Mohon kebijaksanaannya, Bu…

Bijaksana. Berat untuk menjadi orang yang bijaksana. Seperti kata orang, usia bisa bertambah, bijaknya belum tentu. Apalagi kalau sudah berurusan dengan nasib orang. Saya beberapa kali diminta mendadak menjadi orang bijaksana oleh mahasiswa yang nasibnya kepepet. Ada yang menghadap langsung, ada yang menelepon, ada juga yang minta via SMS. Lama-lama ada yang minta lewat twitter dan facebook juga nih, jangan-jangan.

Saya mendadak jadi penting ketika nilai mata kuliah yang saya keluarkan dianggap kurang memuaskan atau membuat kelulusan mereka jadi terhambat. Mendadak jadi penting? Iya, karena sebelumnya tidak. Nilai buruk yang saya berikan tentu bukan tanpa alasan. Bisa karena jumlah kehadiran tak mencukupi, tugas yang tak dikerjakan atau nilai ujian yang buruk karena tak paham apa yang dibicarakan di kelas. Lantas karena nilai buruk itu saya dianggap tidak bijaksana, begitu?

Kesabaran saya rasanya mau habis di kasus terakhir, ketika seorang mahasiswa mengirim SMS sekitar seminggu yang lalu, mengatakan bahwa ia mendapatkan nilai E dan minta kebijaksanaan saya, sementara mata kuliah yang ia ambil itu sudah keluar nilainya sejak setahun lalu! Ditanya kenapa baru minta sekarang, alasannya sulit mencari saya. Oh, come on! Okelah, saya memang bukan dosen yang rajin nongkrong di kampus. Tapi alamat dan nomor ponsel saya, kan ada di tata usaha kampus, kapan saja bisa hubungi dan datang.

Dia berusaha membujuk saya untuk memberikan tugas agar nilainya bisa diperbaiki. Apabila keinginan ini ia sampaikan SEBELUM nilai keluar, dengan senang hati akan saya berikan. Saya katakan sebelum, karena seharusnya ia bisa mengukur diri. Saya pernah juga jadi mahasiswa. Sangat perlu untuk mengukur kemampuan diri. Mana kira-kira mata kuliah yang sanggup diikuti, mana yang perlu belajar ekstra, mana yang bisa lebih santai dan perlu juga memikirkan bagaimana nasib nilai yang akan keluar jika merasakan kesulitan saat mengerjakan tugas atau menjawab soal ujian. Jika memang merasa tak yakin, ya konsultasilah dengan dosen, kira-kira apa yang bisa dilakukan supaya nilai nantinya tak jeblok.

Entah ya, apakah mahasiswa sekarang berbeda dengan jaman dulu. Ketika saya masih jadi mahasiswa, lembar-lembar soal ujian dari para senior adalah senjata untuk menghadapi ujian. Soal-soal dipakai untuk berlatih, karena dari tahun ke tahun, pasti akan keluar lagi soal yang mirip. Sedih lihat mahasiswa sekarang, setidaknya di kampus tempat saya mengajar. Boro-boro mengumpulkan berkas dari senior, soal ujian yang boleh  dibawa pulang saja mereka pilih untuk ditinggalkan di meja pengawas.

Balik lagi ke cerita mahasiswa yang menginginkan saya bijaksana itu tadi. Sampai sekarang saya belum mengambil keputusan, walaupun saya sudah minta dia mengulang mata kuliah itu (yang seharusnya dia ikuti semester ini, tapi tak dilakukannya. Sehingga paling tidak dia harus tunggu setahun lagi), dengan wajah nyaris berurai air mata, ia terus membujuk. Saya cuma bisa bilang, akan didiskusikan dengan Ketua Pengelola Program. Apakah dengan memberikan ia kemudahan berarti saya bijaksana?

Seperti kata SBY, saya prihatin.

2 thoughts on “Mohon kebijaksanaannya, Bu…

  1. mungkin dengan lebih tegas dan tetap pada pendirian semula akan lebih bijaksana karena manfaatnya akan lebih besar untuk masa depan sang mahasiswa…

    soalnya dengan memberikan kelonggaran dia akan mengulangi hal yang sama dengan dosen yang lain…

    soalnya saya yakin, nilai yang didapatkan mencerminkan apa yang dia tanam sebelumnya…

  2. Ping-balik: Kok ngga ngasi tugas aja, Bu? « It's not about the writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s