Sidang skripsi? Tak perlu belajar, gladi lebih penting!

Gladi. Gladi kotor. Glasi bersih. Gladi resik.

Itulah beberapa istilah yang sering kita dengar dan lakukan ketika sebuah kegiatan yang melibatkan sejumlah orang hendak dilaksanakan. Gladi merupakan latihan untuk memastikan rencana kegiatan berjalan dengan mulus. Hendak mengadakan sebuah pagelaran busana, misalnya, semua pendukung acara tentunya harus paham betul bagaimana acara disusun dan bagaimana pula prakteknya. Kapan para peragawati harus keluar, seperti apa bunyi aba-aba dari MC, musik yang mana saja yang dipergunakan dan bagaimana urut-urutannya, dsb. Tanpa gladi, bisa dipastikan susunan acara cuma tinggal tulisan di atas kertas.

Hal serupa juga seharusnya dilakukan oleh mahasiswa yang hendak menjalani sidang skripsi. Lucunya, malah kebanyakan memilih belajar dalam beberapa hari menjelang hari H. Lho, apanya lagi yang dipelajari? Ketika sebuah penelitian dilakukan sendiri, bukan dilakukan orang lain, bukan juga orang lain yang menulisnya, maka semua hal akan dengan sendirinya menempel di kepala. Paling-paling hanya perlu menandai bagian-bagian tertentu dengan label kertas berwarna agar mudah dicari. Para penguji pun mengharapkan mahasiswa bisa menjawab di luar kepala berkat pemahamannya terhadap permasalahan, bukan sekedar membaca tulisan. Banyak terjadi, yang bersangkutan cuma bisa membolak-balik halaman skripsi saja ketika dilempari pertanyaan tanpa mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Oleh karena itu, seminggu sebelum sidang, lakukan rehearsal, alias gladi!

Bagaimana caranya?

Punya teman-teman dekat, kan? Nah, minta mereka bermain peran menjadi para penguji. Minta mereka menyusun pertanyaan selayaknya dosen penguji, dan berlatihlah menjawab hingga lancar. Kalau perlu, rekam gladi dalam bentuk video, agar sesudahnya bisa dikoreksi kembali dimana saja letak kekurangannya. Ulang dan ulang lagi sampai terlihat memuaskan.

Bagaimana menyusun pertanyaan yang baik?

Salah satu persyaratan mahasiswa untuk menempuh sidang skripsi biasanya adalah dengan menghadiri sekian sidang skripsi lainnya. Jeleknya, kebanyakan mahasiswa yang saya temui, cuma mengintip dari luar, enggan masuk ke dalam. Kalaupun masuk, tak mau berlama-lama. Sekedar dapat paraf kehadiran cukuplah. Sungguh rugi. Sungguh-sungguh merugi.

Dengan menghadiri sekian banyak sidang skripsi, seorang mahasiswa bisa mengetahui tak hanya bagaimana sidang berjalan. Namun juga memahami karakter dosen-dosen penguji yang berbeda-beda. Masing-masing punya penekanan terhadap hasil penelitian. Ada yang sangat teliti mengoreksi format penulisan, ada yang mementingkan metodologi, ada yang mempermasalahkan masuk akal-tidaknya sebuah kasus, ada yang selalu mempertanyakan kondisi detail di lapangan, dan macam-macam lagi, Apabila seorang mahasiswa rajin mengikuti jalannya sidang skripsi dari awal hingga akhir dalam kesempatan berlainan, maka ia takkan menemui kesulitan untuk membantu temannya melakukan gladi.

Tak kalah pentingnya, gladi akan sangat bermanfaat untuk mengurangi ketegangan, terutama melatih bicara bagi mereka yang mengalami kesulitan bicara di depan orang lain. Jangan tak percaya, dalam beberapa kasus yang benar-benar terjadi, mahasiswa yang menjalani sidang tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dari awal hingga sidang usai. Kondisi semacam ini dapat menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan yang bersangkutan tidak mengerjakan sendiri penelitiannya!

Nah, masih merasa perlu belajar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s