Perlukah punya situs pernikahan?

Menurut saya, perlu.

Maklum, dalam tradisi di Indonesia, yang menyelenggarakan pernikahan umumnya adalah keluarga dari pihak perempuan. Jarang sekali calon pasangan diberi otonomi untuk mempersiapkan dan menyelenggarakan pernikahan mereka sendiri. Ada yang tahu beres, ada juga yang lintang pukang, jumpalitan ngerjain sendiri, tapi tetap berdasarkan panduan yang diberikan keluarga besar.

Dalam kasus saya dulu, motivasinya adalah ingin… narsis (´∇ノ`*)ノ

Ngga, kok. Just kidding. Seperti yang saya bilang di awal, perhelatan akad nikah dan resepsinya adalah milik keluarga besar, terutama dari orang tua saya. Ikut aja, deh. Berhubung saya orangnya juga tipe yang ngga mau pusing. Tapi kalau cuma diam-diam aja, kok, sepertinya tidak sedang hendak menyambut sesuatu yang istimewa? Makanya ketika (calon) suami saya mengusulkan pembuatan situs pernikahan, saya langsung setuju. Tujuannya, untuk mengabari pernikahan kami kepada teman-teman yang sudah tersebar kemana-mana.

Saya berkuliah di Jogja, dia di Bandung. Teman-teman kami pun umumnya menetap di pulau Jawa. Mengharapkan mereka bela-belain keluar ongkos pesawat cuma untuk menghadiri pernikahan, sepertinya mustahil, ya. Membuat situs pribadi yang berfungsi sebagai woro-woro jadi pilihan tepat. Maklum, jaman itu yang ada baru Friendster(⌒▽⌒ゞ

Kira-kira begini, nih, tampilan salah satu laman yang ada di temiyo.com (ah, ya itu penggabungan nama kami, temi & iyo):

Penasaran dengan halaman lainnya? Jangan dicari ya, sudah expired (“⌒∇⌒”)

Sengaja saya pilih halaman buku tamu, berhubung ngga ada foto pemeran utama wanita o (◡‿◡✿) Malu, belum jilbaban soalnya.

Nah, itu alasan sederhana saya sekian tahun yang lalu. Sekarang? Owww, ada lebih banyak alasan lagi! Ini adalah beberapa yang saya kutip dari Mashable.com, 7 Reasons Why You Need a Wedding Website, dengan modifikasi dari saya:

  1. Hemat biaya cetak dan pengiriman undangan. Rata-rata pasangan yang menikah, berdasarkan pengamatan saya terhadap keluarga dan teman, jumlah undangan berkisar dari 300-1000 orang. Makin eksklusif desainnya, bakal makin mahal biaya pembuatan, termasuk ongkos kirim, karena makin berat. Maklum, sudah jadi kebiasaan orang kita, demi menghormati, walaupun calon tamu tinggal di luar kota dan sangat mungkin tidak hadir, tetap dikirimi undangan. What a waste, huh?
  2. Easy gift registry access. Beda memang budaya orang bule dengan kita. Calon mempelai bule biasa membuat daftar hadiah yang mereka butuhkan, dan siapapun boleh memilih yang mana saja untuk dibelikan. Kalau di kita, harus ikhlas-ikhlas saja dikasi benda apapun oleh pemberi. Bahkan demi meminimalisir hadiah tak terpakai, sudah lazim kado diganti dengan uang. Hmmm… jadi penasaran, siapa ya yang mencetuskan ide “Mohon tidak memberikan hadiah berupa barang dan karangan bunga” ini. Ada yang tahu? Well, walaupun belum lazim, kalau mau mencoba tradisi gifts list ini, sah-sah saja, kan? Dan daftar hadiah akan lebih mudah diketahui jika dipasang di situs pernikahan.
  3. Your fridge can only hold so many magnets. Dimana biasanya menyimpan undangan pernikahan supaya tidak lupa menghadirinya? Umumnya orang bule, mereka menempelkannya di kulkas menggunakan magnet. Kalau paman saya selalu menyimpannya di bawah plastik penutup meja makan (∩_∩) Tapi, resiko hilang tetap ada. Kalau hilang, repot juga ya mengingatnya. Apalagi kalau lokasi resepsi di rumah yang belum pernah didatangi sebelumnya. Lantas, setelah acara undangan dikemanakan? Umumnya dibuang kan, ya? Duh, sayang banget! Apalagi kalau dalam undangan tersebut tertera tulisan Al-Quran, seharusnya tidak boleh sembarangan dibuang ke tempat sampah, sebaiknya dibakar sampai habis. Sebuah undangan online dalam situs pernikahan, tidak akan menghabiskan tempat, tidak akan hilang dan tak perlu dibuang.
  4. Change of plans? No problem. Perubahan mendadakan bisa langsung dimutakhirkan lewat situs. Bandingkan coba, kalau sudah terlanjur cetak undangan. Sudah tak bisa diubah-ubah lagi. Mana tahu kan, ada perubahan lokasi resepsi, atau mungkin perubahan nama mempelai  ( ´ ▽ ` )ノ
  5. It’s easy to stay in contact with your guests. Sebuah situs pernikahan umumnya memiliki menu buku tamu. Pengunjung bisa diminta memasukkan alamat email untuk mendapatkan notifikasi termutakhir. Kalau ada apa-apa tinggal kirim satu email untuk semua, bukannya menelepon sekian ratus orang!(x_x;)
  6. Sangat mudah memberikan klarifikasi lokasi. Kapan terakhir menerima undangan tanpa peta lokasi? Tak ingat? Ya, dengan makin pesatnya pembangunan kota, makin banyak perumahan yang dibangun, makin sulit mencari rumah seseorang. Tapi ngga mungkin kan, membuat peta lokasi sangat mendetail. Bisa-bisa kertas undangan kalah besar dari petanya sendiri. Dan siapa juga sih, yang mau direpoti dengan panggilan telepon dari orang-orang yang cuma menanyakan arah? Buatlah peta sedetail mungkin yang bisa dicetak di printer. Simpel.
  7. It’s eco-friendly. Berapa banyak undangan yang dicetak lalu terbuang? Tahu kan kertas asalnya dari batang pohon? Ngga perlulah saya jelaskan lebih rinci. Yang pasti, sekecil apapun sumbangsih kita untuk alam, kalau kita bisa melakukannya, lakukanlah!
Nah, itu beberapa alasan dari saya. Ada yang ingin menambahkan? Ada yang sudah punya rencana ke sana seperti Poe & Desri? Atau ada yang sudah melaksanakannya seperti Dini & Achie?
Pastinya, ini bakal jadi kenang-kenangan berharga bagi kedua pasangan. Kalau pasangan muda mulai berantem-berantem, boleh deh, mampir lagi ke situs pernikahannya, lihat-lihat kemesraan saat dulu, lihat-lihat foto pre wedding yang sudah dibuat dengan susah payah… Ah, this should be reason number 8!

5 thoughts on “Perlukah punya situs pernikahan?

  1. Ping-balik: Tentang Situs Pernikahan ini - Aping & Endah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s