Selera humor masyarakat kita sebatas slapstick?

Ingat adegan ini?

Hari semakin larut. Tim forensik menghentikan pekerjaannya menggali mencari jasad. Lampu-lampu dan generator dimatikan. Suasana hening. Mata detektif Loki menerawang, mengamati sekitar rumah TKP. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar bunyi sumbang peluit darurat . Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sang detektif mendengar suara tersebut, namun tak yakin darimana asalnya.

Credit title keluar.

Penonton diajak menebak akhir ceritanya sendiri. Apakah sang detektif berhasil menemukan lokasi Keller? Ataukah ia terpenjara selamanya di bawah tanah?

Bagi saya yang jarang pergi ke bioskop dan pilih-pilih tontonan, Prisoners memuaskan. Tapi saya bukan hendak membuat resensi film di sini. Justru hendak menyoal selera humor sebagian penonton bioskop kita.

Selera humor? Lho, memangnya Prisoners film komedi?

Bukan. Justru itu, bagaimana mungkin sebuah film yang begitu serius dan butuh konsentrasi untuk mengikuti jalan ceritanya bisa memancing urat tawa? Namun, demikianlah yang terjadi, di antaranya pada adegan penutup yang saya ceritakan di atas, cukup banyak penonton terdengar tawanya.

Ya, ampun dimana empati mereka? Iya betul, ini cuma film, bukan kejadian betulan, tapi tetap saja bukan untuk ditertawakan!

Hal ini ternyata tak cuma saya yang mengalami. Teman yang menonton di hari berbeda pun menyadari, ada sebagian penonton yang tertawa di adegan tersebut. Dia merasa tak ada yang perlu ditertawakan, karena ia justru merasa lega karena si tokoh utama masih hidup.

Asumsi sederhana yang saya tarik, mungkin mereka tertawa mendengar suara peluit yang terdengar sumbang. Tapi itu sama sekali tidak cukup membuatnya menjadi lucu, bahkan satir pun tidak!

Sudah jelas-jelas digambarkan di adegan lain, si tokoh tertembak pahanya dan dijatuhkan ke dalam lubang gelap di bawah tanah, ditutup lubangnya dengan papan, tersembunyi di bawah mobil bekas. Tentu tak sulit membayangkan ia berada dalam kegelapan, kedinginan di musim salju, tanpa makanan minuman dan terluka, berupaya meniup peluit dengan susah payah.

Saya jadi berpikir, apakah ini bagian dari budaya masyarakat kita yang sering menertawakan penderitaan orang lain? Soal ini banyak sekali ditulis di media, berkaitan dengan sajian komedi televisi kita yang melulu slapstick, yang menurut rating adalah favorit pemirsa.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan slapstick, genre komedi yang pertama kali dikenal di era film bisu ini. Cuma, kok ya makin ke sini, makin main kasar? Orang jatuh, ditertawakan. Ditempeleng, penonton ngakak. Banyak hal lain yang bersifat “siksaan” fisik menjadi bahan guyonan, dan ternyata sangat disukai penonton. Penggemar OVJ dan sejenisnya pasti tahu sekali yang saya maksud.

Nah, balik ke film Prisoners tadi, walaupun sepertinya agak memaksa, satu-satunya kesimpulan yang bisa saya tarik adalah kondisi psikologis penonton kita yang terbiasa dengan “menertawakan kesulitan orang lain”-lah yang membuat mereka tertawa dalam film yang justru menguras emosi. Entah apa yang terbayang dalam benak mereka. Mungkin mereka menganggap datang ke bioskop murni untuk hiburan dan melepas stres. Makin lengkap kalau bisa tertawa lepas. Duh, kenapa ngga cari film komedi aja sekalian?

Saya, begitu melihat adegan anak-anak yang menghilang tanpa jejak, langsung teringat anak-anak di rumah. Amankah mereka? Benarkah semua pintu dan jendela sudah terkunci? Apakah ibu saya bisa mendengar kalau mereka terbangun? Orang tua mana yang tak cemas jika anaknya dibawa orang tak dikenal?

Bagi yang belum nonton, ngga ada ruginya mengagendakan film ini. Ada banyak adegan dan dialog yang bisa direnungkan, mulai dari keimanan, nilai-nilai keluarga, rasa percaya kepada orang-orag terdekat, hingga insting orang tua terhadap anak yang biasanya benar.

Tak sepakat? Sudah menonton dan tahu persis dimana letak lucunya? Tolong beri tahu saya.

 

*edit

Baru saja menemukan wawancara dengan penulis skenario Prisoners mengenai ending film ini (spoilers!). Benar saja, tak sedikit pun ada maksud untuk membuat situasi menggelikan di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s