Berenang, yuk!

Banyak pertimbangan ketika seseorang memilih hotel untuk bermalam. Dari jarak ke pusat kota, fasilitas kamar, hingga free shuttle ke bandara. Keluarga dengan anak kecil biasanya memasukkan kolam renang sebagai bahan pertimbangan. Itulah yang menjadi dasar keputusan suami saya saat memilih sebuah hotel di pinggir kota untuk berlibur beberapa waktu lalu.

Secara konsep, kolam renang hotel ini cukup unik berusaha memindahkah suasana tepi pantai. Sayangnya, praktek tak semudah teori. Pasir pantai yang sengaja ditaburkan di dasar kolam ternyata dikeluhkan anak-anak karena terasa menyakitkan di telapak kaki, belum lagi airnya yang terlihat agak keruh. Kurang tahu juga, apakah keruh karena ada pasirnya atau memang sudah lama tak dibersihkan?

Pengalaman kami yang lain soal kolam renang terjadi di Jakarta. Saat itu kami harus mencari hotel di daerah Salemba dan Cikini supaya berdekatan dengan lokasi acara keluarga. Dengan bujet terbatas, yang jadi sasaran tentulah bukan hotel berbintang banyak. Yang kemudian jadi pertanyaan adalah, hotel manakah yang layak diinapi oleh keluarga dengan anak-anak? Ngga maulah kalau harus sebelahan kamar dengan “pasangan” yang sedang “check-in”.

Syukurlah sekarang sudah banyak hotel melabeli dirinya sebagai hotel syariah. Apa itu? Hanya mereka yang betul-betul keluarga dan muhrim sajalah yang diizinkan untuk menginap. Lantas, bagaimana caranya membedakan mana muhrim mana bukan? Masak harus bawa buku nikah kemana-mana? Mungkin ada yang berpikir seperti itu ya… Ternyata pegawai hotel sudah paham betul kok, cara membedakan calon tamu dari gerak-geriknya.

Nah, yang menarik adalah soal kolam renangnya. Bukan desainnya, apalagi ukurannya yang lebih mirip kolam renang pribadi rumahan Terbagi dua, bagian dangkal untuk anak-anak dan dalam untuk dewasa. Terletak di lantai 1, dengan atap dan pintu yang bisa dikunci dari arah kolam. Sangat menjaga privasi. Kalau dari luar ada perlu dengan yang di dalam, harus memencet bel pintu dulu. Setiap keluarga boleh memakai kolam selama 1 jam melalui perjanjian dengan resepsionis, tanpa dipungut biaya tentunya. Sayang saya tak punya baju renang.

Tak punya? Iya, rasanya tetap saja risih walaupun ada baju renang yang menutupi seluruh tubuh seperti ini:

Foto: The Telegraph

Berenang bagi saya, adalah bagian dari pengalaman masa kecil yang menyenangkan, terlebih karena belum mengenal malu (baca: dada belum tumbuh haha!). Di Pontianak, dulu, punya kolam renang umum Tirta Ria yang letaknya jauh, di pinggir kota. Hanya sekali seumur hidup saya mencelupkan badan di sana. Mungkin karena letaknya yang terlalu jauh dari pusat kota itulah membuat usianya tak panjang. Saya les berenang bersama teman-teman satu sekolah di kolam renang Hotel Kapuas yang memang dibuka untuk umum. Belajar berenang itu penting, lho. It’s a life skill! Ngga perlu jago apalagi sampai dapat medali, asal kalau kecemplung ngga tenggelam aja, deh.

Untunglah, di jaman anak-anak saya sekarang, berenang sudah dimasukkan ke dalam jadwal tetap sekolah. Walaupun hanya sebulan sekali, cukuplah untuk memperkenalkan mereka seperti apa olahraga renang, karena ada Pak Guru yang melatih. Maklum, yang namanya orang tua, walaupun sempat, seringkali tak mengetahui cara mengajari anak. Tahunya berenang = main air. Jadi, keetimbang ke mall yang padat saban minggu, mendingan anak-anak diajak berenang, deh. They’ll love it.

One thought on “Berenang, yuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s