Save the earth (?)

Sore masih dibasahi rintik hujan ketika beberapa gerombolan anak muda dengan jaket almamater memegang poster-poster seruan di sekitar Bundaran Untan. Kurang begitu jelas apa saja tulisannya, karena dibuat berwarna-warni dengan tulisan tangan. Selintas terbaca, “Save The Earth”.

Rasanya gatal ingin berkomentar. Kepada suami, saya berkata,

“Kalo beneran mereka mau save the earth, caranya bukan bikin tulisan-tulisan di kertas sebagus itu yang ujung-ujungnya cuma jadi sampah. Bikin kek, aksi pembersihan pantai, atau aksi lainnya yang jelas ada manfaatnya.”

Suami saya menimpali,

“Jangan-jangan kalau mereka ditanya cara save the earth itu gimana, mereka juga ngga tau.”

Kami berdua terdengar sinis ya?

Kalau belajar mempelajari ilmu komunikasi, pasti tahu deh, bahwa berdiri di pinggir jalan dengan menulis karton bertuliskan seruan tak ada gunanya. Siapa sasarannya? Apa pesan yang mau disampaikan? Efek apa yang diharapkan? Semua serba tidak jelas. Apa sekedar ingin diliput oleh wartawan biar besoknya masuk koran?

Apakah dengan membawa tulisan atau berseru di tepi jalan orang-orang lantas mendadak melakukan penghijauan? Mendadak menyumbang untuk pelestarian orang utan? Mendadak peduli untuk membuat lubang biopori di rumahnya dan memilah sampah menjadi beberapa jenis? Tidak, kan?

Bukannya menolak aksi semacam cerita di atas ya, tapi… boleh dong, punya harapan kepada anak muda jaman  sekarang untuk lebih kreatif dengan aksinya yang bisa punya hasil nyata untuk banyak orang. Apalagi, Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh hari ini, secara khusus di Indonesia bahkan punya tema besar:

Logo Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Indonesia

Dari tema ini saja sebenarnya bisa dicetuskan berbagai gerakan dari skala kecil hingga skala besar. Skala kecil, misalnya dari rumah sendiri, dari kamar kos sendiri; kebanyakan orang biasanya langsung membuang begitu saja sisa makanan ke tempat sampah. Padahal, sisa tulang ayam/ikan bisa diberikan kepada hewan-hewan liar seperti kucing atau anjing di sekitar rumah.

Kami di rumah, bukan hanya mengumpulkan sisa tulang dari piring di rumah; setiap berkunjung ke restoran pun, sisa tulangnya pasti dibungkus pulang atau diberikan kepada kucing liar yang biasanya lewat-lewat di bawah meja di tempat makan tepi jalan. Kalau pelihara ayam, mereka pun bisa memakan sisa nasi atau pinggiran roti untuk ikan-ikan di kolam Sisa lainnya, bisa dibuang ke lubang khusus di tanah agar bisa diolah menjadi pupuk kompos. Jika tidak pun, sisa makanan harus dipilah dari sampah yang bisa didaur ulang.

Skala besarnya gimana? Coba deh berkunjung ke rumah makan-rumah makan, restoran-restoran, atau hotel-hotel. Kemana larinya sisa makanan? Tentulah ke tempat sampah. Bahkan banyak yang menerapkan kebijakan ketat, bahwa makanan yang belum disentuh sama sekali pun, jika tak termakan oleh tamu yang memesan, tak boleh dibawa pulang pegawai, harus pula dibuang. Duh, sungguh mubazir!

Sungguh hebat jika ada pihak yang berani mempelopori pemilahan dan pengolahan sisa makanan skala besar dari tempat-tempat tadi. Ah, ngimpi ya. Buktinya, bank sampah yang sudah sukses di banyak tempat, tak juga bisa memasyarakat. Semua mau gampangnya saja. Bersisa ya dibuang, ngapain repot kalau sudah disediakan bak sampah oleh pemerintah dan ada petugas pengangkutnya?

Jangan gitu, ah. Mulai sekarang, yuk, perhatikan porsi makan kita. Pesan dan ambil secukupnya saja. Kalau masak di rumah, ya masak disesuaikan dengan jumlah perut yang akan diisi. Masak berlebih? Jangan lupa  tetangga kiri kanan juga bisa dikirimi, jangan sampai mereka cium baunya saja  ლ(´ڡ`ლ)

Saya yakin setiap orang juga pasti punya ide sederhana namun cemerlang untuk bisa diterapkan mulai di rumah masing-masing. Kalau bukan kita sendiri yang mulai, siapa lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s