Kuliah cuma cari nilai?

Mungkin ada yang langsung mengiyakan. Ya, cari apalagi kalau bukan nilai dan gelar? Lantas, bagaimana dengan ilmu? Tidakkah kita sekolah berdasarkan keinginan sederhana kita supaya lebih pintar dan tambah pengalaman? Menurut saya, kepintaran tidak bisa diukur lagi dengan nilai.

Capek hati rasanya kalau bolak balik mengingatkan mahasiswa yang masih senang sekedar copy-paste tulisan orang ke dalam tugasnya. Mending nyambung. Biasanya malah melenceng jauh dari yang diinstruksikan. Mungkin tadinya mengharapkan saya akan terkesan dengan tulisan hebat buatan orang lain? Atau menyangka saya tidak akan sempat membaca satu demi satu hasil kerja mereka?

Nilai hanyalah sebuah indikator. Indikator yang sangat subjektif. Dengan koridor-koridor yang ditentukan oleh pihak sekolah/kampus dan dihitung oleh guru/dosen mata kuliah yang bersangkutan. Jika seseorang menguasai dengan baik bidang A, bukan jaminan dia akan lihai pula di bidang B. Akui saja keterbatasan diri, yang penting sudah berusaha berikan semaksimal mungkin.

Jaman sekarang, nilai IPK bukan tolok ukur utama seseorang diterima kerja, lho. Okelah, mungkin sebagian perusahaan memang mensyaratkan nilai minimal IPK untuk menyaring jumlah pelamar. Tetapi sesampainya di meja pewawancara, apalagi ketika benar-benar bekerja, tak seorang pun akan menanyakan,”Berapa IPK-mu?” Yang lebih penting nantinya justru bisa kerja apa tidak. Kalau dari jaman kuliah sudah terbiasa kemalasan, tak mau susah, suka meniru, tak punya inisiatif…perusahaan juga enggan memakai tenaga kerja macam itu lama-lama.

Tetapi ternyata oh ternyata, masalah pencitraan diri dengan nilai bagus ini bukan cuma penyakit oknum mahasiswa, namun juga berjangkit ke lembaga.

Jadi ketika satu mahasiswa saya datang untuk perbaikan nilai E yang dia peroleh (setahun yang lalu!), hendak saya tolak, saya diwanti-wanti untuk membantu memberikan perbaikan. Dengan perasaan gondok, saya terpaksa mengizinkan ia untuk mengikuti UAS bersama-sama mahasiswa lain yang kuliah semester ini. Dengan begitu, saya pikir persoalan ini sudah beres, rupanya belum…

Tadi pagi ia bersama seorang temannya menemui saya untuk memberikan surat resmi permintaan perbaikan nilai dari kampus. Ketika saya buka suratnya… WTF?! Ada empat nama yang tertera! Saya tanyakan kenapa jadi 4? Jawabnya, karena yang dapat C juga ingin perbaikan. Ketika saya beritahukan supaya mereka bersiap-siap untuk ikut UAS, sempat pula temannya protes, “Kok ngga ngasih tugas aja, Bu? Dosen yang lain ngasi tugas.”

Heh? Mau mengatur saya? Mereka pikir saya akan membagikan nilai A dan B semurah saya bagi-bagikan nasi bungkus? Rasanya ingin saya semburkan kata-kata pedas ke muka mereka.  Tapi, tak ada gunanya juga. It’s not me against them. It’s me against the system. Saya cuma tidak ingin mempersulit hidup saya saat ini dengan masalah baru.

Seperti presiden kita, saya cuma bisa prihatin.

One thought on “Kuliah cuma cari nilai?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s