Twitter sudah Sepi(?)

Minggu lalu, ketika membuka mata kuliah Digital PR, saya menugaskan seisi kelas mengerjakan sebuah proyek Public Relation menggunakan 2 platform sosial media, terserah mau pakai yang mana. Pilihan utama mereka jatuh pada Instagram yang kabarnya sekarang sedang “hits” di kalangan anak muda, dan masih sibuk berdebat untuk media sosial satunya. Antara Facebook, YouTube, atau lainnya. Sempat tersebut oleh salah seorang dari mereka: Twitter, namun segera dibantah oleh teman-temannya. Kabarnya sekarang Twitter tak seramai dulu, orang-orang lebih banyak pakai Path.

Saya sebenarnya kurang paham mengenai apa yang dimaksudkan “tidak ramai” oleh mereka. Apakah tak ramai diskusinya atau tak ramai penggunanya, atau bagaimana? Menurut para mahasiswa, tak ramai alias sepi di sini dalam arti rata-rata penggunanya sudah tidak aktif lagi. Sepertinya benar, di linimasa saya sendiri, ada beberapa pengguna yang muncul hanya ketika mereka melakukan cross-post dari tempat lain, seperti Instagram dan Path.

Tetapi, saya sendiri sebagai “anak Twitter” tidak merasakan sepi yang para mahasiswa rasakan. Berhubung selama ini lebih banyak mengikuti akun-akun yang memberikan informasi, pengetahuan dan wawasan buat saya, yang umumnya terjaga kontinuitasnya, sehingga linimasa saya selalu ramai. Dulu, memang saya sempat senang sahut menyahut dengan teman-teman di Twitter, namun itu tak berlangsung terlalu lama. Saya merasa dengan 140 karakter Twitter bukanlah wadah yang pas untuk mengobrol ke sana kemari. Apalagi setelah muncul aplikasi Whatsapp dan Line, obrolan bisa berlangsung kapan saja secara privat, dalam arti berlangsung hanya antara pihak-pihak yang ikut serta dalam perbincangan, tak perlu memenuhi laman profil Twitter seperti yang sering dilakukan orang-orang.

Saya pikir, mereka yang merasa Twitter sepi dan pindah ke Path, adalah karena memang mereka tipe-tipe pengguna yang ingin lebih sosial, yang ingin terhubung dengan teman-temannya dan bisa saling mengomentari. Yah, mungkin seperti di Facebook dululah… Di awal kemunculan Facebook, saya juga pengguna yang terhitung aktif, sehari saja tak buat status baru, sepertinya ada yang kurang. Sebagai mantan pengguna Friendster, saya merasa Facebook saat itu begitu menarik. Begitu banyak game online yang ditawarkan (favorit saya saat itu adalah (fluff)Friends!), dan saya bisa mengumpulkan teman-teman lama zaman sekolah dulu. Saya mulai mengurangi aktivitas di Facebook ketika mulai bermunculan orang-orang yang saya tidak dan kurang  kenal (dan terpaksa berteman karena tak enak menolak. Duh!). Sekarang, Facebook sudah sangat berbeda sejak ia berusaha menjadi pusat internet. Yang bikin lebih tak nyaman? Facebook kini berisi terlalu banyak diskusi bernuansa politis dan agama yang terlalu melelahkan jiwa (deactivated!).

Berdasarkan pengamatan saya, masing-masing media sosial memiliki penggunanya sendiri-sendiri. Tiap media sosial punya karakteristik dan akan diikuti oleh orang-orang yang sesuai. Kita saja sebagai pengguna yang seringkali kurang memahami tipe-tipe media sosial yang seharusnya digunakan. Sebagai contoh, para pedagang daring (online) suka-sukanya saja merambah semua media sosial apapun bentuknya untuk berjualan padahal sudah ada platform yang sesuai. Contohnya, kalau mau berjualan, gunakanlah platform online mall  seperti rakuten, olx, elevenia, tokopedia, dsb. Kalau mau lebih serius, buatlah situs sendiri. Mudah, murah bahkan bisa gratis jika menggunakan platform blog, cukup menggunakan plugin tertentu (di WordPress bisa dibuat dengan mudah tanpa perlu mengerti pengkodean). Media sosial bisa dipergunakan untuk berpromosi secara rutin, bukannya melakukan negoisasi dan transaksi di sana!

Gara-gara berjualan tak kenal tempat ini, tak heran banyak pengguna serius Instagram misalnya, sungguh risau dengan para pedagang daring yang numpang promosi akun jualannya di kolom komentar. Saya saja menghindari menggunakan aplikasi resmi Twitter agar tak terganggu dengan promoted twit dari para pemasang iklan; bagaimana rasanya kalau ada yang tebal muka numpang promo di Instagram ya?

Ah, ya jadi begitulah. Tiap orang pasti punya preferensinya sendiri. Ada yang sampai sekarang setia ngeblog dan rajin blog-walking, tak merasa perlu ikut kegaduhan media sosial. Sebaliknya tentu ada juga yang selalu penasaran setiap melihat ada media sosial baru dan mencoba mendaftar. Kalau saya, masih setia scrolling linimasa Twitter cari info baru, scrolling posts di dashboard Tumblr saat santai dan sesekali menulis di WordPress. Kamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s