Agar buah hati tidur nyenyak

Judulnya sudah mirip artikel di majalah, belum? Walaupun saya bukan penulis bukan juga ahli soal perkembangan anak, namun kali ini saya hendak berbagi pengalaman soal menidurkan anak. Kegiatan yang terdengar sepele namun bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam lamanya. Mungkin ini pula yang jadi alasan sebagian orang tua yang melepaskan anaknya untuk ditidurkan oleh pengasuh. Duh, kalau seharian sudah dengan pengasuh, masak tidur harus dengan pengasuh juga? Kasihan.

Cukup banyak teman saya yang mengeluhkan sulitnya membuat anak mau tidur. Tak hanya mereka yang seharian tidak bisa berjumpa dengan anak karena harus bekerja, juga yang ibunya adalah full time housewife. Tadinya saya pikir, ah pastilah si anak rindu dengan ayah ibu, wajarlah jika enggan lekas-lekas disuruh tidur. Tapi ternyata yang sudah seharian dengan ibunya pun masih saja bertingkah saat waktunya istirahat.

Satu hal penting yang saya tangkap dari nasihat para ahli dalam majalah dan ibu saya sendiri, berhadapan dengan anak harus konsisten. Konsistensi membuat ia tahu tak ada gunanya coba-coba melawan atau melakukan tawar menawar.

Ini sulit. Maklum, kala suasana hati sedang senang, orang tua cenderung pemaaf, mudah memaklumi. Bertolak belakang dengan saat-saat ketika anak secara tegas diminta untuk menurut.

Hal penting lainnya, anak-anak menyukai ritual, karena mereka senang mengulang-ulang sesuatu. Ingat ketika mereka masih bayi senang menjatuhkan barang berkali-kali? Nah, menyiapkan ritual yang tepat akan membantu mereka terbiasa dengan suatu kegiatan dan kelak akan dilakukannya sendiri tanpa paksaan.

Yang saya lakukan dengan kedua anak saya sederhana sebetulnya. Namun jika tidak dilaksanakan secara komplit, sering menimbulkan masalah. Tidur tak nyenyak dan mengganggu orang tua yang mungkin sudah punya rencana sendiri. Pergi ke bioskop seperti masa pacaran dulu, misalnya. Ahem. Penting, lho sering-sering pergi berduaan saja.

Baiklah, yang pertama, pastikan perut anak dalam keadaan terisi. Minimal susu, makan nasi lebih baik lagi. Ini akan menghindarkan ia terbangun karena kehausan atau kelaparan. Ada yang minta nasi goreng tengah malam tentu merepotkan, bukan? Hehehe…

Kedua, pastikan pakaiannya nyaman, sesuai kondisi cuaca. Namanya anak-anak, pasti punya baju favorit yang ingin sering-sering dipakai. Padahal belum tentu sesuai dengan suhu saat itu. Berikan pengertian bahwa tidur memakai celana pendek di saat hujan akan membuat  ia masuk angin.

Ketiga, ajak ke kamar mandi. Jika anak banyak minum, membiasakannya buang air kecil sebelum tidur menghindarkan resiko mengompol. Sekaligus cuci tangan dan kaki, serta lebih baik lagi sikat gigi. Membiarkan anak naik tempat tidur tanpa mencuci kaki akan membuat sprei terasa berpasir dan mengurangi kenyamanan. Btw, saya sering heran liat orang bule di film televisi kok pake sepatu dalam kamar bahkan saat berbaring di kasur. Apa ngga kotor? Tapi, ah, mungkin karena itu cuma film ya? Hehehe…

Keempat, sunyi. Membiarkan anak tertidur di depan televisi tak baik sekaligus merepotkan. Ketika anak-anak masih berusia di bawah 2 tahun saya sering membiarkan mereka terbuai gambar dan musik dari channel Baby TV. Tapi sungguh repot harus menggendong mereka ke lantai atas, belum lagi jika terjadi perebutan channel. Akhirnya saya putuskan mereka harus tidur tanpa gangguan suara. Jadi orang tua pun harus konsekuen, berhenti duduk depan laptop, ikut berbaring di sebelah mereka. Walaupun ini ternyata tak berlaku bagi suami saya. Anak-anak malah balik bermain lagi dengan abinya.

Kelima, bercerita. Katanya kebiasaan mendongeng sudah semakin menghilang. Padahal dengan mendongeng, bisa mengakrabkan orang tua dan anak. Saya bukan pendongeng, tetapi ternyata si sulung suka saat saya bercerita tentang bagaimana ia dilahirkan, bagaimana ketika saya masih bersekolah di TK atau cerita soal kucing-kucing peliharaaan. Sedangkan adiknya lebih suka jika dibacakan cerita bergambar.

Keenam, setelah membacakan cerita, saatnya memadamkan lampu. Baik saya maupun anak-anak tak suka kegelapan, tapi tidur dengan lampu menyala terang kabarnya kurang baik bagi kesehatan dan tak sesuai dengan sunnah Rasulullah. Kemudian saya tertarik dengan lampu kelap-kelip yang biasanya jadi hiasan mall. Gara-gara sering lihat lampu model begini jadi properti di video klip dan banyak sekali di Tumblr foto-foto kamar yang jadi dua kali lebih cantik karena dipasangi lampu ini. Saya beli saja dan sampaikan ke mereka bahwa kamar akan kelihatan indah karena ada lampu yang seperti bintang-bintang. Mereka senang sekali, lho.

Ketujuh, ajak anak berdoa, lalu nyamankan tubuhnya. Si sulung senang jika perutnya diolesi lotion kayu putih lalu dipijat kepalanya. Anak-anak saya juga lebih suka dipakaikan kaus kaki jika udara terasa dingin daripada diselimuti.

Semua langkah-langkah ini alhamdulillah membuat saya tak kesulitan menidurkan mereka, dengan catatan mereka berada dalam kondisi sehat. Anak sedang sakit, wajar rewel. Orang tua harus siap bangun kapan saja dan menenangkan mereka tanpa mengeluh.

Kalau anak-anak sudah tidur pulas, saatnya orang tua punya acara sendiri. Mencicipi masakan di restoran yang baru buka, mungkin? Atau berbelanja secara bebas tanpa todongan membeli mainan? It’s your choice.

2 thoughts on “Agar buah hati tidur nyenyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s