Asuransi seharusnya membantu, bukan membebani

Tadi pagi, saya kedatangan dua orang mahasiswa yang bukan bimbingan saya. Ada apakah? Ternyata berniat memprospek saya ikut asuransi hehehehe… Bagus! Terjun ke dunia kerja saat masih berstatus mahasiwa, tidak ada salahnya. Mencari banyak pengalaman malah lebih baik. Seperti layaknya seorang sales asuransi, dia sudah mempersiapkan lembar ilustrasi manfaat 15 tahun untuk paket yang dia tawarkan dan mulai beraksi dengan mengingatkan pentingnya punya simpanan untuk biaya sekolah anak. Dan tentu saja menyebutkan sederet kelebihan asuransi dibanding tabungan biasa.

Sebelum dia bercerita lebih banyak, saya potong saja. Saya katakan, asuransi bukan hal baru buat saya. Dalam beberapa tahun terakhir, saya pernah menjadi nasabah beberapa asuransi yang semuanya bernasib serupa, putus bahkan belum setengah jalan. Kenapa? Ya, karena kebetulan perlu uangnya. Saya sampaikan bahwa bukannya saya tak mau jadi nasabah asuransi, masalahnya saya merasa belum mampu.

Kalau bilang belum mampu, yakin deh, pasti ngga akan ada yang percaya. Ngga mampu kok bisa nyicil macbook? Hihihihihi… Maksudnya begini, untuk menabung saja, idealnya kita mengalokasikan sejumlah nominal uang setiap bulannya. Sengaja menyisihkan di awal bulan, bukannya menabung uang yang disisakan, karena tentu sulit menyisakan uang, ya, ngga? Pastinya kepakai terus, apalagi kalau anak merengek minta dibelikan ini itu. Sedikit-sedikit, habis juga isi dompet.

Nah, untuk asuransi ini, uang yang harus disisihkan tak sedikit. Kalau tadi sedang minum, mungkin saya tersedak waktu membaca rancangan yang dibuatkan untuk saya. Premi 34 jutaan untuk triwulan, atau premi semesternya 66 jutaan. Astaga, mau mengajar dari pagi sampai malam, 6 hari seminggu, gaji saya juga tak akan mampu membayar premi begitu banyak!

Secara teori, asuransi ini adalah jaminan masa depan. Menyisihkan penghasilan supaya tenang di masa depan. Tapi masalahnya, saya belum mampu untuk menyisihkan. Asuransi seharusnya membantu, bukan membebani. Pengalaman saya dengan 3 asuransi sebelumnya seragam. Sering tak punya uang cukup untuk membayar premi, dan karena telat bayar malah kena denda. Rugi amat. Untunglah untuk mengambil dana yang tersimpan tak harus menunggu belasan tahun. Ketika perlu uang agak banyak, terpaksalah simpanan asuransi ditarik. Cuma ya, jadinya gagal lagi gagal lagi punya asuransi. Kebutuhan bulanan kan tidak sedikit.

Saya sendiri punya pemikiran berbeda, mungkin, dibandingkan kebanyakan orang. Saya bukan tipe orang yang merasa resah tak punya simpanan. Karena saya merasa “dirampok” oleh bank dengan potongan-potongannya yang beraneka. Dari biaya ATM, pajak, dan tetek bengek lainnya. Uang tak seberapa jadi makin berkurang. Saya pernah punya pengalaman dengan 2 rekening bank yang berisi beberapa ratus ribu, tak pernah ditengok, tahu-tahu sudah habis isinya. Menyedihkan. Apa bedanya dengan menyimpan uang di dompet lalu dijambret orang? Analogi yang buruk, ya? Hehehehe… tapi memang itu yang saya rasakan.

Apalagi kalau ingat ajaran Islam soal sedekah. Apa yang kita sedekahkan akan kembali kepada kita berlipat ganda. Jadi sebetulnya, ngga perlu repot-repot dengan segala prosedur menabung dan asuransi itu. Sedekahkan saja seberapa yang kita punya. Saat berlebih, ya berilah lebih juga. Sehingga ketika kita butuh, Insya Allah kemudahan akan datang. Simplifikasi? Saya rasa tidak. Ini cuma masalah keyakinan. Yakin atau tidak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s