Terdampar 5 malam di rumah sakit (1)

Ini sore kelima saya berada di rumah sakit. Anak bungsu saya kena campak. Ya, ya, ya… memang lalai tidak ikut imunisasinya, wajar kalau rentan terkena virusnya yang dikenal menular itu. Bisa jadi waktu Ia ikut-ikutan abangnya ke rumah sakit untuk terapi uap, virus itu berkeliaran di rumah sakit dan hinggap di tubuhnya. Nasihat utuk para Ibu, jangan deh, bawa-bawa anak yang sehat ke rumah sakit, walaupun niatnya baik untuk menjenguk atau menemani yang sakit. Karena kita kan ngga tahu, ada virus dan bakteri apa yang berkeliaran di sekitar kita.

Awalnya sempat dikira flu biasa, tapi heran flunya sembuh, kok malah demam yang timbul. Anehnya lagi, biasanya orang demam akan merasa kedinginan. Sebaliknya dia malah merasa kepanasan. Pasang AC tak cukup mendinginkan, masih harus dikipas-kipas langsung mengenai badannya. Kuatir dengan panas tingginya yang sudah 3 hari, ditambah nafsu makannya yang menghilang, anjuran dokter untuk dirawat langsung saya setujui.

Senin siang, keluar dari poliklinik, ia langsung dibawa ke UGD untuk dipasangi infus. Untuk memudahkan, perawat menggulung badannya dalam selimut, seperti bayi dibedong. Betul juga, saya pikir. Ingat ketika abangnya dulu pernah dipasangi infus, oleh para perawat dicengkeram saja pergelangan tangan dan kakinya sampai merah-merah. Jadi ngga tega lihatnya. Tapi si Adik ini jadi semacam trauma melihat selimut di kamar. Enggan diselimuti walaupun kedinginan. Untung traumanya ngga pake lama.

Sorenya saya perhatikan jumlah bercak merah di sekitar lehernya bertambah, muncul juga di bagian dahi dan pelipis. Saya sempat mengira gara-gara biang keringat karena ia tak mandi sejak pagi. Malamnya, perawat yang menyuntikkan obat penurun panas ke dalam infusnya, mengomentari bercak merahnya yang semakin banyak sebagai campak. Baru, deh, ngeh. Dokter memang belum sampai mendiagnosa campak, karena sampai saat diperiksa bintik-bintik itu belum kelihatan menyolok.

Selama 5 malam di sini, ia harus minum 5 macam obat dan vitamin, plus 3 macam lagi yang disuntikkan langsung ke infusnya. Sekarang sih lebih praktis menyuntikkannya, ada katup dari plastik yang bisa dibuka tutup. Sedih kalau selang infusnya sumbat. Penyebabnya bisa karena telat ganti kantong infus, sehingga justru darah ketarik keluar, atau pemasangannya kurang rapi. Mau tak mau harus harus diperbaiki. Kasihan, proses pembersihannya kelihatan menyakitkan.

Perawat bolak balik masuk mengganti infus dan mengantarkan obat membuat dia histeris setiap ada yang permisi membuka pintu. Padahal yang masuk bukan cuma perawat, juga yang mengantarkan makanan dan bersih-bersih ruangan. Kasihan.

Berbagai simpati pun mengalir ketika rekan-rekan tahu si Adik sakit campak. Bukan cuma mengunjungi, ada juga yang berbagi resep. Anjuran tradisional untuk penderita campak adalah meminum air kelapa hijau, agar bercaknya cepat keluar dalam waktu singkat. Memang, secara teori, jika bercak sudah merata keluar di sekujur tubuh, demam akan turun. Si Adik yang tidak sempat mencicipi air kelapa hijau, karena terlanjur diterapi obat ini (banyak yang bilang, reaksi obat akan kurang baik bagi tubu jika minum air kelapa) harus betah merasakan demam yang tak kunjung turun berhari-hari. Ada juga yang membawakan rebusan biji ketumbar, untuk dipergunakan sebagai air bilasan mandi. Sayangnya si Adik ini terlalu histeris, diseka wajahnya saja biar bersih mengamuk. Air rebusan ketumbar hanya sempat disekakan ke kedua kakinya saja.

Resep lainnya adalah menggunakan jagung manis yang dihaluskan supaya setelah campaknya sembuh, kulitnya bisa mulus kembali seperti sediakala. Karena walaupun tak separah cacar, campak juga meninggalkan bekas kasar di kulit, lho. Sang dokter juga mengiyakan resep serupa, jaman beliau kecil dulu juga dibalur dengan parutan jagung muda oleh sang nenek, walaupun untuk anaknya sendiri, resep ini tidak lagi ia praktekkan.

Ah, ya, ada foto kenang-kenangan saat si Adik sudah mulai membaik kondisinya. Sudah bisa memegang sendiri masker uap untuk meredakan batuknya. Mudah-mudahan ngga keulang lagi masuk rumah sakit, ya…

2 thoughts on “Terdampar 5 malam di rumah sakit (1)

    • ah, sama. saya juga kena cacar pas udah kuliah :)
      iya, sudah sehat. tinggal menambah nutrisi, maklum, balita gizi buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s