Tebalkan telinga, dinginkan kepala

Periode awal semester adalah masa-masa ketika saya harus menebalkan telinga dan menaikkan kemampuan untuk mendinginkan kepala. Bukan sok dramatis, tetapi kenyataannya memang demikian.

Awal semester, ketika mahasiswa sedang mengisi LIRS, tentulah mereka harus mengecek nilai mata kuliah semester lalu untuk memastikan berapa jumlah SKS yang bisa mereka ambil. Jika sesuai target tentu tak masalah, jika ternyata tak sesuai harapan, ada tipe-tipe mahasiswa yang berani mengejar dosennya untuk mengklarifikasi nilai yang mereka terima. Padahal kalau ingat jaman kuliah dulu, saya dan teman-teman cenderung pasrah menerima nilai apa adanya. Saya juga bukan tipe pengejar IP tinggi yang memaksakan diri untuk mengulang nilai C saya. Beda kali ya jaman sekarang?

Balik ke masalah klarifikasi nilai tadi, sayangnya mereka seringkali tak berbekal fakta sebelum mendebat si dosen yang ia anggap keliru memberi nilai. Contoh:

  1. Menganggap dosen “teledor” memasukkan nilai UAS-nya yang terlihat kosong di kolom nilai. Tetapi dia lupa mengecek daftar kehadirannya. Apakah sudah cukup rajin mengikuti perkuliahan minimal 75% dari keseluruhan pertemuan?
  2. Menuduh “pilih kasih” ketika membandingkan nilai temannya yang kurang rajin masuk ternyata mendapatkan nilai lebih bagus. Apakah dia bisa mengingat bagaimana performanya sendiri ketika mengikuti ujian? Dapatkah menjawab soal ujian dengan baik?
Nilai akhir didapatkan dari sebuah rumus baku. Sehingga seseorang yang nilai kehadirannya minimal sekalipun masih mungkin mendapatkan nilai A jika memang mampu mengerjakan ujian dan tugas-tugas dengan baik. Di kampus saya, rumus yang berlaku adalah 10% untuk kehadiran, 20% untuk tugas, 30% untuk UTS dan 40% untuk UAS.

Memang kekeliruan itu manusiawi. Saya sendiri memang pernah keliru memasukkan angka, karena mengerjakannya sudah larut malam. Atau terlewat memasukkan nilai tugas karena berkasnya terselip entah dimana. Tetapi yakinlah, merupakan keinginan semua dosen untuk meluluskan mahasiswanya. Janganlah sampai terpikir bahwa terjadi pilih kasih terhadap mahasiswa tertentu. Saya pribadi adalah tipe orang yang sulit mengingat. Mungkin saya akan ingat wajah seseorang, tetapi tidak namanya. Sehingga bagaimana mungkin ketika mengisi daftar nilai saya bisa mengingat dengan baik seorang mahasiswa yang tidak aktif di kelas namun dengan sengaja memberinya nilai bagus?

Lantas, apanya yang membuat kontrol emosi bisa terlepas?

Cara mereka melakukan klarifikasi. Sebagian melakukannya dengan cukup sopan dan bisa menerima penjelasan saya berdasarkan fakta yang ada, lalu pulang. Sebagian memaksa. Yang memaksa ini juga bermacam-macam. Ada yang berupaya membujuk saya dengan meminta tugas untuk perbaikan nilai. Betul, ini langkah yang tepat. Cuma, salah timing! Tugas tambahan seharusnya diminta ketika perkuliahan masih berlangsung, bukannya ketika nilai sudah keluar!

Saya menemukan beberapa mahasiswa yang menyadari bahwa ia perlu berjaga-jaga dengan meminta tugas tambahan ketika ia terpaksa absen dari kuliah atau dari presentasi kelompok yang harus ia lakukan. Seharusnya hal yang sama juga bisa dilakukan oleh mereka yang merasa gagal saat mengerjakan ujian tengah semester. Sayangnya, kebanyakan sih, boro-boro minta tugas tambahan, disuruh mengulangi pengerjaan tugas yang dibuat secara keliru saja enggan.

Lucunya, ada juga yang malah balik mengatur saya. Setelah mengejar-ngejar saya lewat telepon dan SMS, minta perbaikan nilai, ketika saya minta dia ujian ulang, malah ia menawar minta tugas saja. Sungguh mengesalkan, dan sungguh tidak adil bagi teman-temannya. Dia pikir dengan menyerahkan tugas yang isinya bisa dipastikan copy paste dari Internet akan mendongkrak nilai dia yang C jadi B atau A?

Ada juga yang coba-coba bawa nama orang penting ketika bernegoisasi dengan saya. Oke, lalu? Anda berharap dengan menyebut nama dia bisa mengubah nilai Anda? Seperti masih Orde Baru saja.

Lantas, apakah dengan nilai yang jatuh tak disangka-sangka itu, otomatis kesempatan untuk memperbaiki nilai pun kandas sudah?

Kabar baiknya, tidak juga. Ada beberapa faktor yang memungkinkan seorang mahasiswa bisa memperoleh perbaikan nilai. Pertama, faktor kepribadian dosen yang mengampu mata kuliah. Ada tipe yang sangat by the book. Dia hanya mau ikut aturan, jangan coba-coba melakukan negoisasi dengannya. Kedua, dosen yang toleran. Sayangnya, banyak yang menganggap remeh dosen yang mau memberikan toleransi semacam ini. Disangkanya dengan sedikit keahlian membujuk, nilai D-nya akan sukses terangkat ke B hanya dengan membuat sebuah makalah tak bermutu.

Sebaiknya yang ingin perbaikan nilai ini berkaca terlebih dahulu. Apakah saya aktif berdiskusi dan bertanya di kelas? Apakah saya rajin masuk? Apakah saya selalu membuat tugas secara betul sesuai dengan yang diperintahkan dan dikumpulkan tepat waktu? Apakah saya selalu bersikap baik di kelas? Kalau semua jawaban atas pertanyaan tadi adalah ya, tak ada salahnya mencoba bernegoisasi. Jika jawabannya kebanyakan tidak, ya… tahu dirilah, ya. Bagaimana mungkin saya bisa memberikan perbaikan nilai UAS, pada UAS yang sudah diberikan sebagai take home exam dengan waktu sampai 3 minggu? Tidak mampu mengerjakannya dengan baik sudah mengindikasikan ketidakseriusan pengerjaannya. Buat apa menoleransi orang yang tak menganggap serius kewajibannya?

Saya rasa cukup sudah mengomel panjang lebar di sini. Sebagai penutup, saya ingin berbagi satu tulisan yang sempat saya baca di Freshly Pressed, berjudul “I Want My Kids to Fail” sebuah tulisan mengenai orang tua yang menginginkan anaknya gagal. Mengapa? Karena ia ingin sang anak belajar bahwa meraih sukses itu tak mudah, melainkan perlu upaya keras. Berikut kutipannya:

I want my kids to fail in the classroom.  This is true education!  I don’t want them to believe that success is easy, but when a child is bright enough to learn with minimal effort and is rewarded with A’s for that, they come to believe that hard work isn’t needed for success.  I want them to struggle, to not always succeed on the first try – or the twentieth, to learn that asking for help is not a sign of weakness or lack of intelligence, and to see that success is often a long process.

Berani untuk gagal, berarti berani untuk sukses.

2 thoughts on “Tebalkan telinga, dinginkan kepala

  1. Belom pernah dikomplain mahasiswa kalo ngasi nilai C, tapi bisa ikut merasakan betapa menyebalkannya kalo dituduh pilih kasih ngasi nilai..

    Ngasi nilai A, B, C, D, 70,80, bahkan 100 tu mudaaah. Tinggal ditulis jak dilembar kertas tu. Tapi nyaman tengkok die kalo penampilan biasabiasa saja tros ujug2 dapat 70? Wuenak ajahh *jadi emosi :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s