Gerilya rikues lagu di Twitter

Gerilya tidak hanya dilakukan di medan perang. Di jaman modern, gerilya juga dilakukan lewat Twitter. Banyak sekali aksi sosial yang gerakannya bisa menggurita berkat memanfaatkan Twitter sebagai media. Satu aksi yang hendak saya soroti dalam tulisan ini adalah gerilya menaikkan nama band baru via Twitter, khususnya lagi, dengan cara memesan lagu tertentu kepada penyiar radio.

Aksi semacam ini sebenarnya bukan cerita baru. Dari jamannya belum ada Twitter, anak band yang mengirimkan lagunya ke radio secara mandiri, tidak melalui label rekaman, atau bahasa kerennya anak indie, ehm… akan berupaya agar lagunya bisa disetel sesering mungkin di radio.

Caranya bagaimana? Sederhana, melalui acara permintaan lagu. Mau itu dilakukan lewat SMS, telepon, maupun secara tertulis, tergantung aturan radio yang bersangkutan. Siapa yang memesan lagunya ke radio? Masak yang nyanyi ngerikues lagunya sendiri, bisa-bisa diketawain, tuh. Penggalangan dukungan dari orang-orang terdekat tentunya! Bisa sang manajer, pacar-pacar anggota band, keluarga dan teman-teman dekat. Sekali sehari saja bisa dituruti permintaannya, sudah luar biasa!

Maklum, untuk urusan playlist, masing-masing radio punya aturan mainnya sendiri. Ada yang begitu ketat dengan lagu-lagu yang disiarkan, hanya yang masuk playlist yang ditetapkan Music Director-lah yang boleh. Ada juga yang memberikan kelonggaran bagi para penyiar untuk memilih lagu-lagunya sendiri dalam persentase tertentu. Nah, kalau memang kebetulan lagu hasil karya musisi yang bersangkutan memang enak didengar, tak perlu kuatir, MD pasti akan memasukannya dalam playlist harian, bahkan bukan tak mungkin bisa masuk ke dalam chart, jika banyak yang menyukainya. Di sinilah peran penggemar akan tampak, lagu yang banyak disukai, akan semakin besar kansnya untuk masuk ke dalam tangga lagu, dan mendorongnya lekas-lekas naik ke peringkat yang lebih tinggi.

Lantas, kalau lagunya biasa-biasa saja, gimana? Di sini penggemar juga berperan. Okelah, MD mungkin kurang tertarik dengan materi yang ditawarkan, tetapi yang namanya radio, selalu ada jam-jam khusus yang menerima permintaan lagu dari pendengar. Nah, saat itulah kesempatan untuk beramai-ramai  memesan lagu dari musisi yang didukung. Ini dengan catatan, lho. Lagu yang dimaksud harus sesuai format musik radio yang bersangkutan. Kalau tak sesuai, maaf-maaf saja, sampai kemping di depan radio pun tak akan bisa meluluhkan hati sang MD hehehe…

Balik ke soal Twitter. Dukungan melalui pemesanan lagu ini berlangsung lewat media yang berbeda sesuai jamannya. Dari telepon, bergeser ke SMS, kini bergeser ke Twitter. Pemesanan lagu lewat telepon maupun SMS tak perlu waktu lama, akan ketahuan kalau yang melakukannya orang itu-itu saja. Maklum, untuk telepon bisa terdeteksi dari suaranya, sedangkan SMS bisa terlihat dari nomornya. Twitter, di lain pihak, memungkinkan satu orang memiliki banyak akun yang berbeda, sehingga terlihat seperti orang-orang yang berbeda pula. Modalnya cuma alamat e-mail dan foto profil alias avatar.

Ini berbeda dengan akun bot yang seringkali kerjanya cuma menyampah di mention orang, akun-akun gerilya semacam ini betul-betul dikendalikan oleh manusia. Yakin? Iya, dong. Namanya juga bergerilya. Beberapa ciri-cirinya adalah:

  • Umumnya menggunakan nama dan avatar perempuan
  • Following-nya didominasi akun-akun radio se-Indonesia
  • Follower-nya sedikit
  • Lokasinya janggal. Rasanya aneh ada akun dari Makassar atau Bali yang setiap hari pesan lagu yang sama di radio di Pontianak. Memangnya di kota masing-masing ngga ada radio?
  • Berupaya membaur dengan kultur lokal. Misalnya menggunakan bahasa lokal saat kirim salam, atau menyapa seseorang di kota yang masih di sekitar domisili radio.
  • Melakukan permintaan lagu secara teratur pada jam-jam tertentu seperti sudah dijadwalkan sebelumnya.
  • Selalu melakukan RT apabila lagu yang dipesan disetel oleh penyiar

Menarik!

Apakah salah? Tentu tidak. Cara seperti ini sangat wajar menurut saya dan sangat fair, tidak ada pemaksaan dari label rekaman misalnya, untuk menyetel lagu tertentu dengan frekuensi penyiaran tertentu. Cara yang saya pikir patut diacungi jempol. Jangan seperti oknum-oknum band lokal yang hanya tahu menggerutu dan menganggap radio pilih kasih tak pernah memutarkan lagu mereka. Menganggap radio lokal tak mendukung musisi lokal.

Jangan cuma menggerutu, lakukan sesuatu! Jangan-jangan sample lagu yang dimaksud belum pernah sama sekali ada berinisiatif yang kirim ke radio. Darimana kami bisa mendapatkannya? Perhatikan juga kualitas rekaman, sudah layak siar apa belum? Kalau sudah, silakan coba dan mulailah secara aktif bergerilya melalui berbagai media agar band Anda dikenal orang.

Saya ingat Galih pernah menulis sebuah twit tentang jawaban seorang pendengar ketika ditanya mengapa tak suka band lokal. Jawabnya,

“Ngga ngetop, sih, Bang.”

Perlu ngetop dulu ternyata, baru orang suka.

One thought on “Gerilya rikues lagu di Twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s