Ternyata saya masih menyukainya :)

Gara-gara ngerjain posting #FOTISMINI di web radio, jadi jatuh cinta lagi sama Jason Mraz.

Ini posting blog ngga penting, seperti biasa. Tapi berhubung lagi mood nulis, terusin aja, ya.

Denger singel pertamanya, The Remedy (I Won’t Worry) —  di radio sendiri tentunya *uhuk* —  langsung suka. Belum bisa beli albumnya, karena belum dijual. Di radio, label rekaman pakai sistem promo single. Radio diberi jatah lagu satu atau lebih sesuai rilis single artis itu di negeri asalnya untuk dipromosikan. Cara tersebut juga menjadi satu di antara beberapa pertimbangan label rekaman pada akhirnya bersedia merilis album suatu artis di Indonesia. Kalau ternyata pendengar jarang rikues, tak ada radio yang berminat memasukkannya ke dalam chart, dianggap yaa… bakal kurang lakulah, ngapain jual rugi?

Nah, balik lagu ke Jason Mraz, pas saya temukan Waiting For My Rocket To Come — an album title that I found highly interesting — di toko musik, beli, deh. Padahal saya jarang sekali beli CD. Ngapain juga beli. Lagu di radio banyak, tinggal pinjam kalau mau. Tidak juga seperti @OtoTank yang tiap kali punya duit beli CD atas nama koleksi, bahkan sampai sekarang di era unduh bajakan tak lagi menjadi hal aneh, dia masih setia mengunjungi Disc Tarra.

Saat itu saya masih kuliah, tahun 2003. Saat itu belum ada yang rasanya yang sependapat dengan saya, bahwa Jason Mraz itu — meminjam istilah Syahrini — sesuatu banget. Radio di KL jarang nyetel lagunya. Apalagi teman serumah kontrakan. Tapi pernah satu waktu, saat saya nebeng mobil temannya teman untuk ke lokasi kegiatan kampus di luar kota, mobil itu memperdengarkan album yang begitu familiar di telinga saya. Begonya, bukan malah memecah kebekuan suasana dengan bahas common interest, saya tetap mematung sepanjang perjalanan. Bah! Jadi orang pendiam itu kadang menyiksa juga *curcol*.

Anyway, album tadi sempat menjadi top playlist di iTunes saya waktu itu sampe akhirnya laptop hilang dicuri *curcol lagi*

Sekembalinya ke Pontianak dan sibuk lagi di radio, saya melupakan Jason Mraz karena berurusan dengan setumpuk lagu baru setiap pekan. Apalagi hits-nya yang belakangan begitu “merakyat”. Coba, siapa yang tak tahu Lucky yang duet dengan Colbie Caillat atau I’m Yours yang overplayed dan bikin saya bosan setengah mati. Lagipula, saya juga bukan tipe orang yang rajin mendengarkan satu album penuh sampai hapal dan mengulik liriknya. Boleh deh, diadu  pengetahuan soal lagu Top 40. Tapi untuk lagu yang bukan single atau hits, saya angkat tangan.

Sampai akhirnya karena harus mencantumkan siapa artis minggu ini di web radio, ya mulailah saya kembali mengecek apa kabar beliau, melihat-lihat lagi videonya, juga mengunjungi website resminya yang ternyata berisi jurnal yang ia tulis sendiri. Jarang-jarang ada artis yang niat dan bisa menyempatkan diri menulis jurnal secara teratur. Juga ada kesempatan untuk memberikan donasi kepada lembaga sosial yang menggunakan namanya. Hmmm… kenapa ya kok artis Indonesia tak meniru cara seperti ini untuk mengumpulkan dana? Kalaupun ada, pastinya saya belum tahu. Bukankah lebih bagus kalau ada yang mengelolanya secara berkelanjutan? Ngga usah nunggu ada bencana baru bergerak gitu, lho. Padahal rasanya jamak di luar negeri namanya artis punya lembaga sosial sendiri, ya ngga sih? Atau mungkin karena belum membudaya di masyarakat kita untuk menyumbang kalau belum ada bencana? Ah, ngga taulah. Asal jangan sampai terulang kejadian yang katanya ada para sosialita cuma beradegan pura-pura menyumbang untuk acara amal demi ditampilkan di sebuah stasiun televisi. Nah, lho, pada ngikuti ngga beritanya? Sudah sampai mana, tuh?

Baiklah, setelah mendengarkan ketiga albumnya bolak balik malam ini —  yang ternyata masih mampu membuat saya memberikan nilai yang sama seperti saat mendengarnya pertama kali — ngantuk juga. Sebagai penutup tulisan ini, sepertinya pas kalau saya kutip lirik lagu. Pengakuan sedikit, berhubung bahasa Inggris saya pas-pasan, agak sulit untuk menangkap kesemua lirik lagu yang dia nyanyikan sedari tadi. Tapi ada satu yang mudah diikuti, sekaligus punya makna yang mudah dipahami, mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri hidup yang indah :)

Life Is Wonderful

It takes a crane to build a crane

It takes two floors to make a story

It takes an egg to make a hen

It takes a hen to make an egg

There is no end to what I’m saying

It takes a thought to make a word

And it takes some words to make an action

It takes some work to make it work

It takes some good to make it hurt

It takes some bad for satisfaction

It takes a night to make it dawn

And it takes a day to make you yawn brother

And it takes some old to make you young

It takes some cold to know the sun

It takes the one to have the other

And it takes no time to fall in love

But it takes you years to know what love is

It takes some fears to make you trust

It takes those tears to make it rust

It takes the dust to have it polished

life is wonderful

life goes full circle

life is so full of

life is so rough

life is wonderful

life goes full circle

life is our love

It takes some silence to make sound

It takes a loss before you found it

And it takes a road to go nowhere

It takes a toll to make you care

It takes a hole to make a mountain

life is wonderful

life goes full circle

life is meaningful

life is wonderful

 

Good night. Have a pleasant sleep :)

 

2 thoughts on “Ternyata saya masih menyukainya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s