Ajari anak rasa malu

Beberapa waktu lalu, ketika kasus pelecehan seksual anak di JIS (Jakarta International School) gencar diberitakan, ramai pula warga internet  khususnya para orang tua dengan anak kecil, berbagi informasi soal “The Underwear Rule” untuk mencegah terulangnya kasus sejenis. Bahkan ada yang niat bikin versi bahasa Indonesianya segala. Iya, “The Underwear Rule” ini kan inisiatifnya NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children), tentulah dalam bahasa Inggris.

image

“The Underwear Rule” ini sebenarnya tidaklah istimewa. Bagi muslim, kita sudah mengenal konsep aurat. Bagi perempuan, seluruh tubuh wajib ditutupi kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan lelakinya boleh membuka tubuh kecuali dari bagian pusar hingga lutut. Berhubung kewajiban ini hanya berlaku jika seorang anak sudah memasuki masa akil baligh, para orang tua relatif berbeda cara saat memperkenalkan konsep aurat kepada anak. Ada yang sejak bayi bahkan anak sudah ditutupi sedemikian rupa (kadang saya tak tega melihat si bayi berkeringat kepanasan), ada pula yang membiarkan si anak tahu sendiri dari pelajaran agama di sekolah.

Menurut pandangan saya, konsep aurat harus dikenalkan sejak anak sudah memasuki masa pra sekolah, ketika mereka sudah bisa diajak berbincang dan telah memahami konsep sebab-akibat. Pemahaman konsep aurat ini dapat mengajari anak rasa malu; rasa tak pantas bagi orang lain melihat bagian yang menjadi privasi sekaligus mendidik anak menghargai diri sendiri. Bagi yang bukan muslim pun, saya pikir konsep malu adalah hal perlu diajarkan sejak kecil agar anak mampu menjaga diri.

Terus terang, saya sering merasa jengah melihat orang tua yang membiarkan anak perempuannya menggunakan rok pendek dan membuat celana dalamnya terlihat banyak orang gara-gara si anak bergerak begitu aktif. Pakaikan ia celana tentu lebih baik. Silakan berikan ia rok ketika tingkah lakunya sudah lebih kalem dan bisa berhati-hati supaya roknya tidak tersingkap.

Belum lagi polah orang tua yang menelanjangi anak untuk mengganti bajunya di depan umum, atau menyuruh si anak lelaki pipis di sembarang tempat, tanpa merasa perlu mengajaknya ke WC. Bahkan, suami saya pernah menyaksikan sendiri seorang bocah kelas 3 SD dengan santainya membuka celana di depan WC, menggantung celananya di pegangan tangga dekat pintu lalu berlenggang masuk untuk pipis tanpa menutup pintu. Sungguh, saya tak habis pikir dengan orang tua si anak. Padahal itu terjadi di sekolah Islam, yang semua murid menggunakan celana panjang dan murid perempuan menggunakan kerudung. Apakah sang orang tua berharap pihak sekolah mengajarkan semuanya pada anak? Mana bisa orang tua lepas tangan!

Tragisnya, lebih banyak orang tua yang malu kalau nilai anaknya jelek ketimbang melihat anaknya tak berbaju di depan orang banyak.

Anak mempelajari nilai-nilai hidup dari orang tua. Tindakan preventif hanya bisa dilakukan apabila orang tua menyadari sepenuhnya anak adalah subjek yang perlu mempelajari banyak hal yang menjadi bekal masa depan anak. Mari introspeksi diri, sudahkah kita mengajarinya rasa malu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s