Cabe rawit pun tak ada…

Suatu siang, ada pesan masuk di grup Whatsapp teman-teman kuliah. Dia bertanya,

Bawa sayuran lewati imigrasi gimana, ya?

FYI, dia sedang berada di Penang, Malaysia, dan berencana kembali ke Banda Aceh esoknya.

Bawa sayuran?

Yang terlintas di kepala saya pertama kali adalah, ada sayuran unik yang jarang ada di Indonesia yang mau dia bawa pulang. Ya, seperti misalnya ibu saya yang senang belanja aneka sayuran daun untuk lalap, mulai dari daun mint, selada air dan entah dedaunan apalagi jika berkesempatan berbelanja di supermarket Jakarta. Wajar, di Pontianak yang berudara panas, aneka sayuran semacam itu tak bisa ditanam. Tapi ternyata teman saya itu cuma mau bawa cabe rawit merah! Rupanya, di Banda Aceh, cabe rawit merah termasuk barang langka di pasar.

Teman saya yang bekerja sebagai pramugari di Saudi Airlines dengan cekatan menjawab, bahwa tak ada masalah membawa sayuran melewati imigrasi selama terbungkus dengan rapi. Ia sendiri saat berada di base Jeddah, selalu memenuhi kopernya dengan wortel arab yang manis dan buah-buahan yang murah-murah.

Sejenak saya tertegun, wortel arab enak dan manis? Kebayang ngga sih, negara dengan banyak gurun pasir bisa menghasilkan wortel kualitas tinggi? Sulit diterima dengan logika sih rasanya, sementara wortel lokal Indonesia — yang kalau kata lagu, saking suburnya, tongkat pun bisa jadi tanaman — justru berpenampilan kurus dan warnanya tak secerah wortel impor. Lihat deh, di supermarket, mana ada yang mau jual wortel lokal sekarang.

Apa yang salah dengan negara kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s