Percaya Hoax = Malas

Orang yang percaya dengan kabar burung, atau bahasa kerennya orang sekarang: hoax, adalah pemalas. Itu kesimpulan saya. Mengapa saya sampai pada kesimpulan demikian? Oh, ada alasannya tentu.

Zaman pra internet, kabar burung, rumor, isu, kabar bohong, hoax, dan istilah sejenis sebenarnya sudah berwujud. Sudah ada. Tetapi mengapa orang-orang kok baru sekarang ini ribut-ributnya?

Karena kita berada di era informasi. Masa ketika informasi begitu mudah didapatkan. Masa ketika informasi beredar begitu cepat. Masa ketika sepotong informasi yang menanyakan “sudah makan, belum?” adalah jauh lebih penting dari sepiring nasi dan lauk pauk untuk makan itu sendiri. Masa ketika orang lebih memilih mengecek ponselnya ketika membuka mata di pagi hari ketimbang mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa yang masih memberikan nafas kehidupan.

Kita tenggelam dalam lautan informasi yang bermunculan di koran yang kita baca, radio yang kita dengar, iklan yang memaksa kita menoleh , obrolan warung kopi yang penuh gosip hingga beragam kabar yang berebut memenuhi layar ponsel.

Dulu, di era pra internet, orang memastikan suatu kabar itu nyata adanya atau palsu, dengan mengeceknya di media massa. Media massa berperan sebagai sumber informasi terpercaya masyarakat. Kalau tidak ada, maka kabar itu akan dianggap kabar burung. Namun, bukan berarti tak ada masalah. Sebagian orang tak bisa membedakan mana terbitan terpercaya, mana yang isinya lebih banyak berita sensasional belaka.  Lucunya, media massa justru sekarang berlomba memberitakan kegaduhan media sosial yang belum jelas ujung pangkalnya. Yang penting publikasi dulu selekasnya, kalau salah tinggal diralat belakangan!

Ini adalah zaman ketika setiap orang dapat membuat berita dan mempublikasikannya sendiri. Saya bisa. Anda bisa. Ada begitu banyak platform yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Tak hanya teks tertulis di suatu situs yang bisa dibuat sendiri, tetapi juga bisa berbentuk video, audio, foto, animasi, bahkan gabungan antara semuanya.  Menyebarluaskan beritanya pun lebih mudah lagi. Aneka grup chat yang menjadi saluran kita berbagi cerita.

Coba ingat-ingat, kapankah Anda menerima pesan dengan embel-embel “copas dari grup sebelah” lalu mencoba mengklarifikasi apakah kabar yang dibagikan itu benar atau bohong? Kabar apa saja, tak mesti yang berbau politik atau agama. Pernahkah merasa penasaran untuk mengecek: benarkah uang logam yang diselipkan di pintu mobil adalah modus untuk mencuri, misalnya? Ataukah langsung percaya saja karena merasa informasinya bermanfaat?

Jangan-jangan, tak pernah.

Hoax alias kabar palsu, memiliki beragam bentuk. Tak hanya yang berisi hasutan, kabar palsu juga bisa mengambil bentuk seperti tips-tips kesehatan yang kelihatannya sangat bermanfaat, padahal bisa jadi menyesatkan. Sebenarnya tak sulit untuk mencoba cari tahu kebenaran suatu berita. Tinggal googling saja, dan baca berita dari media-media ternama, bandingkan isinya.

Kabar mengenai orang terkenal yang meninggal padahal tidak, adalah satu contoh hoax yang sering muncul. Dari Pak BJ Habibie hingga Ratu Elizabeth II pernah jadi korban. Orang-orang seolah berlomba menyampaikan rasa duka cita di media sosial dan grup chat, agar dianggap paling update (?) tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Itu juga sebabnya sering terjadi perang di media sosial, ketika seseorang hanya dikutip salah satu twitnya oleh seseorang lain yang tak sepakat dengan pandangannya tersebut, yang langsung menghakiminya begitu kejam dan diamini ribuan netizen lainnya. Padahal, kalaulah kita mau sedikit repot, cobalah kunjungi profil penulis twit tersebut, lalu baca pemikirannya secara lengkap. Apakah memang demikian yang ia maksud? Seringkali kita menilai lepas dari konteks dan langsung menuduh orang lain buruk. Betulkah?

Sungguh, kalau demikian cara kita menjadi seorang rakyat di internet, tak pantas rasanya kita menyandang sebutan sebagai netizen, sementara sikap kita tak mencerminkan sebagai orang yang melek internet. Mending belajar lagi apa itu media literacy dan digital literacy.

Jangan sampai kita hanyut dibawa banjir informasi. Tahan diri untuk menyebar informasi apapun yang tak membawa manfaat. Ingin berbagi? Pastikan cek dulu kebenarannya. Jangan malas!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s