Kuliah di Komunikasi, Mengapa?

“Saya ingin jadi wartawan.”

“Saya suka berkomunikasi.”

“Saya ingin jadi humas.”

“Sepertinya yang dipelajari menarik.”

Macam-macam jawaban mahasiswa baru ketika saya lempar pertanyaan itu. Sayangnya lebih banyak yang memilih diam.

Diam dengan senyum.

Diam sambil menunduk.

Diam tanpa ekspresi.

Kenapa ya? Merasa ragu dengan pilihannya sendiri?

Menariknya, seorang mahasiswa (yang saya harus panggil dulu namanya agar mau bicara) menyebutkan sebuah alasan yang kurang lebih menjadi kesimpulan saya saat kuliah dulu mengapa belajar di Komunikasi begitu penting. Ia mengatakan bahwa ia tak begitu pandai berbicara dan menyampaikan pendapat sehingga ia merasa perlu untuk mempelajarinya secara khusus.

Konsep utama dalam ilmu Komunikasi adalah penyampaian dan pemaknaan pesan. Sungguh keliru kalau ada yang menyangka kuliah di Komunikasi hanya cocok untuk orang-orang yang suka dan pandai bicara. Memang, ada mata kuliah khusus yang mempelajari soal teknik bicara di depan orang. Ada kampus yang menamainya Public Speaking, ada juga yang memilih judul Retorika. Sesungguhnya penyampaian pesan bisa dilakukan juga dengan tulisan, gambar, video, animasi dan teknologi lainnya tanpa harus buka mulut di depan orang banyak. Kita pun menyampaikan pesan baik secara sengaja maupun tak sengaja melalui gerak gerik tubuh dan ekspresi wajah. Bahkan, diam juga menyiratkan suatu pesan yang perlu dimaknai.

Jika ada yang menyangka lulusan Komunikasi adalah calon-calon wartawan, memang tak salah, namun tak pula sepenuhnya benar. Seorang lulusan Komunikasi bisa duduk di posisi mana saja di sebuah institusi media, tak hanya berada di ujung tombak perusahaan seperti jadi wartawan atau penyiar. Ruang lingkup Komunikasi sungguh luas, bahkan ketika seorang mahasiswa hendak magang di sebuah perusahaan, menurut saya, tak mesti ia melamar hanya ke institusi media. Jika ia hendak memiliki penghasilan sembari berkuliah, tak mesti ia jadi wartawan. Bisa-bisa malah kuliahnya gagal kelar karena terlalu sibuk meliput berita (◞‿◟)

Mari saya berikan sedikit ilustrasi soal hubungan Komunikasi dan dunia kerja pada umumnya. Taruhlah seorang mahasiswa Komunikasi melamar sebuah lowongan pelayan di sebuah rumah makan, apakah ia bisa menerapkan apa yang ia pelajari di bangku kuliah untuk kesehariannya? Tentu bisa!

Ketika ia mampu melayani para pelanggan yang punya beragam keluhan dan bermacam sikap dengan ramah, penuh senyum dan pandai berbasa-basi, berarti ia berhasil menerapkan apa yang dipelajari di dalam mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi dan Psikologi Komunikasi.

Ketika ia mampu memberikan penjelasan memuaskan kepada para pelanggan dan membuat mereka berniat kembali lagi di lain waktu berarti ia mampu mempraktekkan apa yang muncul di dalam mata kuliah Public Relation dan Marketing Communication.

Ketika ia berinisiatif untuk melakukan promosi mengenai menu di tempatnya bekerja melalui media sosial pribadi, ia bisa menerapkan teknik yang ia pelajari dalam Dasar-Dasar Fotografi untuk membuat foto makanan yang mengundang selera dan mencobakan teknik Desain Komunikasi Visual untuk mendesain tampilannya secara lebih menarik. Saat ia memilih media sosial yang tepat dan melengkapi gambarnya dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa untuk membujuk rayu calon pengunjung, ia menjalankan apa yang ia telah pelajari dari Penulisan Humas dan PR on the Internet. 

Luar biasa bukan?

Jadi, jangan lagi ada keraguan untuk berkuliah di Komunikasi, ya! 〈( ^.^)ノ

*catatan: mata kuliah yang ditawarkan berbeda di setiap universitas dan untuk mata kuliah yang serupa bisa memiliki nama yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s