Negeri Asap

//platform.twitter.com/widgets.js

Mata pedih, napas sesak, tenggorokan perih, dan batuk-batuk adalah keluhan seragam warga kota Pontianak – kota yang dilanda asap. Anak sekolah sudah lama diliburkan, kegiatan olah raga di luar ruangan ditiadakan, dan sudah ada kampus yang mulai menyuruh mahasiswanya belajar di rumah. Ah, ya tentu saja, bandara sudah beberapa hari ini tutup.

Saya sebagai masyarakat awam betul-betul tak paham bagaimana “kebakaran” hutan ini menjadi agenda rutin. Sudah jadi rahasia umum, kebakaran ini adalah hal yang disengaja untuk meluaskan lahan. Entah oleh siapa. Pihak pengusaha dan petani tradisional sama-sama tak mau disalahkan. Tapi ya masak iya petani tradisional yang jumlahnya tak seberapa bisa mengasapi sepertiga bagian negara ini?

Mungkin karena kebanyakan nonton film, saya jadinya mikir, apa iya titik kebakaran tak bisa dideteksi berada di tanah siapa? Satelit zaman sekarang kan makin canggih. Okelah mungkin tidak seperti di film Enemy of the State–ketika seseorang yang dikejar-kejar pihak pemerintah harus susah payah melarikan diri dan bersembunyi karena satelit pelacaknya sungguh canggih–masak sih cuma mengecek koordinat titik api ngga bisa? Kan bisa dilacak sumbernya di sebelah mana, berdekatan dengan lahan siapa atau kebun siapa. Mungkin saya terlalu lugu, tetapi logikanya, jika ini terus berulang setiap tahun (saya bahkan sampai lupa kapan ini mulai terjadi, rasanya sudah sekitar 10 tahun belakangan ini kami menghirup udara berasap) tidakkah seseorang dari sekian banyak pejabat pemerintahan punya ide untuk mengatasi hal ini secara nyata? Bahkan sudah tak punya malu ketika ditegur negara-negara tetangga. Ibarat sedang bakar sampah di halaman rumah, adalah wajar ketika tetangga sebelah merasa terganggu jika pembakaran dilakukan tak kenal waktu dan berlangsung terus menerus. Anehnya, kok malah ada warga Indonesia yang balik marah ketika negara lain protes. Wajar mereka protes! Apa mesti menunggu mereka mengirimkan bala bantuan pemadaman api seperti sebelum-sebelumnya? Memalukan dan menunjukkan kita tak mampu bertanggung jawab atas masalah sendiri.

Dugaan saya tidak salah, data kita memang punya. Pemerintah sebenarnya tahu pihak-pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab atas bencana nasional bahkan sudah terhitung regional ini. Dasar hukum pun tentu telah dengan jelas dibuat. Entah bagaimana eksekusinya. Baca-baca perkembangan kasus ini di media daring, kabarnya sudah mulai ada yang ditangkapi dan diperiksa. Harapan kami kepada pemerintah sungguh klise: agar berpihak kepada kepentingan rakyat banyak. Kalau bukan pemerintah yang melindungi rakyatnya, siapa lagi?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s