu menanyakan soal bayaran ketika ditawari menjadi penyiar. Padahal, seperti yang diketahui dan disepakati oleh orang radio dimanapun, radio adalah tempat belajar banyak hal. Sungguh rugi jika menolak bergabung di radio hanya karena masalah finansial. Ia juga hanya bisa manggut-manggut ketika saya sampaikan bahwa di daerah lebih banyak merk yang hanya memiliki distributor, ketimbang yang memiliki area manager sendiri. Sehingga ruang gerak untuk menggaet lebih banyak iklan sangat terbatas dibanding dengan yang ada di Bandung dan kota-kota besa di Jawa lainnya.

Pelatihan berakhir sekitar pukul 3 sore waktu setempat. Masih banyak waktu. Maunya sih ke Martapura, pusatnya batu-batuan permata, sayang kejauhan. Oleh panitia kami diantar ke pusat penjualan kain sasirangan, semacam batik khas Banjar yang didominasi warna-warna cerah. Tidak akan ada motif yang persis sama kecuali atas pesanan. Yang belum pernah tahu seperti apa gerangan sasirangan, yang begini nih…

Kain Sasirangan

Saatnya wisata kuliner :) Kuliner khas Banjar, tentulah Soto Banjar. Soto Banjar Pak Amat adalah yang paling terkenal di antara ratusan warung soto Banjar yang ada. Sayangnya karena kami mampir dulu ke kantor Banjar TV, salah satu stasiun televisi lokal Banjarmasin, kami kesorean, warung soto sudah tutup saat tiba di sana. Putar baliklah kami ke warung soto lainnya, Soto Bawah Jembatan, yang memang punya posisi persis di bawah jembatan. Sayang sekali tempatnya kurang bersih dan berantakan di bagian depan. Rada mengganggu buat saya. Menu andalan ada 3, ada Sop Banjar, Soto Banjar dan Rawon. Mmmm, ngapain juga mesen rawon di sini. Akhirnya kami rame-rame berempat memesan soto. Seperti sudah diduga, pastilah rasa manis yang menonjol di masakan ini. Ngga masalah sih, enak soalnya. Cuma (ngeritik aja nih kerjanya hehehe…) terasa kalau beras yang dipakai untuk lontongnya kurang pulen. Kalau berasnya bagus, pasti deh rasanya bakal lebih mantap.

Soto Banjar Bawah Jembatan

Merasa sayang waktu hanya dihabiskan di kamar, saya ikut ajakan berikutnya untuk jalan-jalan, mungkin mampir ngopi. Tadinya kami akan menuju cafe bernama Dahan, tetapi malah mengarah lagi ke Duta Mall. Ya, tak apalah, namanya ditraktir ini. Sekalian saya juga bisa nyicil kerjaan di cafe yang ada wi-fi. Saking takutnya ini laptop raib, biar berat saya boyong kemana-mana. Siapa berani jamin nyimpan di penginapan bakal baik-baik saja? Ngomong-ngomong soal Duta Mall, kabarnya mal ini pernah sepi nyaris tanpa pengunjung gara-gara dulu Mama Loren pernah menyebutkan mal ini bakalan runtuh. Oh, people, they believed it! Untunglah tidak benar-benar terjadi, walaupun kabarnya retak-retak yang sudah diperbaiki bermunculan kembali. Ukuran dan tampilannya sih lebih megah dari Ayani Mall, yang menurut saya jadi jatuh gengsinya karena sudah seperti pasar, ada warung kopi dan rumah waletnya segala :( Di Duta Mall, karena tidak ada komplek ruko, tak ada yang seperti itu. Segelas kopi krim dingin menemani saya kerja, sampai kedai kopi hendak tutup. Mendadak wi-fi ngadat, kami diusir secara paksa hehehehe….

Duta Mall

Jalan-jalan malam ditutup dengan… makan lagi! Kali ini kami berkunjung ke Lontong Orari. Ngga sah ke Banjarmasin kalau ngga nyicipin katanya. Kenapa pakai nama Orari, karena kabarnya dulu di sini markasnya penggemar radio amatir, rame-rame kumpul buat kopi darat. Menunya di sini cuma ada 2 macam, nasi kuning dan lontong. Lauknya bisa pilih mau pakai ayam, telur atau haruan (ikan gabus), kuahnya mirip sayur lodeh (berhubung ada nangkanya) tapi lebih manis dan gurih. Berhubung yang ngetop adalah lontongnya, maka saya pun memesan itu setengah porsi. Bukan sok diet, tapi memang porsinya besar! Lontongnye gede banget! Yang setengah itu hanya porsi lontong nasinya saja, lauknya tetap porsi utuh. Enak? Ya, enak. Walaupun saya masih belum bisa membiasakan diri dengan rasa manis masakan Banjar. Seperti ini nih hidangannya….

Lontong Orari

Malam sudah makin larut, ditambah perut luar biasa kenyang, hmmmm… paling enak memang meluk bantal….

4 thoughts on “Banjarmasin, Hari #4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s