Ranking di sekolah, ambisi siapa?

Siang tadi, selembar laporan nilai murni ulangan tengah semester si abang sampai ke tangan saya. Lumayan bagus.

uts

Di atas 80, dari 100, sudah bagus, kan? Ketika lembar kedua saya baca, ternyata ia hanya menempati peringkat 21 dari 45 anak di kelas.

Kecewa? Tak perlu rasanya. Ranking bukanlah hal utama dalam memotivasi keinginan untuk berhasil di bidang akademik, setidaknya bagi keluarga saya. Mungkin iya, di keluarga lain, kalau tak masuk 5 besar, atau bahkan tak ranking 1 di kelas, sang orang tua akan sangat kecewa. Si anak memang dituntut untuk mampu berkompetisi.

Sayangnya, saya tergolong orang tua yang tak tega menuntut anaknya dengan standar terlalu tinggi. Masih teringat celotehan teman sebangku anak saya, betapa ia harus bangun pukul 4 pagi untuk belajar, demi menghadapi ulangan harian.

Bayangkan, pukul 4 pagi! Bahkan adzan Subuh pun belum berkumandang! Dan dia baru kelas 1 SD!

Apakah ia lantas meraih ranking 1 atas usahanya tersebut? Ternyata masih banyak yang jauh lebih baik dan lebih keras usahanya, karena ia hanya duduk di peringkat ke 7 dengan nilai rata-rata 90.

Saya jadi ngeri, sebegitu kerasnyakah anak-anak kecil ini harus memperjuangkan nilai? Saya kuatir, apakah anak-anak ini berupaya kerasa atas keinginannya sendiri, atau jangan-jangan cuma ambisi orang tua yang ingin anaknya tampak hebat. Mudah-mudahan bukan karena alasan yang terakhir, ya.

Salah seorang keponakan saya yang bersekolah di tempat yang sama, saat ini masuk kelas akselerasi atas keinginannya sendiri. Tanpa paksaan orang tua, bahkan orang tuanya pun sampai kuatir karena si anak terlalu tekun belajar. Pagi sampai siang sekolah, sore les, malam hingga menjelang tengah malam masih belajar. Jika terlalu ngantuk, belajar malam diganti setelah subuh. Luar biasa ya anak zaman sekarang.

Tentulah saya tak bisa mengharapkan anak saya hendak bersikap serupa. Ia punya batas kemampuan yang berbeda, cara belajar yang berbeda, dan tentulah keinginan yang berbeda. Tugas orang tua adalah mengarahkannya saja. Yang penting si anak menikmati hari-harinya di sekolah, bagi saya sudah cukup.

Bener nih, puas dengan nilainya?

Yaaaa…. bohong, sih kalau bilang 100% puas. Berhubung masih ada yang angkanya di bawah 70.  Agama Islam pula. Bawaan malas belajar, keasyikan main game… (╯︵╰,)

Doakan ya, supaya si abang bisa lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s