Sepeda di Belanda

Belanda adalah surganya pesepeda. Saya sudah lama dengar itu. Namun ketika menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, kekaguman tetap saja muncul. Warga bersliweran dengan sepedanya masing-masing di jalur khusus sepeda. Tak jarang mereka ngebut mengejar waktu. Jangan membayangkan mereka mengenakan kostum pesepeda lengkap dengan helmnya! Mereka berpakaian sesuai dengan tujuan mereka pergi. Yang bekerja ya lengkap dengan jasnya, yang berjalan-jalan dengan keluarga tentu beda lagi.

Di sebuah stasiun. Wanita ini akan membawa serta sepedanya ke dalam kereta.

Di sebuah stasiun pada jam pulang kerja. Wanita ini akan membawa serta sepedanya ke dalam kereta.

Di pusat kota. Sebuah sepeda tersandar ditinggalkan pemiliknya.

Di pusat kota. Sebuah sepeda tersandar ditinggalkan pemiliknya.

Melihat pengendara motor berkeliaran, bisa terhitung momen yang cukup jarang saya alami. Umumnya para komuter — mereka yang bekerja di kota yang berbeda dengan tempat tinggalnya, memilih naik kereta untuk menghindari lalu lintas yang padat, sepedanya pun dibawa serta. Pemandangan orang menggotong sepedanya naik eskalator lazim terjadi. Sudah biasa orang membawa serta sepedanya ke dalam kereta, berhubung di setiap kereta disediakan gerbong khusus untuk pesepeda. Sisanya, memilih untuk memarkirkan sepedanya di stasiun terdekat.

Parkir sepeda yang penuh di sebuah stasiun kereta.

Parkir sepeda yang penuh di sebuah stasiun kereta.

Saya sempat berpikir, dengan banyaknya pengguna sepeda, pastilah sepeda mereka keren-keren. Berlomba-lomba untuk tampil unik dengan miliknya masing-masing. Dugaan saya salah! Kebanyakan sepeda yang mereka pakai adalah jenis sepeda lama yang sering disebut sepeda onthel oleh orang Indonesia. Tampaknya mereka lebih sadar fungsi daripada gaya (langsung deh keinget tren sepeda lipat dan sepeda fixie yang…. ah, sudahlah….).

Yang penting fungsinya!

Yang penting fungsinya!

Seorang nenek menembus gerimis dengan sepedanya.

Seorang nenek menembus gerimis dengan sepedanya.

Bangunan khusus untuk parkir sepeda di sebuah kantor.

Bangunan khusus untuk parkir sepeda di sebuah kantor.

Hal yang juga membuat saya terkesan adalah bagaimana mereka memaksimalkan fungsi sepeda sebagai alat transportasi yang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membonceng anak-anak, membawa barang dan tentunya membawa hewan peliharaan. Boncengan dan keranjang dimodifikasi sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Seperti di foto-foto ini misalnya:

Sepeda memang betul-betul menjadi alat transportasi kebanggaan negeri keju ini, karena bisa dibilang tak ada duanya di dunia, setidaknya di Eropa. Sempat saya bertanya pada teman-teman saya yang orang Eropa, mereka mengakui, hanya di Belandalah jumlah pesepeda demikian banyaknya. Perhatian pemerintah pun memadai. Tempat parkir sepeda ada dimana-mana. Keselamatan mereka terjamin dengan adanya jalur (apa lajur, sih?) dan traffic light khusus pesepeda. Mereka pun patuh dengan aturan yang ada. Saat lampu menyala merah, sepeda pun berhenti walau tak tampak kendaraan lain mendekat.

Tak hanya di jalan raya, pemerintah setempat juga membangun jalan-jalan sekitar pemukiman dengan baik dan layak untuk para pesepeda. Jalur khusus sepeda semacam itu disebut fietspad, salah satunya bahkan dinamai salah satu nama pejuang hak asasi manusia, Munir. Saya sempat langsung mengunjungi Munirpad ini menemani rekan saya seorang wartawan asal Indonesia yang bermaksud menulis tentangnya. Sempat pakai acara nyasar segala gara-gara bingung baca Google Maps. Klik di sini kalau mau baca tulisannya ya… hehehe…

Munirpad di Den Haag.

Munirpad di Den Haag.

Andaikan saja Pontianak tidak berada di bawah garis khatulistiwa, sudah pastilah saya akan mengikuti jejak orang-orang Belanda ini bersepeda kemana pun jua. Pastilah saya jadi langsing dan singset seperti wanita-wanita di sana, hahahaha…. Sungguh, wanita berlemak jarang saya jumpai di Belanda! Mereka tampak begitu fit dan tegap ketika berjalan. Sayang, saya tidak sempat mencoba bersepeda di sana. Doakan saya bisa kembali ke sana lagi, ya!

Sebagai penutup tulisan ini, ada dua foto lagi yang saya ambil, yang tentulah menggambarkan istimewanya sepeda di negeri itu.

Sepeda berderet rapi di pusat kota.

Sepeda berderet rapi di tepi kanal.

Bukan mobil, bukan motor, tetapi sepeda yang berbaris rapi di depan stasiun.

Bukan mobil, bukan motor, tetapi sepeda yang berbaris rapi di depan stasiun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s