Salah Pilih Jurusan, lalu Bagaimana?

Pagi itu, seorang mahasiswa datang menghadap saya, menanyakan bagaimana caranya jika ia hendak pindah prodi (program studi), karena ia merasa telah salah memilih. Saya jawab bahwa ia harus menunggu setahun, menunggu tahun ajaran yang sekarang ini habis, baru boleh pindah ke prodi lain. Itu pun dengan catatan, prodi yang bersangkutan bersedia menerima dan hanya boleh ke prodi yang juga berakar dari ilmu sosial. Mendengar jawaban saya, dia tampak begitu kecewa dan menyatakan keinginannya untuk segera pindah.

Dua tahun lalu, saya juga pernah menerima kedatangan mahasiswa prodi lain yang mengungkapkan keinginannya untuk pindah ke prodi Komunikasi dengan alasan tak tahu prodi ini telah dibuka. Masuk akal, mengingat saat itu prodi Komunikasi menerima mahasiswa setelah SNMPTN berlangsung sehingga tak banvak yang mengetahui keberadaan prodi ini. Ketika mengetahui kemungkinan pindah bisa dilakukan setelah satu tahun, ia menyambutnya dengan suka cita dan benar-benar datang setahun kemudian. Kini, ia pun menjadi salah satu mahasiswa yang cukup menonjol di kelasnya.

Nah, kembali ke mahasiswa yang kecewa itu tadi. Saya tanya, apa sebenarnya yang mendorong dirinya untuk angkat kaki. Tercetus olehnya masalah pergaulan, soal senior. Saya kejar lagi, kuatir gara-gara senior yang jumawa, juniornya jadi tak betah berkuliah, bisa jadi kasus! Eh, jawabannya malah berubah, ia mengaku introvert dan sulit bergaul. Akhirnya saya membawa dia menghadap Pembantu Dekan III untuk mendiskusikan masalahnya. Setelah dinasihati panjang lebar, raut wajahnya  dan gerak-geriknya tetap seperti semula: tanpa gairah. Sayang.

Salah pilih jurusan adalah hal yang lazim terjadi. Pertama, akibat kurang informasi. Calon mahasiswa tidak terlalu serius untuk berkuliah, sekedar mengira-ngira prodi yang akan diambil tanpa mengetahui sebenarnya apa yang akan ia pelajari kelak saat berada di kampus. Padahal, dengan mengetikkan nama prodinya saja di google, ratusan artikel siap memberikan informasi! Heran juga, kabarnya generasi milenial ini tak lepas dari internet, kok cari hal yang sangat mendasar begini saja tak dilakukan, ya? Asal tahu saja, cukup banyak yang menyangka mahasiswa di Prodi Komunikasi ini belajar komputer, lho! Padahal yang satu ilmu sosial, yang satu ilmu eksakta. Sadar atas kekeliruan ini biasanya muncul ketika mahasiswa ikut orientasi. Menjadi sangat konyol ketika justru anak lulusan IPS di SMA-nya berharap akan belajar komputer di Komunikasi. Mending les komputer saja dek, kalau begitu maunya.

Penyebab kedua salah pilih jurusan: terpaksa mengikuti perintah orang tua. Umumnya mahasiswa di Indonesia berkuliah dibiayai oleh keluarganya. Tak heran jika sebagian orang tua memaksakan kehendaknya kepada si anak, menentukan si anak harus kuliah apa dan dimana. Demi menyenangkan orang tua, si anak biasanya manut. Kadang cerita berakhir bahagia, kadang tidak.

Ketiga, sekedar ikut-ikutan. Entah itu ikut tren, ikut teman, ikut gebetan atau ikut-ikutan lainnya tanpa alasan jelas, yang penting bisa kuliah seperti orang lain.

Mahasiswa biasanya merasa salah pilih ketika menyadari bahwa mata kuliah yang ia pelajari bukan yang menjadi minatnya. Kalau sudah demikian, lalu bagaimana? Pilihannya ada dua, lanjutkan atau hentikan. Dua-duanya jelas punya konsekuensi, dan sudah seharusnya dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan.

Apabila seseorang sudah memiliki cita-cita dan keinginan yang jelas, baik untuknya memberanikan diri untuk pindah ke jurusan lain, bahkan banting setir ke bidang lain. Misalnya begini, semula seorang mahasiswa terdaftar di program studi Ekonomi Pembangunan, kemudian ia menyadari minatnya tak di sana dan berkeinginan kuat untuk menjadi seorang penulis, maka program studi Jurnalistik bisa menjadi wadah baginya untuk menulis — juga di sastra Indonesia, tak kalah menariknya!

Saya juga cenderung mendorong mahasiswa yang lemah di bidang tertentu untuk segera menyerah di semester pertama ketimbang lambat selesai dan ujung-ujungnya DO. Misalnya, lemah di matematika tetapi mendaftarkan diri untuk belajar di program studi Sistem Informasi, sudah dipastikan yang bersangkutan akan kewalahan ketika harus mengerjakan pengkodean. Ketahui batasmu sendiri!

Di sisi lain, jika keinginan untuk pindah ke jurusan idaman tak mungkin tersampaikan, misalnya karena harus bersekolah di lain kota sementara biaya tak mendukung, cobalah untuk meredam kekecewaan dengan meyakini bahwasanya kuliah apapun, kuliah dimanapun tak menjamin 100% kualitas seseorang ketika lulus. Semua kembali kepada kesungguhan yang bersangkutan, apakah betul-betul ingin menambah wawasan dan memperluas jejaring ataukah sekedar memiliki gelar? Di usia saya yang sudah tak bisa dibilang belia ini, saya menjumpai begitu banyak orang yang berhasil di dunia kerja yang jauh berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Sebaliknya, banyak juga yang karirnya biasa-biasa saja walaupun pendidikannya sangat mendukung. Zaman sekarang, perusahaan mencari orang-orang yang memiliki karakter, sifat, sikap tertentu sesuai kebutuhan, bukan sekedar gelar sarjana yang menempel di nama. Orang yang punya karakter, sifat, dan sikap sesuai harapan perusahaan, akan dengan mudah dibentuk dan dilatih.

Yep, dimana kita bersekolah jelas akan memberi nilai tambah. Ingat, lho, nilai tambah, bukan nilai utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s