7 kiat raih prestasi akademik

Mahasiswa mana yang tak ingin punya IPK bagus? Merasa tak mampu? Jangan mudah putus asa! Pahami dulu keterbatasan diri, namun tetap semangat berusaha yang terbaik. Saya akan coba menulis beberapa saran seobjektif mungkin, tidak hanya berkaca pada pengalaman saya pribadi, namun lebih banyak merupakan cara ampuh teman-teman saya yang ber-IPK bagus jaman saya berkuliah dulu. Siap? Yuk, kita mulai:

  1. Rajin masuk.
    Semembosankan apapun dosen dan mata kuliah yang diajarkan, masuklah. Ada tipe dosen yang suka membuat soal berdasarkan apa yang ia terangkan di depan kelas, bukan yang ia jadikan bahan diktat dan catatan. Rajin masuk kuliah juga memungkinkan tambahan nilai yang didapat dari kuis. Seringkali, kuis sengaja dilaksanakan dosen agar hasil akhirnya bisa dipakai sebagai nilai pembantu apabila nilai akhir terasa nanggung. Misalnya yang tadinya 7,94 bisa dibulatkan menjadi 8,00. Dapat A, deh!
  2. Sebisa mungkin duduk di depan.
    Buatlah dosen mengenali Anda. Setidaknya wajah Anda. Manusiawi jika dosen lebih senang melayani pertanyaan dan diskusi mahasiswa yang sering ia temui di kelas asyik mendengarkan ketimbang yang tak pernah terperhatikan karena asyik sendiri ngobrol di belakang.
  3. Aktif.
    Ajukan pertanyaan, atau jawablah pertanyaan yang diajukan dosen. Tanyalah apa saja, dan jawablah sebisanya. Dosen tak akan menyalahkan Anda jika jawaban keliru, itu wajar. Asalkan jangan asbun alias asal bunyi. Mulut yang asal bunyi ini sama saja menyepelekan lawan bicara. Bukannya senang, bisa-bisa dosen malah antipati dengan Anda. Bicaralah minimal sekali dalam satu pertemuan. Dosen akan mengingat Anda sebagai mahasiswa aktif.
  4. Membaca
    Terus terang saya tak habis pikir dengan orang yang tak suka membaca. Bagaimana caranya ia menyerap pengetahuan baru? Syukurlah kalau ia punya cara lain yang lebih efektif dari membaca. Menurut saya, apapun alasan Anda, jangan hindari buku. Mendengarkan cerita dosen di kelas belum cukup. Wawasan masih perlu diperluas dengan membaca beragam buku teks. Apalagi buku teks zaman sekarang bagus-bagus, banyak contoh kasus yang mempermudah kita memahami suatu konsep. Tak punya uang untuk beli buku harusnya bukan alasan. Namanya mahasiswa harus berupaya kreatif. Beli buku bekas misalnya, meminta lungsuran senior, dan yang paling tepat tentu saja menjadi pengunjung tetap perpustakaan kampus. Memang, tak semua kampus punya fasilitas dan koleksi buku yang komplit; tapi percayalah, usaha keras akan membawa hasil!
  5. Mencatat.
    Kemudahan teknologi informasi membuat mahasiswa cenderung malas mencatat dan memilih menyalin slide presentasi dosen, di kelas tinggal duduk-duduk ngobrol. Menulis sebenarnya merupakan latihan untuk mengingat. Apalagi presentasi dosen biasanya hanya berisi poin-poin utama, justru penjelasannyalah yang perlu dicatat. Malas mencatat? Jangan heran kalau saat mempelajari kembali isi slide, Anda akan kesulitan memahami maksudnya. Ah, ya sebenarnya ada solusi lain bagi yang malas mencatat. Saya pernah memperhatikan satu teman saya yang sangat rajin. Tak hanya duduk di depan dan sesekali mencatat, ia juga merekam penjelasan dosen menggunakan kamera digitalnya (zaman itu belum masanya perekam suara portabel cuma dimiliki kalangan wartawan, ponsel pintar pun belum ada). Sederhana namun efektif. Alat perekam suara digital juga bisa digunakan. Punya ponsel pintar? Maanfaatkan, dong kepintarannya!
  6. Rajin berdiskusi
    Diskusi mengenai kuliah, tak seharusnya berakhir ketika waktu kuliah habis. Jangan segan minta waktu dosen untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami. Biasanya, di awal pertemuan dosen akan memberitahukan cara yang tepat untuk berhubungan. Ada yang suka ditemui secara langsung di kampus, ada yang lebih menyukai diskusi lewat e-mail, bahkan ada juga yang tak keberatan kongkow-kongkow dengan mahasiswa di kantin. Itu sudah menjadi isyarat yang sangat jelas yang sayangnya banyak diabaikan oleh mahasiswa.
    Berdiskusi di sini juga bisa berarti diskusi dengan teman-teman, terutama yang lebih pintar! Saat jadi mahasiswa dulu, saya tidak tergolong mahasiswa berprestasi cemerlang. Saat diskusi pun karena saya kurang pandai berbicara, saya memang hanya lebih banyak pasang kuping; namun sedikit banyak manfaatnya terasa juga. Menyimak diskudi mendorong otak ini mengingat kembali materi yang sudah diajarkan dan memahaminya lebih dinamis, tidak monoton hanya sekedar membaca.
  7. Bertemanlah
    Saran yang janggal? Tidak. Bisa jadi Anda adalah seseorang yang sangat individualistis, sangat introvert, dan merasa Anda dapat melalui segalanya sendiri. Maaf, Anda keliru. Teman memiliki banyak manfaat bagi kelangsungan perkuliahan Anda. Tentu saja, saya hendak menggarisbawahi di sini, teman bukan sembarang teman, melainkan teman yang mampu mendorong Anda menjadi pribadi yang positif. Perlu contoh? Oke. Dari sang sahabat, saya bisa mengetahui bahwa dosen A kerap mengulang pertanyaan serupa tiap ujian. Kumpulan soal-soal lama saya dapatkan dari dia, saya pelajari dan coba berlatih manjawab sebaik mungkin. Betapa senangnya ketika kata-katanya terbukti dan saya bisa mendapatkan nilai bagus.
    Sahabat saya juga banyak membantu hal-hal teknis yang sebenarnya sama sekali bukan urusan dia. Misalnya karena domisili saya di pulau yang berbeda dengan kampus, dialah yang mengurusi daftar ulang saya tiap semester, menemani perjumpaan dengan dosen, mengingatkan jadwal kuliah dan pembuatan tugas, memberikan tumpangan kamar dan makan saat mengerjakan tugas, mengurusi ijazah saat lulus, dan tak terhitung lagi banyaknya hal lain. Masih ditambah dengan kegembiraan bersama masa-masa kuliah dengan travelling ke sana ke mari mengunjungi tempat-tempat baru, shopping, berkenalan dengan lawan jenis… semuanya hanya bisa terlaksana dengan sahabat-sahabat di samping saya. Sahabat dan teman yang tepat akan menjadikan masa kuliah Anda tak terlupakan tanpa harus melupakan prestasi.

Saya yakin bukan cuma 7 kiat ini yang bisa dijalankan, pasti masih banyak kiat lain yang pernah Anda dengar demi mendapatkan nilai bagus di kampus. Perlu diingat, ini adalah kiat yang bisa Anda lakukan jika Anda mengutamakan proses ketimbang hasil. Dengan begitu, Anda tetap akan mendapatkan ilmu, walaupun gara-gara sesuatu dan lain hal Anda tak berhasil mendapatkan nilai terbaik. Jika Anda adalah tipe orang yang berorientasi pada hasil, berharap nilai bagus dengan cara instan, Anda baru saja menghabiskan waktu dengan sia-sia membaca tulisan saya (^^,)

Sukses untuk Anda!

1375144326426789

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s