Terdampar 5 malam di rumah sakit (2)

Mungkin banyak yang menyangka, betapa bosannya 5 malam di rumah sakit. Ternyata, saya tidak! Walaupun sempat bete dengan channel-channel televisi berlangganan yang dipasang di sana. Katanya rumah sakit ibu dan anak, masak channel untuk anak satupun tak ada? Lebih banyak channel televisi dalam negeri dan… Fashion TV! Favorit bapak-bapak, tuh. Hahahahaha….

Biasanya, hal yang bikin orang betah adalah makanan. Menunya RSIA Anugrah Bunda Khatulistiwa enak-enak, loh. Memang nasinya diganti bubur, tapi buat saya tidak masalah. Yang nungguin dapat jatah makan juga? Ya, tidak. Cuma yang sakit ngga mau makan, masak dianggurin aja tuh bubur 3x sehari dan snack-nya 2x? Lagipula, kalau di rumah sendiri, ganti menu paling sering sekali sehari. Kalau di sini, sehari 3x menu berbeda! Hehehehe… Dan… umumnya masakan rumah sakit hambar, ya? Bukan bermaksud promosi, di sini enak! Ah, ya kebetulan saya mengenal orang yang mengelola katering rumah sakit ini.

Ibunya, yang tinggal seberang jalan, sudah lama dikenal sebagai langganan pejabat di kota ini untuk urusan makanan. Dulu, jaman saya masih TK dan SD, sering dapat kiriman kue-kue basah dari tetangga depan ini. Favorit saya, getuk lindri dan macaroni schotel-nya. Belum ada deh, yang menyamai rasanya sampai sekarang! Kehebatan si Ibu ternyata menurun juga ke anak-anak perempuannya. Setidaknya ada dua orang yang masing-masing punya usaha katering sendiri. Mbak Angky, yang sekarang juga mengurusi makanan di RSIA dan Mbak Ning, yang pernah membuat tart cokelat untuk Sweet 17 saya, begitu berkesan rasanya.

Eh, jadi ngomongin soal makanan ya?

Ya, ngga apalah, soal sakit kan sudah dibahas di posting sebelumnya. Sambungannya, cerita yang lain-lain saja, ya!

Hal lain yang bisa membuat saya tetap merasa betah di kamar adalah akses internet. Apa ada wi-fi? Kelihatannya sih, ada tapi ngga nyampe ke kamar. Walhasil, saya cuma mengandalkan ponsel untuk baca-baca timeline twitter dan baca-baca info soal campak. Besoknya, saya mikir, kenapa kok ngga nyobain aja koneksi internet di ponsel untuk laptop? Selama ini saya ngga pernah coba karena merasa setting-nya ribet di Windows. Koneksi bluetooth antara ponsel dan netbook saja sering gagal. Pakai Mac lebih simpel dan koneksi bluetooth-nya tak pernah bermasalah. Cuma tanya password dan APN ke teman yang kerja di operator seluler, nyambung deh. Bisa chatting, buka twitter, ngecek kerjaan dan main game.

Kalau sudah tahu caranya begini kan, ngga bingung lagi mau ngajar sambil buka internet. Hore! Mau gimana, kampus belum mampu menyediakan fasilitas yang layak bagi mahasiswa dan tenaga pengajarnya, apa boleh buat. Harus pintar-pintar cari akal. Untung belum sempat beli modem. Rugi bener…

Sebenarnya ada satu hal lagi yang saya pikir membuat saya rada betah di sana. Saya bisa istirahat. Fisik dan mental. Tak banyak yang dikerjakan, tak banyak yang dipikirkan, dan waktu habis untuk mencurahkan perhatian penuh untuk si Adik yang kadangkala terbengkalai karena urusan-urusan lainnya. Semoga saya bisa lebih baik lagi mengatur waktu, sehingga untuk beristirahat tidak perlu menunggu sakit! Insya Allah.

One thought on “Terdampar 5 malam di rumah sakit (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s