Belajar untuk hapal, atau belajar untuk paham?

Hari ini anak sulung saya menyelesaikan ulangan kenaikan kelasnya. Saya bukan tipe orang tua yang cerewet dengan nilai anak dan memaksanya untuk rajin belajar. Tetapi rasanya sungguh mengganjal ketika menemaninya belajar dan menemukan banyak hal yang terpaksa dia hapal walaupun belum ia pahami. Cukup kesal ketika ia tak paham penjelasan saya, dan akhirnya terpaksa dia hapalkan saja. Contohnya ketika ia kesulitan memahami konsep apa itu peraturan dan ketertiban. Atau alasan mengapa magnet yang sama kutubnya bisa tolak menolak. Ampun deh, kelas 1 SD sudah disuruh belajar medan magnet dan sumber energi ┐(‘~`;)┌

Namun lebih kesal lagi ketika ia paham konsep, namun ketika tak sesuai dengan isi buku, maka ia disalahkan. Seperti untuk pertanyaan:

“Sebutkan salah satu ciri rumah tidak sehat!”

Ia jawab dengan

“Tidak membersihkan kamar mandi.”

Namun sang guru malah menuliskan jawaban sesuai buku teks,

“Tidak memiliki ventilasi.”

Secara logika si anak, tentulah kamar mandi yang tak dibersihkan akan kotor, bau dan bisa menyebabkan penyakit. Kenapa harus disalahkan? Hampir di setiap lembar jawaban ulangan yang dibagikan selama hampir setahun ini ia bersekolah,  selalu ada kesalahan serupa. Padahal sekolah anak saya tergolong favorit, yang menelurkan banyak siswa berprestasi. Apakah anak hanya boleh pintar sesuai buku, dan dikekang kecerdasannya untuk bisa lebih kreatif?

IMG_20130606_113322

Untuk melakukan protes kepada sang guru, saya pikir percuma. Kalau memang sistem pendidikan yang dijalankan pihak sekolah memang seperti itu, apa daya sang guru?

Kabarnya, kurikulum baru yang mau diterapkan  pemerintah di tahun ajaran mendatang di sekolah-sekolah percontohan, akan mengakomodir kreativitas siswa dalam belajar. Begitu banyak pro dan kontra berkaitan dengan kesiapan pemerintah dan pihak sekolah untuk menjalankan kurikulum baru ini. Saya tidak mau ikut berpolemik.

Saya cuma berharap anak saya senang bersekolah, punya banyak teman, punya pengalaman baru dan punya pengetahuan baru. Kalau memang kreativitasnya berpikir membuat nilainya berkurang dari seharusnya, tak masalah buat saya. Umi tetap bangga, Nak. (人´∀`*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s