Jadi Kepala Ruang (1)

Hari ini saya dapat jabatan baru sebagai kepala ruang, di rumah sakit pula! Tapi… cuma sehari ( ´ ▽ ` )ノ

Ceritanya, di hari ini, saya ketiban tugas mengawas sebuah ruangan ujian penerimaan mahasiswa baru. Kebetulan lokasinya di ruangan rumah sakit yang belum terpakai. Bersyukur banget, berhubung AC menyala sepanjang hari. Ngga perlu perlu bersimbah peluh di tengah gerahnya cuaca kota Pontianak yang terasa terik sekali siang ini.

Rumah sakit ini lokasinya di lingkungan Universitas Tanjungpura juga. Sudah pernah berobat di sana? Belum? Wah, padahal sudah diresmikan sejak lebih dari setahun lalu, lho. Khusus untuk kalangan civitas akademika Untan, ada biaya-biaya tertentu yang digratiskan. Kebetulan saya cuma mendapat cerita dari beberapa mahasiswa yang hanya membayar obat-obatan ketika mendapat perawatan di sana. Saya coba cari info via internet, namun belum ada situs khusus RS Pendidikan Untan; pun tak ada penjelasan di situs Fakultas Kedokteran maupun portal resmi Untan. Sayangnya, dengan letak yang cukup strategis dan bisa menjadi alternatif dari rumah sakit daerah yang selalu mendapat antrian panjang, entah mengapa rumah sakit ini relatif sepi peminat. Apakah karena tidak menghadirkan para dokter ternama di Pontianak? Bisa jadi.

Ruangan ujian di RSP Untan terasa agak janggal karena memang peruntukannya bukan untuk ruang belajar. Banyak kursi yang disusun di area-area terbuka. Bahkan di ruangan saya bertugas, seorang peserta terpaksa berhadapan dengan sebuah wastafel; dan dia tidak cukup iseng untuk mencoba mencuci tangan di situ 〜( ̄▽ ̄〜)

Saya pikir, walau dengan banyak keterbatasan, lebih enak begini, semua terpusat di Untan selaku panitia lokal. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang harus menyewa gedung olahraga atau meliburkan sekolah-sekolah yang dipakai ruangannya.

Eh iya, sudah tahu nama ujian diganti lagi jadi SBMPTN? SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) ini sempat membuat saya bingung. Beberapa minggu lalu, muncul pengumuman kelulusan SNMPTN di surat kabar. Lho, kapan ujiannya? Tanya kiri kanan, rupanya SNMPTN ini adalah jelmaan dari penerimaan tanpa tes, berdasarkan nilai rapor. Jaman saya kuliah dulu namanya masih PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) atau di UGM dulu namanya PBUD (Penjaringan Bibit Unggul Daerah), sebuah istilah yang membuat saya merasa seperti sejenis varietas padi unggulan  (ॢ˘⌣˘ ॢ⑅)
Singkatnya, SBMPTN dan SNMPTN adalah dua jalur masuk PTN yang berbeda.

Jadi, namanya berubah lagi? Lha, memang iya. Sudah biasa kan? Nama departemennya saja labil. Dari Depdikbud ke Depdiknas, eh balik ke Depdikbud lagi. Jangan heran kalau kebijakannya juga gonta ganti melulu. Mungkin niatnya baik ya, menyempurnakan bentuk penyelenggaraan dan prosedur, dsb; tetapi berhubung namanya ikut diganti terus, orang cuma ingat namanya saja yang berubah, isinya tidak. Setidaknya kita sudah pernah berjumpa dengan istilah Sipenmaru, UMPTN, SMPTN dan sekarang SBMPTN. Adakah yang terlewat? Pengelompokan peserta tes juga sudah berubah nama. Tidak lagi IPA – IPS – Campuran, sudah berubah jadi Saintek – Soshum – Campuran. Apa bedanya ya? Berhubung saya cuma pengawas, bukan panitia pusat, maaf, saya juga tak bisa menjawabnya (╯︵╰,)

One thought on “Jadi Kepala Ruang (1)

  1. Ping-balik: Jadi Kepala Ruang (2) | It's not about the writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s