How to a be a gentleman (Does anyone still care?)

Pagi tadi ruang kuliah tidak seperti biasanya. Kursi-kursi banyak yang masih disusun di pojok depan kelas karena tak terpakai saat ujian SBMPTN 2 hari lalu. Saya duduk, menyiapkan diri untuk presentasi. Saya berpikir, para mahasiswa akan dengan sendirinya mengemaskan ruangan dengan meletakkan kembali kursi-kursi di posisinya semula. Ternyata tidak, masing-masing terpaku di tempatnya. Hanya yang baru tiba dan tak kebagian kursi yang mengambil sendiri kursinya yang masih tertumpuk. Sampai saya harus bertanya:

Ini bagaimana saya mau presentasi terhalang kursi seperti ini?

Beberapa mulai bergerak dengan gerak-gerik malas. Setelah tiap satu orang mengambil satu kursi, mereka duduk lagi. Padahal masih banyak yang tersisa. Yang terus bolak-balik hanyalah satu mahasiswa perempuan berbadan kecil, dengan rok panjangnya bersusah payah menggeser kursi. Ini, bukan kursi lipat, melainkan kursi kayu berat yang saya sendiri mungkin hanya mampu mengangkatnya 5 cm dari atas lantai! Sementara para mahasiswa lelaki? Duduk santai di belakang pura-pura tidak melihat. Saya bertanya lagi:

Kok temannya dibiarkan? Tidak dibantu?

Luar biasa, mereka hanya tersenyum-senyum. Lelaki macam apa itu? Bukan berarti saya mendukung stereotipe perempuan adalah makhluk lemah yang perlu dibantu, tapi hey, ini kan kita hendak segera memulai kuliah, bantulah supaya cepat! Saya tidak tahu, apakah mereka memang sekedar malas, atau memang gentleman di dunia ini sudah jadi makhluk langka.

Apa itu gentleman? Di dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan kata langsung untuk kata ini, namun dapat dimaknai sebagai orang yang memiliki budi bahasa halus. Seperti apa kriterianya? Menurut ajaran Confusius, ada 8 atribut yang harus dipenuhi, seperti digambarkan dalam infografik di bawah ini:

How to be a Gentleman?

 

Jadi gentleman, memang tidak ada sekolahnya, dan tiap budaya akan memiliki perbedaan terhadap penekanan atas sikap-sikap yang perlu dikuasai. Apa yang diajarkan versi Confusius, misalnya, tak sama persis dengan apa yang dipahami budaya barat. Versi WikiHow menyebut 8 kriteria: Present Well, Be Polite Partake in Polite Conversation, Be Courteous to Women, Respect Your Girlfriend, No Fighting Allowed, Fight Like a Gentleman, Help Being a Gentleman. Kedelapan kriteria tersebut di sini dijabarkan lagi secara mendetail untuk mudah dipahami.

Apa gunanya jadi gentleman? Should being good need a reason? Menjadi seorang gentleman, bukan hanya mampu mendapatkan penghargaan dan memberikan kesan baik terhadap perempuan, tetapi orang lain pada umumnya; plus, you’ll feel better about yourself!

Jadi gentleman, bukan cuma sekedar asal sebut “ladies first” lalu mempersilakan teman perempuan untuk maju terlebih dahulu saat disuruh presentasi. Itu sih, cuma mengulur waktu karena tak siap maju ke depan. Saya bahkan ngga yakin yang ngomong ngerti apa maksud ladies first dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya.

Girls, you may want boys; but you need gentlemen. Find them!

 

gentleman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s