Kemana benda-benda Ini harus dibuang?

Blog saya yang lain, tumblr tepatnya, baru-baru ini follow satu blog yang berfokus pada sustainable lifestyle (bingung nerjemahinnya, hehehe…). Salah satu tulisannya berisi pengamatan sang penulis terhadap benda-benda di pesawat udara yang ia tumpangi, yang semuanya serba dibungkus plastik satu demi satu karena alasan higienitas. Mulai dari headphone, selimut hingga wadah makanan. Bagi orang barat, pengemasan barang secara individual menggunakan plastik, menimbulkan rasa aman dan percaya bahwa barang yang diterima itu bersih. Padahal di barat juga semangat mengurangi plastik juga gencar. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini. Terus, bagaimana dengan kita?

Kalau lihat kampanye 3R (reduce, reuse, recycle) sebenarnya sudah cukup banyak masyarakat kita yang sadar. Setidaknya untuk reuse. Misalnya kantung plastik bekas membawa belanjaan, bisa dipakai ulang untuk mengalasi tempat sampah, hehehe… Di Pontianak setahu saya sudah ada yang berbisnis produk daur ulang dari plastik kemasan, pernah baca liputannya. Tapi bagaimana dengan barang-barang yang tidak bisa kita kurangi karena pasti dipakai, tak mungkin dipergunakan ulang dan tak paham bagaimana mendaurulangnya? Contoh sederhana; perempuan tiap datang bulan apa masih ada jaman sekarang yang pakai handuk kecil dipasangkan ke celana dalam menggunakan peniti? Semuanya pasti pakai pembalut wanita, kan?

Jaman dulu, ketika pembalut wanita hanya terbuat dari kapas dan serat alami lainnya, darah menstruasi bisa dibilas dengan air, lalu sisanya dibuang ke tempat sampah. Sekarang, dengan inovasi butiran gel yang bisa mengembang, membilas pembalut bekas pakai adalah hal yang sungguh sulit, karena gelnya akan mengembang menyerap air. Membuangnya langsung ke tempat sampah, rasanya gimana ya, apalagi bekas pakai hari-hari pertama hihihihi… Mungkin solusi terbaik adalah pembakaran. Saya jadi ingat satu dialog di novel Harumi Murakami, Norwegian Wood,

“Watanabe, kamu tahu asap apa itu?” tiba-tiba Midori berkata.

Tidak tahu, jawabku.

“Itu asap hasil pembakaran pembalut.”

“Oooh…,” kataku. Selain itu aku tak tahu apa yang mesti kukatakan lagi.

“Pembalut, tampon, dan sebagainya, ” Midori berkata sambil tersenyum. “Mereka membuang sampah-sampah seperti itu ke dalam kotak di toilet. Sekolah perempuan sih. Lalu petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan dan membakarnya dalam tungku pembakaran. Dan asap itu hasilnya.”

Kalau di Indonesia bagaimana ya? Heheheh… Itu novel dengan setting waktu tahun 1969, lho. Sekarang cara penanganannya pasti lebih canggih, sayang saya sendiri kurang tahu.

Masalah pelik sampah juga terjadi pada keluarga yang punya bayi. Popok kain yang berlumuran kotoran bayi bisa dicuci hingga bersih dengan air sabun. Popok sekali pakai? Mencoba membilasnya membuat ukurannya bisa menjadi 3x lebih besar dan menambah volume sampah. Apa boleh buat, tinjanya memang harus dibuang dibuang ke kloset dulu. Kecuali bersedia bersusah payah sering mengganti dan mencuci  popok, pakaian, selimut, sprei, dan menjemur kasur seperti orang tua kita dulu.

Itu baru popok dan pembalut. Bagaimana dengan batere misalnya, yang jelas mengandung bahan berbahaya, atau kaleng bekas racun nyamuk dan pembersih rumah tangga, yang pada kemasannya tertera tulisan jangan dibuang ke pembakaran sampah? Terus konsumen harus membawanya kemana? Tambah pusing kalau ada sampah pecah belah, pengangkut sampah enggan membawanya pergi. Takut terluka mungkin.

Semangat untuk menerapkan hidup lebih “hijau” jadinya luntur kalau sudah berurusan dengan sampah. Percuma saja dipilah-pilah. Oleh pengangkut sampah, aneka sampah yang sudah dipilih itu  dijadikan satu juga pada akhirnya. Paling-paling sampah botol plastik saja yang dipunguti oleh pemulung. Pernah berkunjung ke tempat pembuangan akhir sampah? Ya begitulah, semuanya kembali tercampur aduk.

Sempat terpikir mau buat lubang biopori untuk penyerapan air dan pembuangan sampah organik, tapi bingung cara melubangi tanah karena tidak punya bor. Duh, susah amat! Jadi tolong beritahu saya, apa ada cara sederhana mengatasi sampah di rumah?

4 thoughts on “Kemana benda-benda Ini harus dibuang?

  1. Wah belum tahu juga caranya mengatasi sampah, emang rumit kalau sudah berbicara masalah ini…

    untuk menyadarkan masyarakat membuang sampah pada tempatnya saja sulit, apalagi sampai membuat perlakuan yang istimewa pada beberapa sampah…

    apalagi pembalut yang setiap bulan kita gunakan

  2. Ping-balik: Sampah Rumah Tangga, Bagaimana Mengatasinya? | It's not about the writing, it's about the feelings behind the words.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s