Penting ya punya toga?

Ngga perlu, kan ya?

Memangnya bisa dipakai kembali, untuk wisuda strata berikutnya, mungkin? Hahaha… rasanya tidak. Lihat saja gambar di bawah. Ini contoh sebuah universitas yang memiliki ragam toga untuk lulusan strata yang berbeda:

Sepertinya, toga adalah satu-satunya seragam di dunia ini yang hanya akan dipakai sekali seumur hidup. Bahkan di setiap universitas, desain dan warnanya sangat mungkin berbeda. Jadi rasanya lucu ketika saya mengetahui bahwa kampus tempat saya mengajar ternyata mewajibkan semua calon wisudawan wisudawati untuk membeli toga!

Seragam sekolah, jaket angkatan, atau seragam kerja, mau kita beli sampai sepuluh stel sekalipun tak masalah, karena dipakainya berkali-kali. Bisa dilungsurkan pula ke adik-adik atau disumbangkan kepada yang memerlukan. Toga, walaupun cuma satu, untuk apa punya? Masih masuk akal jika kewajibannya berbunyi boleh membeli atau membawa sendiri toga, jika memang pihak universitas tidak mampu untuk menangani perawatan dan penyimpanan ratusan hingga ribuan toga.

Sepanjang pengetahuan saya, rata-rata universitas mengajukan dua opsi, menyewa atau membeli. Ada juga yang meminjamkan dengan gratis. Yang mampu, dan enggan memakai bekas orang lain atau berniat untuk mengoleksinya demi sentimen pribadi, tentulah membeli menjadi pilihan terbaik. Yang tidak mampu, seharusnya diberikan opsi untuk sewa atau peminjaman secara gratis. Karena toga hanya dipakai sekali!

Tak bisa dipungkiri kebanyakan orang menganggap saat-saat mengenakan toga begitu istimewa, yang harus diabadikan dalam sebuah foto keluarga, sehingga kewajiban untuk membelinya pun tak dianggap sebagai suatu masalah. Tapi… kok ya rasanya sayang ya, punya barang yang tak bisa dipakai kembali, pun tak bisa diberikan ke orang lain. Apalagi dengan kejadian hangat kemarin, ketika puluhan calon wisudawan wisudawati gagal memperoleh toganya tepat waktu (baca beritanya di sini), artinya toga tersebut mereka beli tanpa sempat mereka pakai.

Hmmm… jadi ingat seragam TK anak-anak saya yang baru bisa dipakai setelah berminggu-minggu menanti karena si penjahit kebanjiran order… Bikin kepikiran, apa di Kalimantan Barat ini kekurangan tenaga penjahit atau bagaimana, sampai satu konveksi melayani berpuluh-puluh order dari sekolah seantero Kalbar sehingga tak bisa selesai pada waktu seharusnya?

Aduh, ngga kebayang, deh dongkolnya saya kalau  mengalami yang seperti ini. Mungkin lebih baik seperti Rieda, yang menganggap momen wisuda bukan sesuatu yang lebih spesial dari kelulusan ujian skripsi. Ia memilih untuk tidak datang pada acara wisuda. Alasannya apa saya kurang tahu pasti, mungkin malas mengikuti seremonial yang membosankan dengan persiapan merepotkan. Ngomong-ngomong soal repot, saya juga ngga habis pikir dengan perempuan-perempuan yang rela antri di salon sebelum subuh demi riasan wajah dan sanggul plus baju kebaya yang akhirnya ketutup juga dengan toga. Iya, dulu saya ngga sanggulan, dan pakai riasan wajah sekedarnya hasil karya ibunda.

Semoga saja ya, dengan kejadian ini, pihak-pihak yang berwenang mempertimbangkan kembali kebijakan yang mewajibkan pembelian toga ini. Bukan hanya karena penjahit beresiko tak bisa menepati order, tapi juga demi pertimbangan bahwa keharusan membeli barang yang tak bisa dipergunakan kembali rasanya… mubazir.

Iklan

5 thoughts on “Penting ya punya toga?

  1. Buzzz Buzzz Buzzz
    lam kenal

    Tergantung kepada pribadi masing2, tuk melihat soal toga, tp yg jelas semua orang pendapatnya benar, karena orang itu sendiri yang menjalani.

    Salam Madu Juga Sengat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s