Antara kakak, mbak dan bibi.

Belakangan istilah “kakak” kembali populer, katanya gara-gara penjaga counter Giordano rajin meneriakkannya untuk mengundang pengunjung. Saya sebut “katanya” karena belum pernah mengalaminya langsung. Panggilan seperti itu sebenarnya sudah lazim ditemui di pusat perbelanjaan kelas bawah di Pontianak. Lewatlah di depan toko-toko yang berjejer di plaza, para penjaganya akan sahut menyahut memanggil, “Mari, Kak… mampir, Kak…”, “Mau cari apa, Kak?” Jadi, ketika sebutan itu banyak dipakai kembali, rasanya tidak ada yang aneh.

Justru saya merasa aneh ketika dulu sekolah di Jogja, sahabat saya menyebut kakak untuk merujuk saudara lelakinya. Saya pikir tadinya dia akan menyebut “mas”. Saat itu saya baru tahu bahwa istilah kakak bisa dipakai untuk menyebutkan saudara kandung yang lebih tua, baik lelaki maupun perempuan. Berbeda dengan budaya Melayu, kakak dipergunakan untuk perempuan, sedangkan lelaki menggunakan istilah abang.

Sayangnya kebiasaan menggunakan kata “kakak” meluntur beberapa waktu belakangan ini tergantikan oleh kata “mbak”. Saya pikir ini pengaruh media juga, sih terutama televisi. Perhatikan deh, terutama di sinetron-sinetron. Pasti pakainya “mbak”.

Terus terang saya kurang suka dengan kondisi ini, karena membuat kata “mbak” kehilangan identitasnya sebagai kosakata yang berasal dari bahasa Jawa dan melunturkan sapaan asli daerah lainnya. Ibu saya termasuk yang memperhatikan perubahan ini. Beliau yang asli Sunda, sangat terganggu dengan sapaan para penjaga toko di Bandung yang sering menggunakan “mbak”. Kerap beliau menggerutu di belakang, “Kenapa ngga pake teteh aja sih, sama-sama orang Sunda ini.” Saya sendiri juga sebenarnya kurang sreg jika ada yang memanggil saya “mbak”, terutama kalau yang manggil bukan orang Jawa.

Istilah “mbak” juga telah mengalami pergeseran makna. Tak hanya dipergunakan untuk memanggil perempuan agar lebih sopan, kini “mbak” juga dipakai untuk memperhalus kata “pengasuh” dan “pembantu”. Saya tahu ini karena beberapa teman saya melakukannya. Misalnya saat bercerita, “…anakku kalau di rumah sama mbaknya…”

Saya paham, sih maksudnya. Tentu para ibu di rumah ingin anaknya memanggil pengasuhnya dengan cara lebih sopan. Apalagi kebetulan banyak pengasuh anak yang asalnya dari Jawa. Hmm … tampaknya orang tua sekarang sudah enggan memakai istilah “bibi”. Mungkin dianggap merendahkan?

Ah, mungkin kita lupa. Asal muasalnya kan kata itu adalah dari “bibi” yang berarti adik kandung perempuan dari ayah atau ibu kita, yang kalau orang Jawa membahasakannya dengan Bulik, ibu cilik. Oleh orang tua jaman dulu, agar kita tidak menganggap pembantu itu seperti babu, dipanggillah dengan sebutan bibi, atau dengan dialek daerah tertentu menjadi bibik.

Maka tak heran kemudian, istilah bibi dalam keluarga menjadi kurang populer, lebih banyak yang sudi dipanggil tante, heheheh…

Padahal, menurut saya pribadi, tak ada yang salah dengan penggunaan istilah pembantu, lho. Toh, namanya juga bantu-bantu. Bukan babu, bukan budak. Kenapa mesti dihalus-haluskan jadi pekerja rumah tanggalah, asisten rumah tanggalah? Yang penting kan bagaimana perlakuan si majikan ke pembantu, bukan cara memanggilnya.

Balik lagi ke kakak dan mbak tadi, terus terang saya senang dengan kembali populernya istilah kakak ini. Saya pun mendorong para penyiar untuk memilih istilah “kakak” untuk menyapa pendengar atau narasumber yang lebih tua ketimbang memakai “mbak”.

Nah, pertanyaannya apakah kata “mbak” ini nantinya akan mengalami degradasi fungsi kata seperti “bibi” karena terlalu banyak pergeseran maknanya? Kita lihat saja nanti.

Iklan

2 thoughts on “Antara kakak, mbak dan bibi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s