Arisan = Ajang gosip?

Sore tadi, setelah saya menulis twit tentang rencana pergi arisan, seorang teman menanggapi, menyebutkan arisan sebagai lokasi untuk update gosip. Sebenarnya saya ingin protes, tapi, ah wajar rasanya dia punya anggapan demikian. Sekelompok ibu-ibu berkumpul = ajang gosip sudah menjadi semacam stereotip. Tanya saja ke Rieda, yang paling males belanja sayur gara-gara gerobak si tukang sayur keliling jadi lokasi gosip ibu-ibu komplek hehehehe…

Kalau boleh mendefinisikan gosip, saya cenderung mengartikannya sebagai pembicaraan mengenai orang lain yang belum tentu pasti kebenarannya, dan walaupun benar, hanyalah yang bersifat keburukan. Membicarakan orang lain berupa kebaikannya semata, menurut saya secara tidak langsung bisa mengajarkan kebaikan dan menjadi contoh teladan.

Alhamdulillah, selama ini selama mengikuti arisan keluarga, belum pernah kakak-kakak sepupu saya terdengar membahas keburukan orang lain. Suami saya memang sempat terkaget-kaget ketika pertama kali bergabung dengan grup arisan ini karena berisiknya kalau sedang tertawa bisa sampai ke ujung gang. Lama-lama terbiasa juga. Apa sih yang mereka tertawakan? Asal tahu saja, ada sepupu saya yang pintar melawak seperti halnya comic dalam stand up comedy. Malah dia punya kelebihan dibanding mereka yang katanya comic, sepupu saya ini tak pernah menyinggung atau memperolok orang lain. Dia malah menggunakan dirinya sendiri sebagai bahan.

Eh, jadi ngelantur yah. Niatnya tadi tuh mau cerita manfaat arisan.

Iya, setidaknya buat saya, manfaat utamanya ada dua. Yang pertama, makan enak. Sebagai wanita yang tak pandai dan malas memasak, menikmati makanan enak buatan saudara sendiri adalah pengalaman yang menyenangkan. Dengan membayar 10 ribu rupiah saja untuk konsumsi, sudah dapat makan lengkap, plus dua macam kue homemade dan minuman segar. Boleh ngantong pula, hehehehe….

Kedua, update informasi. Nah, ini mungkin yang sering disalahartikan sebagai ajang gosip. Bagi saya, dengan jumlah sepupu cukup banyak, tersebar di beberapa kota, sulit untuk tahu perkembangan mereka. Iya, sih memang ada Facebook. Tapi kan, ngga semuanya aktif dan rajin isi status untuk berbagi kabar. Dan, ya perlu digarisbawahi ini: keluarga besar kami tidak berkomunikasi via BBM. Lewat arisan, jadi tahu si A sakit, si B dioperasi, si C anaknya keterima di UI, si D baru pulang umroh atau kalau mau pesan kue sama si E sekarang 1500 per potong.

Ketiga, jadi ajang transaksi. Jualan batik dan jilbab ibu saya lebih laku saat dibawa ke arisan, dibanding dipajang saja di butik. Apalagi dengan memakai sendiri produk-produk yang dijual, menarik perhatian peserta arisan untuk ikut membeli barang yang sama.

Sayangnya saya sendiri belum bisa membawa diri untuk menghadiri arisan-arisan lain. Entah itu di kampus, di RT, di sekolah anak, bahkan sesama alumni SD sehingga memilih untuk tidak ikut. Entah ya, mungkin karena saya merasa tidak mengenal pribadi mereka masing-masing, sehingga merasa kagok untuk berkumpul. Mungkin juga saya takut terperangkap dalam arisan yang berisi ajang gosip betulan…

Ada saran?

Iklan

2 thoughts on “Arisan = Ajang gosip?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s