Saat ujian skripsi kok asyik sendiri?

Hmmm…. besok pagi-pagi jam 8 sudah harus di kampus, ada seminar proposal. Siapa yang harus segera maju untuk seminar proposal atau sidang skripsi? Ayo ngacung!

Tegang ya? Pasti itu.

Ada yang mengganjal yang saya alami dalam pelaksanaan seminar atau sidang semacam ini. Pendingin ruangan tak menyala saat matahari bersinar dengan garang memang menyebalkan, tapi bukan itu yang saya maksud. Melainkan keseriusan mahasiswa dalam ujian seringkali tak diimbangi sikap pembahas/penguji. Bukan berarti para dosen ini ngga serius menguji, tapi kok sepertinya tata krama diabaikan. Justru menuntut mahasiswa bersikap formal. Mahasiswa yang terlalu banyak cengar-cengir ditegur. Bolak-balik menelepon atau kirim SMS untuk mengingatkan jadwal dimarahi. Kostum kurang berkenan dicela. Lantas, sebaliknya bagaimana? Sepertinya tak berimbang.

Saya akui, saat diskusi berjalan membosankan, saya juga sering membunuh kantuk dengan menulis dan membaca twitter/sms. Tapi kalo sembari nelpon, ngobrol, bahkan keluar ruangan padahal tidak sedang kebelet, sepertinya tidak menghargai, ya? Apakah memang hanya orang-orang di sekitar saya yang  seperti itu (walau tak semua, tentu) atau ini lazimnya orang Indonesia? Soalnya, sejak awal sudah Indonesia banget, alias ngaret. Minimal setengah jam dari jadwal baru bisa dimulai seminar/sidang. Yang namanya ponsel, boro-boro dimatikan, diganti nada getar saja tidak. Berkali-kali berdering, ya diangkat juga, ngobrol juga. Menghilangkan suasana sakral sebuah seremoni yang hanya dijalani seseorang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup. Yang saya kuatirkan adalah, ketika yang menyelenggarakan saja tidak serius, bisa jadi si mahasiswa pun ikut menyepelekan. Sulitnya, saya merasa seperti tertular dengan kondisi ini. Ya itu tadi, yang di depan serius menjawab, saya malah senyum-senyum baca linimasa twitter.

Nah, jika yang harusnya ditiru saja tidak bisa memberikan teladan, jangan heran kelakuan mahasiswa sekarang banyak yang bikin ngelus dada. Ngga usah jauh-jauh, deh. Contoh kecil, soal pakaian. Susah betul menertibkan mahasiswa datang kuliah/ujian memakai sendal. Lha, dosennya aja sidang skripsi pake jeans padahal dalam undangan tertera pakaian sipil lengkap. Eh, ngomong-ngomong, definisi PSL ini apa sih? Beneran dasi plus jas? Kenapa ngga pakai batik aja, sih? Kita hidup di negara tropis yang fasilitasnya masih memprihatikan, lho. Ngapain keren-keren pakai jas kalau lengket dan berbau keringat gara-gara AC ruangan mati?

Peraturan kalau dibuat tapi tak diikuti, percuma banget ya dibuat. Kasihan yang sudah capek-capek mikirin ide aturan dan redaksi kata-katanya.

Sekian curhat saya malam ini. Saya cuma bisa berharap mudah-mudahan sikap saya selama ini dalam menguji/membahas proposal/skripsi tak membuat mahasiswa sebal.

Untuk yang akan segera menempuh seminar atau sidang, semoga sukses!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s