Cerita kue lapis dari negeri sebelah

Namanya berlibur, memang wajib namanya bawa buah tangan, sebagai tanda bawa kita ingat dengan yang ditinggalkan. Repot sedikit tak mengapa, yang penting bisa buat orang lain senang.

Nah, ceritanya, saat berkunjung ke kota Kuching di Sarawak, selain belanja kaus oblong untuk seisi rumah, saya tertarik untuk membeli makanan sebagai oleh-oleh. Ada kue lapis — yang mereka sebut kek lapis — yang begitu mudah ditemui dimana-mana. Dari tampilannya mengingatkan saya pada kue lapis tikar yang populer di daerah pesisir utara Kalimantan Barat. Kue lapis tikar sendiri resep awalnya lapis legit, cuma karena dibuat berwarna warni dengan beragam corak seperti tikar, makanya dinamai lapis tikar. Bahkan nama variannya pun sangat beraneka ragam untuk membedakan satu motif dengan motif lainnya.

Balik ke kek lapis sarawak itu tadi. Awalnya saya kurang tertarik karena pewarnanya terlihat begitu kuat, genjreng seperti rainbow cake yang berwarna cerah. Tetapi ternyata beda pembuat, beda gaya. Ada pula toko yang menjual dengan kek lapis tadi dengan warna lembut tidak mencolok mata. Setelah pilih-pilih dan icip-icip aneka contoh yang disediakan, akhirnya saya membeli lapis mutiara. Lapis rasa cokelat dengan totol-totol putih dari biskuit.

Dengan warna cokelat gelapnya, terbayang rasanya mirip dengan lapis belacan. Lapis belacan (belacan = terasi) jelas bukan dari belacan betulan. Namanya saja, berhubung warnanya persis belacan. Nah, kue ini juga masih satu keluarga dengan lapis legit, hanya bedanya ia memakai resep lapis susu yang menggunakan susu kental manis.

Saya pikir masih satu rumpun Melayu tentulah wajar ada kemiripan budaya, apalagi soal makanan. Cuma memang kalau di Kalimantan Barat, kami mengonsumsi lapis hanya di hari raya. Spesial. Berhubung harganya luar biasa mahal hahahaha….Tapi kalau mau cari di hari biasa, ada juga beberapa toko kue yang khusus menyediakannya untuk keperluan buah tangan. Rasanya jelas jauh lebih enak dan tak bisa dibandingkan dengan  lapis legit buatan pabrik yang banyak di supermarket. Ternyata, bayangan saya keliru. Rasanya berbeda sama sekali. Malah ada rasa pahit cokelat yang kurang cocok di lidah.

Mungkin lain kali kalau ke sana lagi saya yang bawa lapis legit buat jualan di sana ya?

(^^,)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s