Jadi Kepala Ruang (2)

Berhubung sudah ada tulisan Jadi Kepala Ruang (1) mau ngga mau sekuelnya harus dilanjutkan yah ( ´∀`)

Ada satu kejadian yang langsung membuat saya sempat merasa gagal menjadi Kepala Ruang. Ceritanya, ketika beberapa lama setelah peserta ujian dipersilakan mengisi data diri di lembar jawaban, datang seorang peserta dengan tergesa-gesa. Sempat pula dia mengutarakan alasannya telat gara-gara jalanan macet.

Macet? Kamu naik motor kan? Apa iya Pontianak sudah semacet itu sampai kamu setelat ini? Yang lain sudah kumpul dari sejam yang lalu! Bukannya ujian ini adalah salah satu penentu nasibmu di masa yang akan datang? Mengapa tidak berusaha bangun dan bersiap lebih awal? Mengapa yang lain bisa tepat waktu, kamu tidak? Niat ujian, ngga sih?

Ah, ya, tentu saja semua pertanyaan itu saya ungkap di dalam hati, tak perlulah menambah ketegangan para peserta ujian.

Singkat cerita, selesai sesi pertama, peserta diberi waktu istirahat dan kami para pengawas harus mengumpulkan lembar jawaban secara berurutan untuk mempermudah pengisian berita acara dan menempatkannya dalam 2 amplop terpisah. Nyaris 30 menit terbuang hanya untuk mencari dua lembar yang kami sangka hilang. Ternyata satu peserta duduk di bangku yang keliru sehingga mengacaukan urutan; satu lagi, lebih parah. Sudahlah salah duduk salah pula mengisi nomor peserta. Dugaan kami, karena datang terlambat, ia langsung duduk tanpa memerhatikan nomor peserta yang ditempel di meja. Ketika mengisikan nomor peserta di lembar jawaban, yang ia tulis bukanlah nomor yang tertera di kartu peserta yang ia pegang, melainkan menyalin nomor yang ada di meja; ia duduk di bangku yang salah.

Salah mengisi nomor peserta adalah kesalahan yang sungguh fatal! Ketidakcocokan nama dan nomor peserta ujian bisa menggugurkan kesempatannya untuk lulus mengingat lembar jawaban dikoreksi menggunakan komputer. Akibat sudah memercayakan absensi ruangan kepada 2 pengawas lain, saya tak lagi mengecek para peserta. Ini adalah tanggung jawab saya!  Apa yang harus saya lakukan, sementara peserta bermasalah tadi belum juga kembali ke ruangan? Waktu semakin mepet dan akhirnya saya ambil keputusan untuk membantu si peserta dengan mengganti nomor pesertanya dengan angka yang benar, disaksikan kedua pengawas.

Salahkah tindakan saya? (−_−;)

Semoga tidak ya. Setidaknya saya yakin, kalaulah ia lulus nanti, itu karena memang ia layak dan mampu, bukan karena bantuan saya. Yang pasti kejadian tersebut sempat membuat saya cukup emosional mengingatkan kembali para peserta mengenai aturan-aturan ruangan ujian; kemudian jadi lemas saat melihat jatah konsumsi cuma nasi bungkus, bukan nasi kotak… tak kebagian pula. Padahal masih harus mengawas hingga 14.30…

.・゜゜・(/。\)・゜゜・.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s