Ngga enak jadi pelupa

Saya pelupa kelas berat. Bisa tiba-tiba lupa apa yang hendak saya lakukan atau katakan. Sering lupa janji. Mencoba untuk membuat jadwal di agenda atau di dalam laptop, tapi saya juga sering lupa untuk membacanya atau bahkan menuliskannya. Saya sendiri merasa menyusun jadwal itu cukup membuang waktu. Barang yang hilang gara-gara saya lupa menaruhnya sudah tak terhitung banyaknya. Bapak saya bilang, kalau hidung bisa dicopot pasti punya saya sudah lama hilang.

Padahal saya tergolong orang yang senang mengemaskan rumah, lho. Enak rasanya melihat semua tersusun. Entah itu berdasarkan jenis barang, kepemilikan bahkan warna. Apalagi kalau berhasil menyingkirkan barang-barang tak dipakai dan sampah sehingga ruangan terlihat rapi dan bersih. Tetapi ternyata rajin berkemas tidak selalu menolong menemukan apa yang saya cari.

Kejadian paling mutakhir terjadi siang tadi. Saya keluar dari kelas selesai mengajar dengan menggantungkan tas di bahu kiri dan memegang absensi plus laptop di pelukan. Di luar berjumpa dengan mahasiswa yang sudah berjanji untuk ketemu saya lalu sama-sama ke ruangan Akademik. Selesai urusan, saya langsung menuju mobil karena ingat ada janji di lain fakultas. Sempat juga, tuh, saya baca pesan singkat yang menanyakan jadi tidaknya saya ke sana.

Kurang lebih setengah jam saya ngobrol-ngobrol di ruang Pudek 3, kembalilah saya ke mobil dan menemukan jok sebelah kemudi kosong! Aduh, jangan-jangan ada maling! Satpam pun tak nampak batang hidungnya sejak tadi. Saya berusaha tenang. Kalaupun ada maling, kenapa alarm mobil tidak berbunyi? Saya cek lagi ke ruangan Pudek 3, kosong. Saya sudah membayangkan anak saya menangis meraung-raung tahu laptop buat dia main game hilang. Kebayang juga wajah suami saya yang pasti mengomeli saya habis-habisan karena menghilangkan laptop untuk ketiga kalinya. Iya, sebelumnya juga pernah kejadian hilang, dicuri orang karena saya lupa menyimpannya :(

Akhirnya cuma bisa berdoa kuat-kuat semoga ketinggalan di Fisip. Kurang yakin, sih. Kenapa tadi waktu saya melenggang pergi tak satupun yang memanggil saya mengingatkan ada barang tertinggal?

Alhamdulillah, Allah masih dengarkan doa saya. Masuk ke ruangan akademik, saya langsung disambut pertanyaan, “Mau ambil yang ketinggalan ya?” Dan saya cuma bisa nyengir malu waktu ditanya bagaimana bisa barang sebesar dan seberat itu ketinggalan.

Rugi benar jadi orang pelupa. Tapi saya jadi ingat komentar suami saya waktu kami sedang lihat-lihat DVD film horor di kios yang jual DVD bajakan.

Dia bilang begini, “Ada tipe orang tertentu yang suka film horor.”

“Yang kaya gimana memangnya?”

“Orang pelupa. Kaya kamu tuh. Kalo saya yang nonton film horor, bakal keinget terus seramnya. Kalo orang pelupa kan, sebentar juga lupa.”

Hehehe… ada benernya juga, ya…

Iklan

2 thoughts on “Ngga enak jadi pelupa

  1. Ping-balik: Sedikit tentang saya « It's not about the writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s