Kamar pas = Kamar istirahat?

Kemarin saat berjalan-jalan dengan keluarga di Mal Matahari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke gerai Elzatta yang khusus berjualan perlengkapan fashion muslimah. Pernah membeli produk jilbabnya dan merasa puas dengan kualitas bahannya, saya berniat membeli lagi. Tanpa banyak pilih, saya mengambil contoh jilbab yang digantung lalu beranjak hendak memasuki kamar pas. Tertutup. Saya tunggu.

Rasanya sudah lebih dari lima menit saya berdiri, dan rasanya janggal sekali ada orang yang mencoba jilbabnya sedemikian lama. Saya bertanya kepada pegawai yang berada di balik mesin kasir, dan inilah percakapan singkat kami:

– Ini ada orangnya ya? Kok lama sekali?

+ Iya, Bu. Ada yang istirahat?

– Istirahat? Masih lama?

+ Ibu cobain di sini aja, Bu (sambil menunjuk ke cermin di pintu kamar pas)

– Di sini? Di luar maksudnya?

+ Iya, Bu. Kan bisa.

– Bisa gimana? Jilbab saya kan harus dibuka dulu!

+ Bisa, Bu. Kayak orang biasa begini (sambil mencoba memperagakan bagaimana jilbab bisa dibuka dan langsung memasang jilbab lainnya)

– Oh, kalau begitu saya ngga jadi ngambil ajalah.

Saya kecewa. Sekaligus prihatin.

Pertama, kamar pas ADALAH ruangan untuk calon pembeli mencoba produk yang dijual. Kenapa berubah jadi ruang istirahat? Istirahat bagi para karyawan pada umumnya berarti makan siang. Jadi apakah ada yang sedang makan di dalam kamar pas? Bukankah mereka bisa duduk saja di luar gerai? Apa susahnya? Apakah mereka sedang sholat? Mengapa tak menggunakan fasilitas mushola yang disediakan pihak mal?

Kedua, dimana tata krama mereka sebagai penjual?  Saya yakin pemilik gerai tak mungkin memperkerjakan pegawai-pegawainya tak kenal waktu. Lazimnya penjaga toko pasti diberikan jadwal kerja shift yang memperhitungkan kemampuan mereka sebagai manusia untuk bekerja. Apa mungkin ada yang tidur di dalamnya? Luar biasa kalau memang demikian. Mereka lebih memilih untuk membiarkan calon pembeli bersusah payah mencoba jilbab di luar ketimbang menyuruh si pegawai yang katanya sedang istirahat itu untuk keluar. Asal tahu saja, kamar pas yang tersedia ada dua, lho! Tapi tak satupun bisa saya masuki.

Ketiga, sebagai sesama muslimah, pahamkah mereka untuk menjaga tertutupnya aurat? Bagaimana bisa mereka dengan mudahnya menyuruh saya membuka jilbab di depan umum? Gerai itu berdinding kaca yang bisa dilihat dalamnya oleh siapapun yang melintas. Apakah jawaban yang sama akan mereka berikan juga apabila saya hendak mencoba sebuah gamis? Saya membayangkan mereka akan berkata:

Dilapis aja bajunya, Bu. Tidak usah dibuka. Bisa kok.

Yea, right.

Tapi tentu saja berdebat dan meluahkan emosi sepertinya buang-buang tenaga saja berhadapan dengan orang-orang semacam itu. Saya memilih me-mention akun @elzattahijab dan memperoleh permintaan maaf tadi malam sebagai balasannya. Cukuplah, saya tidak boleh menuntut lebih dari itu, berhubung pemilik merk bukanlah pemilik gerai.

Dalam dunia bisnis, produk seringkali bukan yang utama, melainkan bagaimana pelayanan yang diberikan. Saya yakin, banyak di antara kita lebih memilih berbelanja di toko A ketimbang toko B karena pelayanan baik dan ramah dari toko A walaupun barang toko B lebih komplit. Itulah sebabnya mengapa sebutan konsumen mempunyai arti berbeda dengan pelanggan. Ya, saya memang pernah menjadi konsumen di gerai tadi. Berharap saya jadi pelanggannya? Maaf, saya tidak berminat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s